Rabu, 11 September 2013

Hijab Class and Talkshow with Jenahara dan Kompetisi Futsal

hijab class and talk show
Dentistry UMS proudly present: "Hijab class with Jenahara Nasution" 
Sunday, 22 September 2013 10.00AM-END. 
At Gelanggang Pemuda Bung Karno Manahan Solo. 
Event: 
-Motivation Class 
-Tutorial hijab 
-Make Up session by wardah
-Acoustic
-Photo Session*
-Fashion and food bazaar.
HTM : Presale Rp.40.000. On the spot Rp.50.000 (Include snack, voucher by wardah). More info : 08813158527(asti) 085223315454 (latty)
Twitter:@HMPKGUMS Facebook: Hmp Kedokteran Gigi Ums








kompetisi futsal
Ayo ikuti futsal competation Diesnatalis KG UMS Ke-3 Rebut hadiah total 4.5 JUTA rupiah + Trofi kejuaraan pendaftar terbatas,@200 ribu/ tim.pertandingan di pimpin oleh Wasit Futsal Lisensi. at Manang sport.Ayo Daftarkan tim anda segera! 

Senin, 26 Agustus 2013

Berkibarlah Bendera Percaku


Angin semilir mengibaskan bendera kecil yang ia pegang. Bendera dari kain perca itu hasil jahitan tangan sendiri. Jahitannya terlihat tak rapi. mingser sana-sini. Dipandanginya bendera itu dengan saksama, seperti melihat benda keramat yang tak boleh rusak.
“Obiiieeet!!! Sini nak, Ibu perlu bantuan!”
Obiet meletakkan sang saka di sela-sela dinding kayu rumahnya.
“Baik-baik di sini ya, jangan pergi kemana-mana. Hanya kau yang kupunya. Mengerti!” katanya.
Kemudian ia berlari menemui sumber suara. Membantu Ibunya menimba air untuk mencuci pakaian. Ia berhenti setelah melihat pakaiaan Bapaknya.
“Kok berhenti nak? Ayo airnya ditambah!”
“Obiet inget Bapak. Bapak akan pulang kan Bu?” Ia menatap Ibunya, berharap ada jawaban seperti yang ia inginkan.
Ibu menghentikan pekerjaannya dan menghela nafas. “ Pasti nak, pasti. Bapak kan sudah janji to sama Obiet, kalau Bapak akan segera pulang.” Ibu memaksa tersenyum.
“Nanti Obiet nggak mau jadi tentara!”
“Memangnya kenapa Biet? Tugas tentara itu banyak pahalanya lho. Bisa melindungi bangsa dan negara kita ini.”
“Obiet nggak mau anak Obiet nanti berharap-harap Obiet untuk pulang, tapi belum tentu akan pulang. Hidup ataupun mati.”
Ibu tersenyum dan memberi isyarat untuk kembali menimba air. Obiet kembali melakukan aktifitasnya dengan kesal. Kesal karena tangan kecilnya sudah harus dipekerjakan menimba air, kesal karena Bapak tak kunjung pulang. Padahal Bapak janji akan segera pulang. Dan membawakan hadiah untuk Obiet. Sebuah bendera merah putih besar untuk dikibarkan di depan rumah seperti yang ada di depan markas Bapak.
Saat Obiet sedang sibuk dan tenggelam dalam pemikirannya tentang bendera merah putih besar, seorang anak iseng mengambil bendera kecil kain perca milik Obiet yang ia sematkan di tembok kayu. Ia memainkannya, membawanya pergi berlarian.
Beberapa saat kemudian Obiet muncul. Ia melihat anak itu menjadikan benderanya sebagai pembungkus buah sawo milik tetangga depan rumah Obiet. Sesaat ia tak menyangka kalau itu adalah bendera miliknya, kemudian ia menengok ke arah tempat dimana bendera ia sematkan sebelumnya. Kosong.
“Ya,, tak salah lagi, itu pasti benderaku. Pasti!”
“Hoi! Kembalikan benderaku!” teriaknya sambil menghampiri si pencuri bendera.
Anak kecil itu menyembunyikan bendera Obiet di belakang punggung. “Tidak, tidak, ini punyaku!”
“Kamu dapat darimana ha? Dari rumahku kan?” Obiet menyeringai galak. Wajar kalau ia semarah itu, bendera perca itu ia jahit sendiri. Kainnya ia dapat dari sobekan bendera di jalan besar. Sepertinya Belanda lah yang telah menyobek bendera itu dan seenaknya saja mereka buang di tanah. Obiet memungut sisa sobekan dan menjahitnya hingga menjadi bendera yang lebih kecil.
Anak kecil itu lari menjauhi Obiet, yang kemudian dikejar balik oleh Obiet.
“Tunggu!!! Serahkan benderaku!”
Beberapa meter kemudian anak itu tertangkap. Namun kembali lepas karena badannya yang licin karena keringat. Ia bertelanjang dada, hanya memakai celana pendek lusuh banyak tambalan. Namun beberapa langkah berlari anak kecil itu jatuh terperosok. Obiet segera datang membantunya berdiri.
“Nah ketangkap kau sekarang. Sini kembalikan benderaku.”
“Tapi.. Tapi.. Bagaimana caranya aku membawa sawo-sawo ini pulang ke rumah?”
Obiet mengamati penampilan anak itu. Ia memandang beberapa sawo yang dibungkus bendera. Obiet melepas baju dan memberikannya kepada si anak.
“Ini, pengganti bendera punyaku. Bungkus saja dengan ini.” Diserahkanlah bajunya.
Anak kecil itu ragu-ragu menerima dan memindahkan semua sawo ke baju Obiet.
“Sudah, sana pulang! Jangan sampai aku melihat kau mencuri barang yang bukan milikmu!”
Anak kecil itu mengangguk mengerti dan segera mengambil langkah seribu. Sesampainya di rumah, Ibu menanyakan kemana perginya kaos anaknya. Obiet menjawab seenaknya.
“Hanyut di kali.” Ia langsung masuk kamar.
***
Malam ini Ibu mengajak Obiet ke sebuah pertunjukan wayang, tentunya setelah rengekan Obiet yang tak teredamkan. ia harus datang, karena semua teman sepermainannya datang melihat. Tak lupa bendera kesayangannya ia bawa. Di sana, banyak sekali orang yang menonton, dari pejabat desa, orang-orang Belanda sampai pribumi-pribumi biasa.
“Idiihh... apaan tuh kusut amat? Sapu tangan?” seorang anak sebaya dengan Obiet berpenampilan rapi menghampirinya.
“Enak aja, kau tak tahu ini apa? Bendera merah putih! !!” Obiet mengangkat tinggi-tinggi benderanya.
“Hahaha... Eh, anak perwira! asal kau tahu saja ya, kau telah menjelek-jelekkan negara kita dengan masih menyimpan kain kusut seperti itu. Apa perlu aku mintakan ayahku uang untuk membelikan bendera untukmu. Ayahku kan jenderal, jadi ia bisa beli apa saja!”
“Ini adalah milikku yang berharga, aku mendapatkannya dengan jerih payahku sendiri, aku menjahitnya dengan tanganku sendiri, dan aku mempertahankannya dengan tanganku sendiri. Itu sudah lebih dari cukup daripada kau yang suka minta-minta sama Ayah jenderalmu itu!”
“Dibilangin nyolot ya!”
Anak itu melayangkan pukulan ke pipi Obiet. Ibu yang tadi sedang mengobrol kaget anaknya tersungkur ke tanah.
“Nak Cakka! Cukup, apa yang kamu lakukan pada Obiet!”
Obiet berdiri dan memeluk Ibunya. “Ia mengejek benderaku Bu!” katanya.
“Nak Cakka, kamu tidak boleh kasar kepada teman sendiri,” nasihat Ibu.
“Dia bukan temanku! Dia hanya anak seorang perwira!”
“Walaupun Ayahnya seorang perwira, Obiet akan tetap bangga. Karena tanpa perwira-perwira siapa yang akan bertempur melawan Belanda? Memang Jenderal adalah pangkat tinggi, seperti Ayah nak Cakka, tapi kalau Jenderal berperang sendirian, tak akan kuat melawan penjajah negeri ini. Dengan kepintaran Jenderal ditambah keahlian perang perwira, merdekalah Indonesia kita ini, dan mereka akan segera pergi dari sini.”
Cakka kehabisan kata-kata dan segera pergi meninggalkan Ibu dan Obiet. Ibu mengajak Obiet pulang.
“Ibu, apakah Bapak pintar dan hebat?” tanya Obiet di perjalanan.
“Tentu.”
“Tapi kenapa Bapak tidak jadi jenderal?”
“Biet, Bapak kan baru bergabung dengan tentara, tidak semudah itu, butuh perjuangan dan ketekunan. Ayah Cakka dulu juga seperti itu.”
“Obiet akan belajar dengan tekun.”
“Bagus itu, memangnya kenapa?”
“Obiet nggak mau anak Obiet nanti di ejek sama teman-temannya.”
Ibu tertawa kecil.
“Pangkat yang lebih tinggi dari jenderal apa Bu?”
“Emm.. apa ya? Ah,, Presiden.”
“Obiet mau jadi presiden aja.”
“Biet, cita-cita itu harus ditemukan dari dalam hati, bukan hanya sekedar memenuhi dendam. Kelak seiring berjalannya waktu kamu pasti menemukan sesuatu yang kau sukai. Tapi kalau mau jadi presiden juga boleh, asal dapat memakmurkan negara kita ini, membantu orang-orang yang membutuhkan dan menjalankan pemerintahan dengan jujur dan adil.”
Obiet mengangguk, sesampainya di rumah ia langsung pergi ke kamar tidur.
“Eh, cuci kaki dulu, calon presiden juga harus menyukai kebersihan.”
*** 
Obiet berlarian di sebuah tanah kosong di dekat markas tentara yang tak jauh dari rumahnya. Kemudian ia melihat Cakka duduk sendirian di sebuah pohon tumbang. Ia kelihatan sedih. Obiet ragu-ragu menghampiri.
Merasa ada yang datang, Cakka menoleh.
“Sedang apa kau?” tanya Obiet.
Cakka diam, ia kembali menatap semut yang berjalan rapi seperti tentara.
Obiet memutuskan untuk duduk.
“Tak bisa bertemu Pak Jenderal?”
Cakka mengangguk. “ia tak pernah mengurusiku. Selau dan selalu orang lain yang ia urus, aku berharap para penjajah itu segera pergi dari sini, sehingga aku akan selalu bisa bermain dengan Ayahku.”
“Kau tahu Cak, kita sama.”
“Tidak, kau anak perwira, aku anak Jenderal!”
“Aku tak pernah bisa main dengan Bapak, aku tak pernah tidur dipeluk Bapak. Bapak juga selalu mengurus para penjajah itu. Jadi kita sama kan?’’
“Tapi, kelihatannya kau baik-baik saja. Tak pernah sedih.”
“Itu karena aku banyak teman yang aku ajak bermain. Cobalah main dengan anak-anak lain.”
“Mereka tak sederajat denganku.”
“Kalau kau mencari teman dengan seperti itu, kau tak akan pernah punya teman.”
Cakka diam. Ia terlihat berfikir. Di sela-sela ia berfikir, tiba-tiba suara dentuman keras terdengar. Dan asap keluar dari belakang markas tentara.
“Ayo lariiiiiii!!!” Obiet menarik lengan Cakka.
“Biar, biar aku mati. Kalau aku hidup pun aku tak punya teman!”
“Kau gila? Ayoo cepat!” Caka tak bergeming. Suara tembakan mulai terdengar. “Baiklah, kalau aku mau jadi temanmu kau mau pergi dari sini?”
Cakka menoleh ke Obiet. Obiet segera menarik Cakka kuat-kuat. Mereka berlari sekuat tenaga menghindari pertempuran itu. Suara meriam dan tembakan-tembakan semakin mendekat. semua warga berhamburan menyelamatkan diri. mereka berdua berada di tengah-tengah kerumunan.
DUAAARRR... DUARRRR... DOORRRR... DOOORRR...
“BAGAIMANA INII?? KITA HARUS KEMANA??” tanya Cakka.
“AKU TAK TAHU! AKU HARUS MENCARI IBUKU!” jawab Obiet.
“TAK MUNGKIN BIET! IBUMU PASTI SUDAH MENYELAMATKAN DIRI ENTAH KEMANA! SEBAIKNYA KITA CARI TEMPAT YANG AMAN!”
“TAPIII...”
Cakka menarik Obiet menuju jalan kecil. Tiba-tiba ada seorang tentara belanda yang membawa senapan muncul beberapa meter dari mereka. Mereka panik dan berjalan mundur mencari tempat yang aman. Namun kemudian ada tangan yang menari mereka dari dalam rumah.
“Cepat ikut aku!” Mereka bertiga berlari. Masuk kedalam sebuah lubang di tanah. Anak yang menarik Obiet dan Cakka kemudian menutup lubang itu.
“Kita aman di dalam sini. Ayahku sudah membuatnya. Berjaga-jaga kalau ada Belanda datang.”
“Kau... Kau  pencuri benderaku ini kan?” Obiet bertanya pada penyelamatnya sambil mengeluarkan benderanya dari celana.
“Ssstt...” kata anak itu setelah mendengar derap langkah. Mungkin tebtara Belanda. Setelah suara langkah kaki menjauh ia menjawab, “ Iya. Maafkan aku.” Penampilannya tetap sama, bertelanjang dada dan hanya memakai celana pendek yang kemarin.
“Kau tak punya baju?” tanya Cakka.
“Ayahku seorang perwira dan telah gugur setahun yang lalu. Ibuku meninggal beberapa bulan kemudian karena kelaparan. Semua makanan yang kami dapat selalu Ibu berikan kepadaku. Setelah itu tak ada yang menjahitkan baju untukku lagi.”
Ternyata ada yang bernasip lebih menyedihkan daripada aku, batin Cakka. “Kau tidak kesepian?” tanya Cakka pada anak itu.
“Aku punya banyak teman. Kambing-kambing pak Yanto, ayam-ayam pak Surono, dan beberapa anak di desa ini.”
“Kau mau jadi temanku?” tanya Cakka. “Kau juga Biet!”
Mereka bertiga tersenyum.
“Sepertinya perang telah usai,” kata Obiet setelah mereka menunggu berjam-jam. Cakka tertidur lelap. Obiet membangunkannya. Mereka keluar dari tempat persembunyian. Saat mereka menuju ke jalan, mayat berserakan dimana-mana. Tentara Indonesia, tentara Belanda, penduduk sipil. Banyak sekali. Obiet mengamati satu persatu korban. Siapa tahu Ibunya ada diantara mereka.
“OBIIIIIIIIIIIIIIEEEEEEETTTTTTTTT!!!” Ada yang berteriak memanggil Obiet.
Obiet mencari sumber suara. Di kejauhan Obiet melihat sosok wanita yang ia kenal berjalan terseok-seok menuju Obiet.
“IBUUUU!!” Obiet berlari diikuti kedua teman barunya.
Obiet memeluk Ibu.
“Kau tak apa-apa nak?”
“Ibu tak papa?”
Ibu mengangguk. Hanya serempetan peluru yang mampir ke kaki kanan Ibu.
Mereka pulang ke rumah Obiet. Walaupun sedikit berantakan, namun Ibu masih bisa memasak air untuk mereka minum.
Terdengar suara ketukan pintu dari luar. Ibu panik.
“Jangan-jangan Belanda?” sangka Cakka.
“Bu Amir Bu Amir! Ini saya Dayan!” teriak suara dari luar.
“Bukankah dayan adalah nama teman Bapak Bu?” kata Obiet.
Ibu pergi menuju pintu dan membukanya.
“Dayan? Ada apa? Mas Amir mana?”
“Amirr,, Amiir,, itulah yang akan saya katakan, mengenai Amir, beliau.. beliau telah gugur di Jogjakarta.”
“Apa? Kau tak bercanda kan?” tanya Ibu.
Dayan menggeleng. “Ini titipan dari Amir.” Dayan menyerahkan sebuah kain merah putih dan di atasnya ada sebuah tanda pangkat.
Obiet yang melihat itu segera berlari menuju Ibunya.
“Baaapaaak... Bapaaakk.. Bapaakk...” ia menangis tersedu-sedu sambil mengambil bendera merah putih besar yang ia impi-impikan.
“Ini...” Ibu menunjukkan sebuah tanda pangkat ke Dayan.
“Sehari sebelum beliau terbunuh, beliau telah diangkat menjadi Letnan satu. Beliau gugur dengan gelar Letnan satu Amir, Bu.”
Ibu meneteskan air mata dan jatuh ke tanda pangkat Letnan suaminya. Kemudian ia memeluk Obiet yang masih sesenggukan memeluk bendera. Beberapa saat kemudian terdengar sebuah pengumuman.
“Merdeka!! Merdeka!! Belanda telah Berhasil di pukul mundur!! Merdeka!! Indonesia Merdekaa!!”
 “Bapakmu tidak gugur sia-sia Biet. Letnan Amir tidak gugur sia-sia.” kata Ibu sambil terus memeluk Obiet.
Cakka meneteskan air mata. Ia jadi tahu, para perwira telah sangat membantu kemerdekaan negara ini. Ia tak akan lupa itu.
***
Obiet, Cakka dan si anak lusuh sibuk memotong bambu. Obiet mengeluarkan bendera besar dari Bapak. Ia, Cakka dan si anak lusuh menalikan bendera merah putih besar ke bambu. Kemudian mereka menanam bambu itu di halaman rumah Obiet. Bendera merah putih besar itu pertama kalinya berkibar di depan rumah Obiet. Berkibar dan terus berkibar. Si anak lusuh berlari ke belakang. Ia mengambil satu bambu, namun lebih kecil. Ia menarik bendera perca dari saku Obiet dan memasangnya di bambu kecil. Kemudian ia tanamkan di sebelah tiang bambu besar. Kedua bendera itu berkibar dengan gagahnya.
“Kenapa diam saja?” tanya Ibu yang keluar dari rumah.
Obiet dan Cakka saling memandang. Cakka mempersilahkan Obiet.
“Kepada bendera merah putih, hormaaaaaaaaaaatttt graaaaaakkk!!!”
Sebuah penghormatan besar untuk kedua bendera pusaka mereh putih yang berkibar gagah di udara. Semoga tak hanya berkibar di udara, namun tetap berkibar di hati putra bangsa. Menjadikan motivasi untuk selalu menjaga tanah air tercintaa.

 zya
17 Agustus 2013

Dalam Diamku


Dalam diamku
Dalam diam aku berdoa
Dpilih olehmu adalah sebuah kado terindah
nanti...
biarlah...
Aku tidak memaksa
Dalam diamku aku berharap
Engkau juga menjaga hatimu untukku
Jangan khawatir, aku juga akan menjaganya untukmu
Biarkan cerita cinta ini di pending sampai waktu yang tepat
aku rela..
Apakah rasa ini akan tetap ada atau pudar
Waktu yang akan menjawab
biarlah..
Dalam diamku
Menunggumu dengan berusaha memperbaiki diri
supaya aku pantas untukmu
dalam diamku
aku mengagumimu...

zya
Mei 2013

Twenty's diary


            Ah... Finally.. I am 20 Years Old. Arti dari 20 tahun itu ... menurutku adalah, udah siap nikah *eh. Ini mah menurut pemerintah. Menurutku, di usia 20 itu harus bisa mandiri, nggak bergantung sama orang tua lagi, bisa jadi panutan yang baik bagi adek, sepupu, keponakan dan warga sekitar. Apalagi, sudah mendapat image yang baik. Dapetin itu gampang, menjaganya yang susah. Jadi sebisa mungkin tambah memperlihatkan action jadi makhluk Alloh yang bermanfaat bagi sekitar.

Dua puluh tahun itu harusnya sudah bisa meninggalkan jejak-jejak yang baik di hati orang-orang yang kita temui, orang-orang yang kita kenal, keluarga kita. Ada yang bilang, kalau kita mau tahu seberapa banyak orang yang tulus mencintai kita, dan seberapa baiknya kita di dunia. Maka lihatlah seberapa banyak orang yang datang saat raga ini berpisah dengan  jiwa ini.

Tinggalkanlah fikiran-fikiran buruk yang masih mengganjal, melupakan masa lalu yang tak enak untuk diingat. Sebisa mungkin menghasilkan hormon serotonin dengan baik. Bersama keluarga, Ayah, Ibu, Adek, mbah Uti, keponakan, sepupu, pak dhe, bu dhe, bulek, om semuanyaa. Masih panjang insya Alloh saya hidup. Masih banyak hal-hal yang harus dilakukan selama itu. Seharusnya tak ada waktu untuk memikirkan masa yang lalu.

Belajar jadi dokter gigi yang bermanfaat bagi orang lain, ramah pada pasien, tepat dalam menganamnesis, jangan pelit, berbagi selalu kepada yang membutuhkan. Aamiin. Semua ini akan berjalan dengan baik, pabila saya bekerja keras menatap ke depan! Bersama teman-teman sejawat, meraih cita setinggi angkasa.
Di duapuluh ini saya bahagia, ada ayah yang siap nganter kemana-mana. Ada ibuk yang siap masakin apa ajaaa, ada adek yang siap di ajak main dan di ajak berantem, ada sahabat-sahabat yang senantiasa saya repotkan, pipit, desta, mbak naph, anggi, fiska, ninik, vera, lia, chana, yuli, maika, ama, dan yang lainnya.. Saya bahagia, di dua puluh ini ada kalian. Dan semoga di duapuluh yang akan datang mereka tetap dalam komposisi yang sama. Kalo bisa tambah satu lagi, pemilik tulang rusuk yang hilang. :D aamiin ya Alloh

salam duapuluh
Minggu 28 Jul. 13

Rabu, 26 Juni 2013

In memoriam


Pagi, 25 Juni 2013. Setelah shalat Subuh aku memang tidak tahan untuk tidur lagi. Sekitar pukul 05.30 WIB hapeku berbunyi. Aku fikir alarm ulang tahun atau apa, aku males ngangkatnya. Kemudian aku berniat untuk mematikan, setelah aku lihat dengan mata seperti bulan sabit, ternyata sebuah telfon dari Audri. Ada apa? Batinku. Tumben anak ini telfon pagi-pagi. Ah mungkin mau nanyain bisa latihan tari nanti sore apa enggak. Setelah aku angkat, nada suara yang berbeda muncul.
“Riz, yusifa..”
Iya, jawabku.
“Yusifa udah nggak ada.”
Sontak kuucapkan kalimat tahmid. Innalillahi wainailaihi rajiun. Begitu shocknya. Audri panik, nelfonin teman-teman tutoo 3 nggak diangkat. Cuman aku sama Tami yang merespon. Segera disusun rencana untuk pergi ke sana. Sukolilo, Pati. Aku yang tahu dimana rumahnya otomatis ikut anak-anak.
Segera beli sarapan, siap-siap kumpul di kampus. Sampai di sana jemput Maika dulu. Ternyata di kampus masih sepi, nggak ada orang. Masalahnya kalo nggak segera berangkat , kita akan ketinggalan pemakaman jam 9 pagi. Sedangkan sudah jam 06.30 di kampus nggak ada orang. jarak Solo-Sukolilo bisa 3 jam kalo keadaan macet seperti itu.
Satu persatu teman datang. Bingung lagi mau naik apa. Mau naik travel, kemudian Ragil bilang mau mengusahakan bus kampus. Ribet lagi urusan. Hafizh belum bisa dihubungin. Soalnya dia yang bawa uang HMP. Setelah menunggu seperti penumpang terlantar selama tiga jam. Akhirnya bus kampus nggak bisa dipake, karena nanti siang mau di pake. Hafizh punya rencana nyewa bus dishub Surakarta. Nyampe jam 10.30, kabar bus hanya berpenumpang 25 orang. Sedangkan yang mau ikut 31 orang. Fadel memutuskan membawa mobil Tami berisikan 5 orang. Ada beberapa teman yang mundur juga. Setelah perdebatan sengit antar dosen, drg Ariyani dan drg Nila yang berangkat menemani kita.
Cuss.. berangkat pukul 11.00. Dengan segala daya upaya bertahan nyampe Sukolilo. Mulai dari dimasukin pedagang asongan, jerit-jerit nggak jelas kayak naik roler coaster, kepanasan karena bus nggak berAC. Akhirnya nyampe rumah Yusifa. Suasana langsung berubah abu-abu. Ibunda Yusifa semakin nangis melihat kedatangan kita. Setelah sambutan-sambutan –setelah sambutan dari drg Ariyani langsung berderai air mata-, kita minta ijin untuk pergi ke makam. Rasanya tuh nggak percaya aja gitu di ada di sana sekarang.
Yusifa yang ceria, nyebelin, suka bantah, kalo jadi scriber sukanya menang sendiri. Pede abis. Lucu, kadang guyonannya garing sih. Tapi itu yang membuat kita semua akan merindukannya. Pernah jadi korum juga, aktif banget futsal. The best lah pokoknya.
Kanker Rabdomyo Sarcoma ini sudah menyerangnya sejak SMP. Sempat cuti juga kelas 2 SMP. Namun kemudian berangsur membaik hingga kuliah karena rajin kemo. Pertama sih nggak ngeh nama Fbnya itu Yusifa Edo Rabdomyo Sarcoma, kirain nama apa gitu. Eh ternyata kata Nia itu nama kanker yang ia derita. Pas ospek dia juga diberi pita merah, supaya nggak di bully ama kakak-kakak.
Waktu makrab, kita mempunyai sebuah even yaitu membacakan kesukaan dan ketidaksukaan antara satu teman dengan teman lainnya. Di salah satu kertas ada tulisan mengenai seseorang mahasiswa kita yang menderita RS. Awalnya kita juga nggak tahu siapa itu, tapi adda yang pernah lihat Yusifa nulis banyak di balik kertasnya. Ditambah nama Fbnya yang seperti itu, otomatis tertuju padanya.
Dia tidak terlihat sakit sama sekali. Hanya beberapa praktikum terakhir dia ijin. Kata teman-teman berangkat kemo ke Semarang. Menginjak tahun kedua, dia sama seperti biasanya. Aktif pake banget. *ya Alloh, bayangannya masih terngiang-ngiagn* Semester genap ia mulai nggak masuk, hingga memutuskan untuk cuti. Kami ingin menengoknya, tapi bingun karena ada yang bilang, dia itu nomaden, maksudnya kadang di rumah, di rumah pak dhe nya, di rumah sakit macem-macem. Belum sempat nih nengokin, belum sempat say hai untuk terahir kali, dan pemakaman pun kita terlambat. Maaf ya Yusifa. :’)  tanggal 24 sore, dia sempet sms-an sama Dias, nanya jadwal KRS. Tapi ya umur siapa yang tahu. Pukul 1 pagi biasanya di bangun tahajud, tapi kali ini nggak. Bapaknya ngecek ke kamar. Dia tidur, di cek nadi masih ada. Namun setengah jam kemudian di cek nadi sudah nggak ada. Saudaranya bilang ia turun BB 20 kilo. Pasti kurus banget tuh anak. Dasar, nggak mau nemenin koas sama kita ya? Nggak mau nemenin sumpah dokter bareng-bareng ya?!
Yang kuat ya Yus. Alloh akan menempatkanmu di tempat yang sangat indah. Doakan kami ya, supaya sukses jadi doktr gigi yang bermanfaat.
in memoriam 25-6-13

Jumat, 21 Juni 2013

Mbah Kung's Story


                Pada suatu malam, entah awalnya ngomongin apa lupa, Ibu bercerita tentang sepenggal kisah mbah Kung dulu. Begini ceritanya.
Hari itu mbah Kung –sekarang sebut saja Sugeng kecil, bertengkar hebat dengan Ayahnya. Kenapa? Karena Sugeng kecil tak diperbolehkan melanjutkan sekolah setelah sekolah dasar. Ayahnya menginginkan dia cukup menjadi polotikus lokal, atau istilah sederhananya perangkat desa saja seperti Ayahnya yang seorang kepala desa. Otomatis anak laki-laki yang haus akan pengetahuan ini ingin mencicip dunia luar. Naluri lelakinya keluar. Ingin berpetualang, ingin mencari sesuatu di luar sana, mencari segudang ilmu yang menantinya di sana. Diluar desa di atas gunung, yang dikelilingi hutan lebat, bahkan kalau mau ke jalan besar harus jalan kaki jauh sekali, lebih dari lima kilometer.
mbah Sugeng
Wajar kan, kalau Sugeng kecil ingin mencoba hal baru? Pertengkaran itu berakhir dengan kepergian Sugeng kecil dari rumah. Ya, dia lari dari rumah, minggat. Entah kemana ia pun tak tahu. Sampai pada akhirnya ia bertemu sebuah rombongan sirkus, bukan lebih tepatnya rombongan penari reog yang sering mengadakan pentas keliling. Karena tak tahu mau kemana lagi, Sugeng kecil memberanikan diri untuk bergabung dengan mereka.
Naas, walaupun ia diterima, namun ia tak diperlakukan sepantasnya pemain lain. Memang ia diberi makan, tapi tak se sen pun diberi gaji. Betapa kelelahannya ia pergi ke sana kemari, menari dengan semangat namun hasilnya nol besar. Mau gimana lagi, ia tak mungkin kan pulang kerumah. Bukankah ia sedang kabur? Ia tak pernah tahu Ayahnya sangat mengkhawatirkan anaknya ketiganya itu.
Suatu hari rombongan berhenti di Mantingan, daerah dekat rumahnya. Tepatnya di bawah gunung tempat dimana ia tinggal. Setelah melakukan pertunjukan, Sugeng kecil tertidur di bawah pohon dengan nyenyaknya. Lagi-lagi ia tak beruntung, rombongan reog itu pun meninggalkannya yang sedang tertidur pulas. Entahlah disengaja atau memang pemimpinnya nggak tahu. yang jelas sore itu sugeng kecil sendirian di bawah pohon. Beruntunglah ada seorang penjaga kolam renang dekat situ menemukannya.
Sugeng meminta pekerjaan kepada bapak penjaga yang baik hati itu.
“Kau bisa bersih-bersih?” tanyanya.
Sugeng kecil mengangguk dengan semangat. Keesokan harinya, ia mulai bertugas menyapu dan merapikan halaman sekitar kolam renang. Sampai pada suatu hari datanglah seorang petinggi perhuani yang melakukan pemeriksaan rutin apakah kolam renang milik perhutani ini terjaga dengan baik. Beliau herang melihat halaman sekitar kolam renang bersih. Kerja Sugeng kecil memang bagus. Kemudian Sugeng ditawari bekerja di rumah Mandor itu. Membantu menjaga hutan gitu.
Beberapa hari kemudian sang Mandor mempunyai tamu. Nah, tamu itu kenal dengan Sugeng kecil.
“Sugeng? Anaknya pak Soleman?”
Sugeng dengan gigihnya menolak  mentah-mentah. Beberapa kali adu mulut Sugeng tetap menolak pernyataan itu. Sang Mandor bertanya kemudian, Sugeng juga tidak mengakuinya.
Hari berikutnya tamu sang Mandor membawa Ayah Soleman. Sugeng juga menolak mentah-mentah ajakan pulang Ayah. Ia tetap akan tinggal di rumah Mandor dan membantu Mandor menjaga hutan. Ayah Soleman tak bisa berkutik atas keras kepala yang dimiliki Sugeng.
lima dari enam anak mbah Kung.
Sugeng tinggal beberapa bulan di rumah sang Mandor, kemudian pulang ke rumah setelah ayahnya membebaskan dia mau menjadi apa. Menjadi Mandor penjaga hutan merupakan pekerjaan menarik yang ia pilih dan dilakoni sampai akhir hayatnya. Menjaga hutan dari serangan maling-maling kayu ilegal dan bahaya lainnya.
Minggu,  2012-12-09

Rabu, 19 Juni 2013

Kekuatan Basmalah


Kekuatan basmalah

Hari ini saya mendapatkan sebuah pencerahan yang sangat super. Awalnya sih, kami (baca: aku, maika dan sakeenah) belajar buat ujian blok (baca: remed ujian blok), kemudian berganti profesi dari mahasiswa menjadi ibu-ibu rumpi, selanjutnya kembali ke jalan yang benar. Mahasiswa.
Ini adalah sebuah kisah inspiratif dari sebuah daerah di negeri seberang, thailand –tempat my tutorialmate, sakeenah tinggal-. Sebuah daerah yang penghuninya sebagian besar adalah muslim. Ayah sakeenah adalah seoramg dokter gigi. Dan beliau adalah satu dari sedikit dokter gigi muslim di sana.
Suatu hari -saat itu sakeenah masih duduk di kelas dua sma- petugas administrasi sedang pergi istirahat makan. Sakeenah kemudian menggantikan petugas admin tersebut. Beberapa menit kemudian datanglah seorang nenek yang ingin memeriksakan giginya yang bermasalah. Nenek tersebut sudah kelihatan kesakitan. Ia ingin segera mendapatkan penanganan dari ayah sakeenah –telah diketahui ayah sakeenah sudah 20th menjadi dokter gigi-. Menurut pengalaman-pengalaman dari dokter gigi senior, seorang dokter gigi mempunyai lima pasien dalam sehari sudah mencapai ambang batas maksimal kekutan mereka. Dikarenakan bahwa, setiap pasien selalu membutuhkan tindakan yang lama dan menguras tenaga dokter gigi. Jadi, dalam sehari seorang dokter gigi rata-rata hanya menjadwalkan lima sampai tujuh pasien setiap harinya.
Tidak beruntung bagi si nenek yang akan memeriksakan giginya. Beliau harus datang untuk periksa sekitar dua bulan lagi, karena jadwal ayah sakeenah sudah penuh untuk dua bulan ke depan. Lebih parahnya lagi, si nenek datang dari desa terpencil yang sangat jauh dari klinik tempat ayah sakeenah bekerja. Sakeenah merasa iba kepada nenek tersebut kemudian ia menyarankan untuk pindah ke dokter lain atau ke tempat pemeriksaan gigi gratis yang kebetulan sedang berkeliling di kota tersebut.
Namun si nenek menolak dan bersikukuh ingin diperiksa ayah sakeenah saja. Ia rela menunggu dua bulan, asal ia diperiksa oleh ayah sakeenah. Kemudian sakeenah bertanya apa alasannya. Si nenek menjawab, “karena saya lebih tenang dan lebih nyaman jika yang memeriksa gigi saya adalah seorang dokter muslim. Mereka selalu mengawali semua kegiatan dengan basmalah. Mereka selalu mengingat allah ketika mereka akan melakukan tindakan apapun terhadap pasien mereka. Itulah yang membedakan dokter muslim dan nonmuslim.” Begitulah kira-kira jawaban si nenek kepada sakeenah, dengan sedikit perubahan bahasa menjadi lebih sopan untuk menghindari konflik antar umat beragama. Karena islam mencintai perdamaian.
Sakeenah sangat tersentuh dengan jawaban dari sang nenek. Ia juga teringat beberapa kesan terhadap dokter muslim di sana. Selain selalu mengucap basmalah, mereka tidak membeda-bedakan derajat pasien. Mau yang miskin, berduit, sampai pejabat, semuanya sama. Dilayani dengan penuh kesabaran. Pemikiran pasien yang menginginkan diperiksa dokter muslim disana, mereka nyaman dan tidak takut sama sekali membiarkan sang dokter muslim memeriksa dan mengobati mereka. Bahkan kalaupun mereka akhirnya tidak tertolong, merekapun ikhlas, karena mereka percaya para dokter muslim akan selalu mengingat allah di setiap tindakan yang akan dilakukan serta memberikan yang terbaik bagi pasien.
Sakeenah memberitahukan hal ini kepada ayahnya. Awesomenya adalah, ayah Sakeenah memperbolehkan si nenek periksa hari itu namun setelah jam praktik selesai.
Nah, sobat, ajaib sekali kan kekuatan basmallah? Hanya sepenggal kalimat, tapi bisa membuat kepercayaan banyak orang tertuju kepadamu. Sobat, awalilah semua kegiatanmu dengan bacaan basmallah. Jikalau kegiatan tersebut berjalan kurang lancar dan kurang sesuai dengan apa yang sobat rencanakan, yakinlah ada campur tangan dari allah di dalamnya. Saya sedikit mengutip pernyataan favorit saya dari om Darwis Tere Liye, “Tidak semua yang kita alami harus dipahami segera. Tidak semua yang kita lewati harus segera ada penjelasannya. Penjelasan itu boleh jadi sudah datang lebih dulu sebelum kejadian, juga bisa jadi ‘amat terlambat’. ” Apabila sebuah kejadian itu sobat anggap sebagai kejadian buruk dan sangat fatal untuk anda maupun pasien, padahal sobat sudah berusaha sekuat tenaga, yakinlah ada penjelasannya dan ada alasannya mengapa Allah ‘membuatnya’ seperti itu. Setiap kejadian selalu memiliki teori sebab-akibat. Bisa jadi akibat yang didapat dari kejadiaan naas tersebut sangatlah besar dan bermanfaat bagi kedua belah pihak.
Semangat sobat! Bagi para calon dentist, densitykan destinymu di dentistry! Salam 52!



zya
rabu 06-02-13