Kamis, 14 Januari 2016

Matahari di Jalur Gaza

            Terik matahari pagi ini sangat mematikan. Tak peduli siapa yang berada dibawahnya, pak Ahsan, pak Jon, dan semua anak-anak yang sekarang berada di halaman sekolah. Peluh menetes seperti air terjuan disetiap baju siswa-siswa ini. Beberapa memicingkan mata, takut air terjun keringat itu akan masuk ke dalam mata mereka. Sudah satu jam mereka berada di sana. Tetap tidak ada yang mengaku. Pak Ahsan sudah berkali-kali menanyai mereka. Walaupun ini bulan puasa, pak Ahsan tidak main-main apabila ada kasus pencurian seperti ini di sekolah. Beliau tetap harus menemukan siapa pelakunya. Para siswa tidak akan pernah dibubarkan sebelum ada yang mengaku.
Kaki salah satu siswa mulai gemetaran. Ia hendak protes, namun apa daya, pak Ahsan masih tetap mengomel tiada henti, tak ada celah sedikit pun untuk menyela.
“Kau tahu siapa dalang dibalik semua ini?” tanya siswa itu.
Yang ditanya menggeleng sambil menyeka peluh.
“Aku sudah tak kuat ini, kakiku gemeteran sejak tadi,” katanya lagi.
“Lah gimana lagi…”
“Siapa sih yang berani-beraninya mencuri obat-obatan di UKS. Kurang kerjaan aja.”
“Yaudah sih Biet, kita tunggu saja. Pasti ada yang ngaku.”
“Tapi Ik, mau sampai kapan. Lagi pula kamu puasa kan? Kamu nggak lemes?”
Siswi itu nyengir.
“Masih pada bungkam ha? Bapak sudah bersabar, bukannya bapak ingin menyiksa kalian di bawah matahari ini. Tolonglah, mengaku saja. Bapak tidak akan marah. Mungkin kalian yang mencuri mempunyai alasan tersendiri. Tersangkanya pasti salah satu diantara kalian. Menurut keterangan pak Jon, kalianlah yang berlalu-lalang kemarin di UKS.”
Pak Ahsan masih memberikan petuah-petuahnya. Para siswa hanya menunduk kepanasan. Belum ada tanda-tanda ada yang mengaku.
“Ayolah kawan, mengaku saja, tidak kasihan apa dengan yang tidak bersalah. Menanggung hukuman ini! Masih bulan puasa pula kan?” Akhirnya Obiet bisa menyela disaat keheningan menyelimuti.
Beberapa siswa mulai berbisik-bisik.
“Mengakui kesalahan bukanlah dosa besar. Apa yang kalian takuti? Justru mengakui kesalahan adalah hal yang paling hebat di dunia ini. Berjiwa besar, jarang orang yang memiliki jiwa yang besar,” nasihat pak Ahsan. “Baiklah, sudah jam segini, kalian pasti sudah ketinggalan banyak pelajaran berharga di kelas. Mungkin salah satu kalian pelakunya malu mengakui di depan umum. Bapak tunggu hari ini setelah jam terakhir di ruang OSIS. Bapak mau tahu alasannya. Kalau sampai nanti siang tidak ada yang datang menemui bapak, besok siap-siap berdiri lagi di sini. Paham?”
“Paham...” jawab mereka serentak disertai perginya pak Ahsan dan pak Jon.
Desahan keluh kesah menggema di halaman sekolah.
“Akhirnya…. kita selamat juga. Kamu nggak papa kan?”
Oik mengangguk.
“Yuk ke kelas.”
Belum jauh mereka melangkah, Oik jatuh tersungkur di tanah.
“Oiiikkk!!!” Obiet dan beberapa teman segera menggotong Oik menuju UKS.
Obiet menunggui Oik sedari tadi yang belum sadar-sadar juga. Beberapa kali alkohol disentuhkan ke hidungnya, tapi dia belum juga sadar. Saat Obiet akan menyerah, pergi meninggalkan Oik yang sedang istirahat, Oik terbangun.
“Biet… Aku pingsan lagi?” tanyanya.
“Menurut lo?” Obiet kembali duduk di samping Oik.
“Maaf, aku menyusahkanmu terus.”
“Lagian, dibilangin nggak nurut. Ditanyain capek apa nggak bilang nggak. Salah siapa coba?” Obiet mengomel.
Oik tersenyum. “Iya, iya, bawel.”
“Aku penasaran, sebenernya motivasimu ikut PMR apa sih? Kamu sendiri sering pingsan gara-gara anemia kan. Nanti kalo nolong orang trus kamu pingsan gimana? Kan nggak lucu.”
Oik tertawa. “Suka-suka aku dong. Aku kan ingin bermanfaat bagi orang lain. Kau tahu, rasanya bisa menolong orang yang kesusahan itu seperti dapet gratisan makanan di hotel berbintang tau nggak.”
“Iya deh iya… Kamu mau batalin puasanya? Masih kuat nggak?”
Oik menggeleng. “Aku masih kuat kok.”
“Yakin?”
“Dua ratus persen!” Oik bangun dari tempat tidur.
Mereka berjalan kembali ke kelas. Sudah tahun mereka sama-sama menekuni ekskul PMR di SMA Cendekia ini. Selama dua tahun ini juga mereka bersahabat. Walaupun mereka berbeda agama, Obiet selalu menghormati Oik, begitupun juga Oik. Mereka tidak pernah menjadikan agama menjadi topik pembicaraan saat mereka bersama. Obiet selalu kagum dengan kegigihan Oik untuk membantu sesama. Ia pernah bilang ke Obiet bahwa Oik ingin menjadi seorang dokter yang hebat.
***
Sepulang sekolah, Obiet penasaran siapa kira-kira yang akan menemui pak Ahsan untuk mengakui perbuatannya. Ia perlahan-lahan berjalan menuju pohon dekat dengan ruang OSIS. Ia menginspeksi seluruh sudut-sudut depan ruang OSIS.
“Ngapain sih?” Oik muncul di depan Obiet.
“Woaaaa… Ngagetin aja sih.”
“Ngapain?”
“Ng… anu… ng… mau tahu siapa yang akhirnya ngaku nyuri obat-obatan di UKS.”
“Kepo deh, bukan urusan kamu tauk.”
“Eh, aku kan juga anggota PMR. Jadi aku berhak untuk tahu dong, siapa yang mencuri obat-obatna di UKS kita.”
“Trus, kalau sudah tahu mau apa?” tanya Oik semakin mendekat.
“Yaa…yaa… yaa… nggak apa-apa. Biar aku bisa lebih berhati-hati aja sama dia,” kata Obiet sambil mundur-mundur menjauhi muka Oik.
“Itu hanya akan menambah prasangka buruk saja kepada orang. Sudahlah, itu urusan pak Ahsan, kita tidak usah terlibat. Ngapain ikutan pusing. Yang penting kita doakan saja semoga pelakunya beneran datang menemui pak Ahsan dan masalah selesai. Misteri hilangnya obat-obatan itu akan terpecahkan. Ngerti?”
“Hhhh….” Obiet menghela napas. “Iya deh iya, ngerti.”
“Ayo pulang.”
Mereka segera meninggalkan sekolah. Obiet sesekali menengok ke belakang, namun kemudian Oik segera memalingkan muka Obiet ke depan kembali.
“Eh, ngapain kamu ikutin aku ke parkiran?” tanya Obiet.
“Mau pulang sama kamu,” jawab Oik.
“Bang Togar, supir kamu gimana?”
“Males, paling dia juga pulang sendiri kalau nunggu kelamaan.”
“Ih, gamau aku ah, nanti aku kena marah lagi. Sana bilang dulu. Aku temenin deh.”
“Nggak. kalau aku bilang mau pulang sama kamu, pasti nggak dibolehin. Apalagi naik sepeda butut kayak gini.”
“Eh enak aja butut. Ini sepeda pertama bapakku tauk. eh malah mengalihkan pembicaraan. Ayo aku temenin ke bang Togar.”
“Nggak mau, Biet, please… Aku lagi males pulang ke rumah. Paling juga gak ada orang di rumah. Simbok paling sibuk masak. Kak Hana apalagi, pulangnya selalu malem-malem. Aku ikut pulang ke rumahmu ya? Please… please…”
“Apa boleh buat, kalau ada apa-apa aku nggak mau disalahin.”
“Yess… asiik…”
“Tapi nanti aku mau ngamen dulu. Kamu mau ikut?”
Oik mengangguk. “Sekalian ngabuburit.”
“Ngabuburit kok ngamen.”
“Biarin, wee… Ayuk ah,,, kita kabur…” Oik mengambil sepeda Obiet dan segera pergi meninggalkan Obiet yang masih ada di parkiran.
“Ckckckc… ni anak puasa apa nggak sih sebenernya. Tadi pagi pingsan, eh ini main kabur aja ninggalin. Hiperaktif dasar. Hei Ik tunggu!!!” Obiet berlari menyusul Oik.
Di lain sisi, bang Togar sedang mondar-mandir di depan pagar sekolah menunggu Oik keluar.
“Aduh, kemana pula ini non Oik pergi. Pasti pergi lagi sama anak pengamen itu. Bisa gawat kalau ketahuan nyonya ini. Ah…”
Bang Togar meninggalkan sekolah Oik dengan perasaan campur aduk. Takut diarahin Mama Oik sesampainya di rumah.
Sedangkan Oik sedang sibuk mengayuh sepeda butut milik Obiet. Obiet yang  duduk membonceng dibelakang khawatir. Sejak tadi sepeda ini tidak stabil. Mungkin belum sampai rumah, mereka sudah jatuh tersungkur di jalan, akibat kayuhan Oik yang ugal-ugalan. Beberapa kali Obiet menelan ludah.
Sesampainya di rumah Obiet, Oik segera masuk ke dalam rumah tanpa permisi. Sepedanya dibiarkan begitu saja tak terurus.
“Tante… tante… Sedang apa?” Oik masuk ke dalam rumah Obiet.
Obiet menggeleng-gelengkan kepala.
Setelah Obiet bersiap-siap membawa bekal ngamennya, ia pamit kepada ibunya. Setiap hari, sepulang sekolah Obiet harus ngamen untuk menambah penghasilan keluarga mereka. Ibunya seorang penjual sayuran di pasar. Ayahnya sudah meninggal sejak ia berumur delapan tahun karena mengidap tuberculosis paru. Untuk uang pembayaran sekolah yang harus di tanggung, Obiet rela untuk mengamen setiap pulang sekolah. Lumayan cukuplah untuk memenuhi kebutuhan sekolahnya.
Siang ini yang terik Obiet masih semangat untuk menjajakan suaranya. Bisa dibilang, dia memiliki bakat menyanyi. Kalau talentanya ditemukan oleh produser musik, pasti produser itu tidak akan menyesal memilihnya. Beberapa kali Oik menyuruh Obiet merekam suaranya dan mengirimkan ke radio. Namun tak pernah ia lakukan, suaranya hanya mentok di jalan dan even-even sekolah.
Satu demi satu mobil mereka datangi. Recehan mengalir deras ke kantong plastik mereka. Oik sangat membantu. Suara lembut yang ia miliki mampu menyentuh orang-orang yang mereka datangi.
“Tiga puluh tuju tibu.. tiga ratus….Alhamdulillah,, dapet banyak Biet, kamu harus berterima kasih kepadaku,” kata Oik setelah menghitung uang hasil ngamennya di depan sebuah mushala.
“Harus gitu? Iya sih, lumayan banyak hari ini. Makasih ya,” jawab Obiet sambil merapikan topinya.
“Aku masuk shalat ashar dulu ya, tunggu di sini,” kata Oik.
Obiet mengangguk.
Selesai menjalankan kewajiban, Oik mengajak Obiet untuk membeli takjil buka puasa.
“Biar aku saja yang bayar,” kata Obiet saat Oik akan membayar belanjaannya.
“Nggak usah Biet, aku ada uang kok,” Oik menolak. “Simpan saja uangmu.”
“Eits… nggak boleh. Kamu sudah capek nemenin aku. Harus ada imbalannya. Nggak boleh nolak uang orang miskin,” Obiet menatap Oik tajam. “Ini Buk, uangnya.”
Oik tak bisa menolak. Obiet telah memberikan uangnya ke penjual takjil.
“Makasih ya,” kata Oik setelah mereka di jalan pulang.
“Aku yang berterima kasih, karena kau, hari ini aku dapet banyak,” kata Obiet sambil sesekali menengok ke belakang.
Angin senja menemani perjalanan mereka pulang. Sesampainya di depan rumah Oik, Obiet segera pamit, takut disemprot bang Togar.
“Bang, mama sudah pulang?” tanya Oik yang menemukan bang Togar sedang mengelap mobil.
“Barusan Non.”
“Nanyain aku nggak?”
Bang Togar menggeleng.
“Sudah kuduga. Mana pernah mama nanyain anak perempuannya ini.”
“Eh Non, tidak boleh berkata seperti itu. Tidak sopan. Tadi Nyonya buru-buru masuk rumah. Mungkin ada sesuatu yang harus diselesaikan.”
“Yaudah deh, aku masuk dulu ya Bang.”
“Iya Non.”
Oik memasuki rumah. Tidak ada yang menjawab salamnya. Sepi. Ia mencari-cari mamahnya. Yang ia temukan simbok seddang mencuci di belakang rumah.
“Mbok, Mama mana?”
“Ada tadi di ruang kerja Non.”
Oik mengangguk-angguk. Mungkin mama sedang ada kasus besar. Katanya dalam hati. Mama Oik seorang pengacara hebat di kota ini. Tidak pernah sekalipun hari-harinya free tanpa kasus. Mulai dari kasus sengketa tanah, pencurian uang rakyat, dan pernah sekali kasus pembunuhan.
***
Suasana meja makan masih sepi. Lima menit yang lalu adzan maghrib sudah berkumandang. Oik yang selesai shalat maghrib datang sendirian ke meja makan. Ia melihat sekeliling meja. Kosong. Padahal makanan yang ada di meja makan sudah bermacam-macam dan menari-nari menggiurkan.
Oik menghela napas. “Aku seperti hidup sendiri di dunia ini.”
Beberapa saat kemudian Mama Oik datang. “Hai sayang,” ia menyapa Oik sembari membaca kertas-kertas yang menyertainya.
“Hai Ma,” sapa Oik sambil tersenyum.
Kemudian Papa Oik datang masih memakai kemeja rapi.
“Hai Pa,” sapa Oik.
Namun, yang disapa masih sibuk menggunakan handphonenya menelepon orang.
“Iya, sudah saya bilang, jangan biarkan mereka membeli saham kita. Kita harus sebisa mungkin mempertahankannya…” Papa Oik berbicara di telepon sambil memasukkan makanan ke dalam piring.
Kemudian kak Hana datang. Ia baru pulang dari kampus. Tanpa mempedulikan yang ada di meja makan, ia segera pergi ke kamarnya yang berada di dekat ruang makan.
Oik menyantap takjil yang tadi ia beli dengan tidak semangat. Sudah lelah ia dengan semua keapatisan keluarga ini.
###
Keesokan harinya, Oik kembali ceria seperti semual. Ia tidak mau larut dalam kesedihan. Ia berjanji pada dirinya untuk melakukan hal-hal positif untuk melupakan segala kegundahan yang berasal dari rumahnya. Ia berjalan memasuki ruang kelas. Kelas sudah hampir penuh, walaupun bel masuk masih setengah jam lagi. Obiet juga sudah datang, namun hanya tasnya saja yang ada di bangku.
Hape Oik berbunyi.
From : Rahmi PMR
Diharapkan anggota PMR segera merapat di ruang UKS. Ada rapat penting.
“Ada apa ya? Jangan-jangan kasus pencurian Obat belum selesai?”
Tanpa pikir panjang Oik segera pergi menuju UKS. Di koridor ia bertemu degan Irsyad, yang juga anggota PMR.
“Ada apa sih Syad? Kau tahu?”
“Entahlah Ik, kasus yang kemarin mungkin,” jawab Irsyad.
Sesampainya di ruang UKS, sudah ada beberapa anak yang berkumpul. Menyusul beberapa lagi dibelakang Oik.
“Baik, sepertinya sudah berkumpul semua,” kata Rahmi, selaku ketua PMR membuka percakapan.
“Ada apa Mi? Kasus kemarin belum ditutup?” tanya salah seorang anggota.
“Oh iya, yang pertama yang akan saya bicarakan adalah itu. Pak Ahsan sudah bilang ke saya. Sudah ada yang mengaku kemarin. Katanya obat itu untuk dijual kembali karena ia butuh uang.”
“Oooo….” anggota yang lain serempak ber-O ria.
“Oke, yang kedua, saya ada undangan. Kalian sudah dengar saudara-saudara kita di Palestina diserang kembali?”
Bisik-bisik anggota terdengar menggema di ruang UKS yang kecil itu.
“Iya, aku lihat diberita tadi pagi, Israel melemparkan bom-bom kembali. Kasihan.”
“Iya, kasihan. Aku juga baca di media sosial.”
Oik menyimak setiap pernyataan teman-teman yang sudah melihat beritanya baik di televisi maupun media sosial.
“Pak Ahsan kebetulan mempunyai kenalan seorang relawan yang akan berangkat ke sana. Saya dimintai tolong untuk mengabarkan kepada kalian. Siapa tahu ada yang ingin ikutan. Lusa kita kan sudah libur. Nanti berangkatnya lima hari lagi. Ini brosurnya.”
Rahmi membagikan brosurnya kepada anggota yang lain. Oik membaca dengan saksama dan tampak berpikir serius.
“Gimana kawan? Ada yang mau ikut?” tanya Rahmi. “Insya Allah bekal ilmu kita sudah cukup banyak. Kalian tahu kan kalau kita tahun ini dapat predikat kelompok PMR terbaik se-provinsi. Saya beri waktu sampai besok. Kita kumpul lagi pas jam istirahat di sini besok.”
Bel masuk berbunyi. Rahmi segera menutup rapat mendadak pagi ini.
“Kau tertarik?” tanya Obiet berjalan di samping Oik.
“Entahlah Biet, aku pengen banget. Tapi pasti berbahaya. Apa orang tuaku akan mengijinkan?”
“Mmm… Iya sih, bilang saja dulu sama mereka. Siapa tahu boleh ikut. Kalau kamu ikut, aku juga ikut. Biayanya ditanggung temennya pak Ahsan kan?”
Oik mengangguk. “Tadi Rahmi bilangnya sih gitu.”
Seharian ini Oik memikirkan tawaran Rahmi. Mungkin papa mamanya tidak masalah dengan ini, mengingat kecuekan keluarganya akhir-akhir ini.
“Non Oik kenapa bengong?” tanya bang Togar saat perjalanan pulang ke rumah.
“Bang Togar tahu Palestina sekarang dalam masa kritis?”
“Tahu lah Non. Tadi pagi saya lihat beritanya di TV. Memangnya kenapa Non?”
“Aku mau jadi relawan di sana Bang.”
“Apa? Non yakin? Bahaya lho Non, pasti papa mama Non tidak membolehkan.”
Oik terdiam. Ia memandang jauh ke luar jendela. Perlahan-lahan air matanya menetes begitu saja tanpa perintah.
*** 
Malam ini perlahan-lahan Oik menuju ruang kerja Mamanya. Ia mendapati Mamanya sedang sibuk dengan berkas-berkas yang ada di meja.
“Ma…” sapa Oik pelan.
“Iya, kenapa Ik?” tanya Mamanya masih berkutat dengan berkas.
“Oik… mau ikut jadi relawan ke Palestina.”
Mama terdiam dan memandang Oik. Jantung oik semakin cepat berdebar.
“Oik yakin?”
Oik ragu-ragu menganggukkan kepala.
“Mama dukung semua apa yang Oik inginkan, asal Oik bahagia,” kata Mama.
Oik kaget. “Beneran Ma? Mama nggak marah?”
“Asalkan Oik bisa menjaga diri dengan baik. Mama setuju.”
Oik memeluk Mamanya. Ternyata ia dengan mudah mendapatkan ijin dari mamanya. Dan ternyata stelah ia datang menemui papanya, papa juga menyetujui ide Oik.
“Asal Oik suka, papa nggak masalah. Nanti papa bantu urus visanya,” kata Papa saat ditanyai.
***
Semua persiapan telah selesai. Obiet juga sudah mendapatkan pasport dan visanya atas bantuan teman pak Ahsan. Ada lima anggota PMR yang berangkat hari ini. Panggilan penerbangan mereka sudah ada. Oik dan kawan-kawan menuju bagian pemeriksaan tiket. Oik mencuri-curi pandang ke arah pintu masuk.
“Kamu cari siapa?” tanya Obiet.
“Mama dan Papa,” jawab Oik sedih.
Oik mengelus-elus pundak Oik. “Mungkin mereka tidak bisa meninggalkan pekerjaan mereka Ik. Sudahlah, kita toh juga akan kembali lagi kan. Itu wajib. Aku tak mau tim kita ada yang tertinggal di sana.”
Satu per satu memasuki pesawat. Mencari tempat duduk sesuai yang tertera di tiket. Ini pertama kali Obiet menaiki pesawat. Kelihatan gagapnya. Ia tak berhenti ber-whoa ria. Hal ini sedikit menjadi hiburan bagi Oik. Ia tertawa dengan tingkah Obiet di dalam pesawat.
“Teman-teman mari kita berdoa terlebih dahulu, semoga perjalanan kita membawa manfaat bagi mereka serta kita akan pulang dengan selamat membawa sejuta pengalaman yang tak terlupakan. Janji?” kata Rahmi sambil mengulurkan tangan.
“Janji.” Mata-mata suci itu penuh harap. Penuh semangat untuk ikut berjuang di jalan Allah Swt. Rasa takut yang menyelimuti hilang tak berbekas. Perjalanan kemanusiaan ini akan menjadikan mereka lebih memahami arti kasih sayang.
### 
Beberapa jam kemudian, perjalanan ini berakhir, setelah sempat transit di Dubai. Sesampainya di Gaza airpot anak-anak ini semakin bertambah deg-deg-an. Pak Umar, teman pak Ahsan yang tahu aura kecemasan tim ini segera memberikan nasihat-nasihat yang membuat tim kembali bersemangat. Misi kemanusiaan ini harus berakhir dengan aman. Warga Gaza menunggu bantuan kita.
Ternyata sudah ada yang menjemput mereka. Pak Ali namanya, beliau utusan dari dubes Indonesia di Palestina. Pak Ali menyambut tim ini dengan baik. Kelima anggota PMR, pak Umar beserta enam temannya segera masuk ke dalam van yang dikendarai pak Ali. Sempat terdengar suara rudal jatuh tak jauh dari airpot. Sontak mereka semua terkaget. Rahmi segera memeluk Oik.
“Ya Allah, lindungilah kami,” doa Oik dan segera diamini oleh Rahmi.
Perjalanan mereka ke penginapan sangat menyentuh hati. Di beberapa sudut bangunan, banyak sekali orang-orang yang berbalut kesedihan. Terlihat seorang wanita paruh baya yang sedang memeluk erat anak gadisnya yang sedang ketakutan. Wajah anak itu pucat. Seperti telah melihat hantu di siang bolong.
Di penginapan mereka segera beristirahat, membersihkan  badan dan mempersiapkan apa-apa yang harus dibawa besok pagi untuk menjadi relawan di sebuah rumah sakit dekat penginapan. Suasana di penginapan juga tidak kalah tegang. Kebanyakan yang tinggal di penginapan ini adalah mereka yang rumahnya sudah rata dengan tanah. Pak Umar terlihat asyik berbincang-bincang dengan beberapa orang Pakistan. Kami tahu akhirnya apa yang mereka bicarakan setelah pak Umar menceritakan terjemahannya kepada kami.
“Setiap pagi mereka tidak henti-hentinya bersyukur atas nyawa yang masih Allah berikan kepada mereka. Setiap malam, doa-doa meminta keselamatan nyawa dan meninggal dengan syahid memancar ke langit tanpa putus. Setiap terdengar suara dentuman bom, rudal, peluru dan semacamnya, kalimat tasbih tak henti-hentinya menggema diseluruh penjuru Gaza. Dan lebih menyentuh adalah, mereka tak pernah meninggalkan shalat walaupun semua kecemasan akan kehancuran tempat tinggal mereka selalu ada.
Bapak paruh baya tadi yang berbicara pada Bapak mengatakan, anaknya meninggal satu minggu yang lalu karena kejatuhan reruntuhan saat sekolahnya terkena bom. Bapak tadi tidak sempat menyelamatkan nyawa anaknya. Setelah ditemukan, sudah tidak terasa lagi nadinya. Ironis sekali. Aku harap semua kekejian ini segera berakhir,” cerita pak Umar panjang lebar.
Tim Oik mendengarkan baik-baik cerita dari pak Umar. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing. Mengutuki Israel yang tak sedikit pun memiliki rasa belas kasih yang sejatinya dimiliki oleh semua manusia di bumi ini. Pergi tidur adalah pilihan yang tepat untuk mengistirahatkan pikiran dan energi untuk misi kemanusiaan esok hari.
***
Makan sahur kali ini sangat berbeda bagi Oik, Rahmi dan kawan-kawan. Pengalaman yang tak terlupakan, bisa sahur bersama-sama saudara sesama muslim di negeri orang. Bahkan Obiet pun ikut makan.
“Aku nggak mau melewatkan momen-momen spesial hanya karena tidur nyenyak,” itu pembelaan Obiet saat ditanya Rahmi.
Ramai sekali restoran di lantai bawah penginapan ini. Banyak juga wajah-wajah cemas yang memaksakan diri untuk memasukkan makanan yang ada di depan mereka ke dalam mulut masing-masing. Memang rasanya tidak mengenakkan makan di saat-saat genting dan penuh kesedihan seperti ini. Tapi ya bagaimana lagi, nabi kita menyerukan perintah untuk sahur. Supaya ada energi yang dihasilkan keesokan harinya.
Pagi disambut rombongan ini dengan shalat dhuha. Semoga dua rakaat ini berkah untuk kegiatan mereka hari pertama bertugas. Mereka ditugaskan untuk membantu IGD rumah sakit As-Syifa. Pukul tujuh mereka berngakat sambil membawa ransel yang berisi perban, obat merah, dan kawan-kawan. Jalanan masih sepi. Dari saat sahur tadi belum ada bom, ataupun peluru yang masuk ke daerah ini.
Namun, di IGD RS masih banyak korban-korabn berbaring memenuhi tempat tidur. Mereka rata-rata cidera tangan, kaki dan kepala akibat kejatuhan reruntuhan bangunan. Di sebelah kanan seorang suster memperbaiki kerudung seorang anak kecil yang duduk lemas di tempat tidur. Oik tertarik mendekat. Ia memperkenalkan diri dengan bahasa Inggris. kemampuan berbahasa Inggrisnya patut diacungi jempol. Sang suster menterjemahkan kata-kata Oik kepada anak kecil itu, belakangan diketahui bernama Khumairah.
“Dia kehilangan tangan kanannya dua hari yang lalu, ia masih syok. Ayahnya pergi menjaga Hammas,” jelas Suster.
“Bagaimana dengan Ibunya?” tanya Oik.
“Suster menggeleng sedih. “Ibunya meninggal empat tahun yang lalu, saat Khumairah berumur dua tahun.”
Oik memeluk Khumairah. Ia berharap bisa menyerap sebagian kesedihan Khumairah melalui pelukannya. Khumairah tersenyum dalam pelukan Oik. Walaupun Oik tidak mengenal Khumairah, kasih sayang sesama saudara didapatkan Khumairah dari Oik, sahabat dari Indonesia.
Tak berapa lama mereka datang, pekerjaan bertubi-tubi segera mengisi tangan gesit mereka. Dengan berbekal pengetahuan, training, pengalaman yang mereka peroleh dari PMR sekolah, mereka santai saja mengobati luka, membalut luka, membantu memasang infus, dan macam-macam teknik membidai. Para suster tak segan-segan memberikan banyak pengetahuan tentang kegawatdaruratan kepada tim mereka. Beruntunglah kebanyakan suster di rumah sakit ini bisa berbahasa Inggris. Jadi mudah bagi Obiet dan kawan-kawan untuk mengerti apa komando yang ucapkan oleh suster.
Sampai siang hari, pasien yang datang lumayan berkurang daripada hari kemaren, curhat seorang suster kepada Obiet.
“Hari ini belum terdengar suara bom sama sekali. Alhamdulillah,” kata suster itu.
Memang sejak pagi tadi belum ada tanda-tanda waspada dari petugas yang berjaga di depan rumah sakit. Entahlah apa yang akan terjadi berikutnya,  hanya Allah dan niat-niat jahat para Yahudi itu yang tahu.
Obiet mengajak anggota timnya untuk berjalan mengelilingi rumah sakit. Ia ingin melihat seberapa pedulinya petugas kesehatan Palestina terhadap kesehatan warganya. Selepas shalat dhuhur, mereka mulai berkeliling. Dari satu bangsal ke bangsal yang lain. Setiap lorong terdapat wastafel dan handsanitizer, berikut perlengkapan sterilisasi lainnya. Lantai-lantai juga sangat bersih. Rumah sakit ini sangat menjaga kebersihannya. Beberapa OB sering terlihat oleh mereka sedang membersihkan lantai, kaca, halaman, sampah, dan beberapa puing-puing bangunan yang terjatuh karena bom dua hari yang lalu.
Tour rumah sakit berlantai tiga ini berakhir di lobi bawah.
“Suasananya enak ya di sini. Lihatlah tadi setiap sudut rumah sakit dihiasi oleh ayat-ayat suci Allah,” puji Rahmi.
“Iya benar, damai rasanya,” ucap Debo, salah satu anggota tim.
Tidak lama kedamaian yang mereka rasakan. Tiba-tiba datang kembali suara-suara menyeramkan itu. Suara yang membuat pilu semua rakyat Palestina. Suara kutukan yang membuat nyawa melayang dengan mudahnya. Bom-bom itu kini datang lagi. Tidak hanya sekali, dua kali sudah terdengar. Yang ketiga sangat dekat dengan rumah sakit ini.
Paramedis sontak keluar melihat keadaan di luar. Mereka segera bersiap-siap. Sebentar lagi manusia-manusia yang bercucuran darah perjuangan akan datang meminta bantuan. Tim sar dari berbagai negara yang lokasinya tak jauh dari rumah sakit ini segera berlari berhamburan menenteng tas ransel berisi perlengkapan P3K.
DUAARRRR...
Asap mengepul dari kejauhan. Entah sudah jadi apa daerah yang tertutupi asap tersebut.
DUAARRRR…
Suara ledakan itu terdengar pilu. Samar-samar terdengar suara takbir berkumandang di langit Gaza, membuat merinding bulu kuduk Oik.
“Kalian tetap di sini jangan berpikiran untuk ikut tim yang lain ke sana! mengerti!” Sebelum tim Oik tersadar dari pemandangan hebat di depan mereka, pak Umar sudah memperingatkan untuk tetap tinggal di rumah sakit.
Mereka mengangguk.
“Sebaiknya kita masuk membantu suster mempersiapkan alat-alat Ik,” ucap Rahmi. “Kalian, Obiet, Debo, Lintar, tetap di sini. Siapa tahu ada pasien datang yang membutuhkan pertolongan langsung. Jangan lupa siapkan kursi roda dan alat bantu lainnya.”
“Baik,” ucap mereka serentak.
Oik menemukan suster yang sedang kesusahan memotong kassa. Ia segera membantunya. Rahmi memilih untuk membantu menempatkan pasien-pasien yang sudah tertangani menuju bangsal-bangsal yang ada.
Setengah jam kemudian, mulai berdatangan pasien-pasien yang membutuhkan pertolongan. Pasien yang dibawa Obiet pertama kali tidak begitu parah. Luka pecahan kaca di lengan kanan pasien itu tidak terlalu dalam, setelah diperiksa oleh suster.
Oik membantu menyiapkan benang jahit dan perlangkapan balut lainnya. Pasien tersebut tak henti-hentinya beristighfar sembari menjawab pertanyaan suster lain tentang identitasnya.
Pasien kedua, ketiga datang dengan keadaan yang tak jauh berbeda. Pasien ketiga yang dibawa Debo adalah seorang ibu hamil yang terluka dibagian kaki. Sepertinya punggung kakinya kejatuhan puing-puing bangunan. Beliau merintih kesakitan sambil memegangi perutnya. Sepertinya ibu itu lebih khawatir mengenai keadaan bayinya daripada punggung kakimya yang mengeluarkan banyak darah. Ibu itu segera ditangani oleh dokter.
Bertubi-tubi pasien yang datang sore ini. Suara reruntuhan bangunan masih terdengar samar-samar dari dalam IGD. Jeritan, rintihan kesakitan menggema di seluruh ruangan. Paramedis di sini sudah tidak bisa merasakan perutnya yang kosong karena puasa seharian. Luka yang ada di depan mereka –yang mereka tangani—lebih menyayat hati. Pikiran mereka dituntut untuk memberikan penanganan yang terbaik untuk pasien-pasien ini. Bergatian mereka menunaikan ibadah shalat. Menuntun pasien yang tidak bisa shalat secara sempurna. Doa-doa perdamaian dan ketenangan menjadi doa utama mereka setelah doa kepada orang tua masing-masing tentunya.
Sampai adzan maghrib berkumandang, kegiatan di dalam IGD belum sepenuhnya selesai. Jumlah pasien yang datang sedari tadi berjumlah puluhan. Segera OB mengantarkan minuman dan buah kurma untuk mereka membatalkan puasa.
### 
Setelah seharian membantu di IGD, tim PMR dan teman-teman pak Umar beristirahat sambil berbincang di lobi dekat kamar mereka. Obiet menggebu-gebu menceritakan pasien-pasien yang ia tangani tadi sore.
“Ah, saya tak sampai hati melihat ekspresi kesakitan diwajahnya…” cerita Obiet. “Eh, Oik kemana?” tanyanya setelah kedua bola matanya berkeliling memandang semua anggota.
“Katanya tadi mau menemui Khumairah,” jawab Rahmi.
“Oo…”
Memang, Oik sekarang sedang berada di kamar Khumairah. Ia mencoba mengajak Khumairah berbicara dengan bahasa Inggris. Khumairah belajar dengan baik bersama Oik. Oik menggambarkan sesuatu, lalu menuliskan nama benda/kegiatan itu dengan bahasa Inggris. kemudian Khumairah menuliskan terjemahan bahasa Palestina dibawah teks bahasa Inggris tulisan Oik. Mereka berdua terlihat akrab.
Hari-hari berikutnya tidak kalah sibuk. Tentara Israel masih betah menyerang. Menembakkan rudal, bom, untuk menghancurkan Palestina. Untuk menaklukkan negara penjaga masjidil Aqsa ini.
Hari ini tim PMR diijinkan untuk pergi ke TKP yang kemarin terkena serangan. Mereka bertugas untuk membantu mencari korban-korban yang siapa tahu masih berada di bawah puing-puing bangunan. Gedung-gedung sudah tidak berupa gedung. Banyak sekali rumah yang kehilangan penghuninya. Palestina menangis. Warga sibuk berlalu-lalang mencari keluarga mereka. Berharap tidak ada satupun yang menginggalkannya. Setiap hari pemakaman juga tidak pernah sepi. Satu persatu pejuang kita dipanggil oleh Allah Swt. Allah terlalu menyayangi mereka hingga dipanggil lebih awal.
Puing-puing bangunan memenuhi sebagian jalanan. Transportasi lumpuh. Beberapa orang sibuk memindahkan puing-puing bangunan ke bahu jalan. Ramai sekali. Walaupun kejadian seperti ini tidak bisa dihindari, mereka masih semangat dan tidak larut dalam kesedihan. Dua korban telah berhasil diselamatkan. Satu dari mereka masih diberi kesempaan untuk menghirup udara kehidupan.
Rahmi dan Debo membantu mengantarkan korban menuju rumah sakit. Obiet sibuk membantu mengangkat puing-puing bangunan. Oik berjalan-jalan disekitar reruntuhan. Matanya menemukan sebuah binkai foto berikut fotonya. Ia mengambil bingkai yang sudah retak itu. Terlihat foto sebuah keluarga yang terdiri dari Ayah, Ibu, dan lima orang anak. Senyum mereka sangat natural. Terbayang betapa bahagianya mereka saat berfoto bersama. Dan sekarang bagaimana keadaan mereka? Apakah baik-baik saja? Kapan senyum seperti ini akan kembali menghiasi rumah besar ini? Semua pertanyaan-pertanyaan itu mengganggu Oik. Ia tak tahu ada bagian puing-puing yang akan jatuh menimpanya.
Obiet yang tak sengaja melihat langsung berteriak…
“OIKKK!!!! AWAAAS!!! PERGI DARI SANA!!!”
Obiet yang berjarak sepuluh meter dari Oik mencoba berteriak.
Tak usah menunggu lama Oik berbalik dan segera menghindar dari reruntuhan. Ia tersandung kemudian terjatuh. Tetapi untunglah ia berhasil lolos dari reruntuhan itu. Oik terjatuh duduk. Nafasnya tersengal.
“OIIKK!” Obiet berlari menuju tempat Oik berada.
Oik menoleh ke Obiet dan tersenyum, mengisyaratkan bahwa ia tak apa-apa.
Namun, Allah berkehendak lain. Dari kejauhan terlihat sebuah rudal yang sepertinya mendekati tempat mereka berada. Seorang warga yang tahu akan hal itu segera menari Obiet yang sudah beberapa langkah berlari.
Obiet mencoba melepaskan pelukan orang itu. Percuma pelukannya terlalu kuat.
“OIIKK… LARI… PERGI DARI SANA LARI!!!” Teriak Obiet yang masih mencoba melepaskan diri.
Oik berdiri. Ia masih menyempatkan mengambil bingkai foto yang tadi.
DUARR…
Terlambat. Rudal itu telah jatuh tak jauh dari tempat Oik berdiri. Kembali jatuh reruntuhan-reruntuhan bangunan. Teriakan-teriakan, takbir bersama-sama asap mengepul, menyatu, menuju ke langit.
Obiet diselamatkan oleh warga Pakistan tadi. Beliau memeluk Obiet yang masih sibuk meronta-ronta.
Asap bercampur debu-debu masih berkeliling di sekitar sana. Mata belum bisa melihat secara penuh. Obiet berhasil melepaskan pegangan. Ia mencoba berdiri sambil memicingkan mata.
“OIKK!! OIKK!! OIKK!!” Kau baik-baik sajakan? Jawab aku1 Aku mohon! Jawab aku!”
Obiet kalap. Ia mencari-cari Oik ke kanan, ke kiri, ke depan, balik lagi ke belakang.
“Obiet!” seseorang memanggil.
“Lintar… Lintar…Lintar… Oik, dimana Oik?” Obiet berlari mendekat ke Lintar yang berjalan sedikit pincang. Kaki kanan Lintar mengeluarkan darah.
“Obiet, pipimu! Lihat! Berdarah.”
“Oik, Ntar, Oik…” Obiet masih belum sadar.
“Iya, aku tahu, tapi lihatlah pipimu berdarah. Apa tak sakit?”
Obiet memegang pipi kirinya. Iya ada darah disana. Persaan khawatir menghilangkan semua rasa sakit yang ia dapat. Oik sudah menjadi teman baiknya selama ini. Kepada siapa lagi ia akan menceritakan semua keingan-keinginan konyolnya.
“Ini pake sapu tanganku,” Lintar memberikan Obiet sapu tangan.  Obiet mengelap darah dipipinya. Suara reruntuhan sudah tidak ada. Asap sudah tidak mengganggu penglihatan. Obiet dan Lintar segera mencari Oik kembali.
“Oiik…. Oikk…” teriakan mereka terus menggema di sekitar TKP. Obiet tak mempedulikan korban-korban lain yang ia jumpai saat mencari Oik. Ia hanya fokus mencari Oik, sahabat tercintanya. Mereka terus mencari ke bagian bangunan tempat Oik jatuh tadi.
“Biet… Lihat!” Lintar menunjuk sebuah pohon yang jatuh. Terlihat sesorang terbaring.
Lintar dan Obiet segera berlari menuju pohon itu.
Oik di sana terbaring lemas.
“OIIK!!!” Obiet dan Lintar segera menggeser ranting pohon yang mengantam kaki Oik.
“Oik… Oik… kau tak apa-apa?” tanya Obiet sembari memeluk kepala Oik. Lintar berlari mencari bantuan.
Oik masih sadar. Ia mengangguk pelan. Namun darah yang mengucur dari kakinya tidak mau berhenti.
“Biet…” kata Oik lirih.
“Jangan bicara, diam dan tunggu di sini. Kau akan baik-baik saja. Kita akan pulang besok. Sesuai jadwal!”
“Biet… Kakiku sakit..”
“Iya aku tahu, iya, sudah diam saja jangan bicara!” Obiet tak kuasa menahan air matanya.
Oik tersenyum. “Selamat ulang tahun…” ia menatap mata Obiet.
Obiet tercengang. Ia melihat jam tangan hadiah dari Oik satu tahun yang lalu. Iya benar, ini tanggal 16, hari dimana Obiet lahir di dunia ini.
“Bahkan disaat seperti ini kamu masih ingat hari kelahiranku Ik.”
“Pasti lah, aku kan satu-satunya sahabat kamu.”
Obiet membelai rambut Oik dan tersenyum.
“Biet, aku boleh pergi kan?”
Obiet tercengang. “Apa maksudmu?”
“Ijinkan aku pergi ya. Maaf, kau harus berjuang dijalan ini sendiri sekarang.”
“Tidak, aku tidak mau. Kita sudah berjanji untuk pulang dalam keadaan baik-baik saja. Kita sudah berjanji. Paramedis yang baik harus menepati janji. Ingat itu Ik!”
Oik kembali tersenyum. “Lailahailallah.. muhammadarasulullah…”
Oik menutup matanya.
Air mata Obiet jatuh bertubi-tubi ke wajah Oik.
“Selamat jalan sahabat. Kau selalu jadi yang pertama untukku. Perjalanan ini tak akan aku lupakan begitu saja. Terima kasih atas ucapan ulang tahunnya.”
Lintar kembali membawa bantuan, Rahmi dan Debo juga turut serta.
“Biet…” sapa Rahmi.
Obiet menggeleng dan masih menitikan air mata. Rahmi jatuh terduduk di tanah. Mereka berduka. Anggota tim mereka telah mendahului pergi ke rumah Allah Swt. Oik kehabisan darah, anemia yang ia derita menjadi faktor penyebab utama. Darah yang keluar dari kakinya terlamapau banyak.
*** 
Mama dan Papa Oik sangat terpukul atas meninggalnya Oik. Anak yang selama ini jarang diberikan kasih sayang telah meninggalkan mereka. Percuma, penyesalan selalu datang di akhir. Mereka tak bisa mengulang waktu kembali. Semua sudah terjadi.
PMR berduka, SMA mereka hari ini mengadakan doa bersama untuk teman mereka yang telah berjuang demi kemanusiaan. Obiet masih menitikan air mata. Ketika foto Oik di pajang di mading. Senyum ceria Oik itu kini telah hilang. Menyisakan memori yang terlalu manis untuk dilupakan.
“Biet, aku menemukan ini di tas Oik,” kata Rahmi.
Obiet membuka kotak berwarna merah yang diberikan Rahmi. Terdapat sebuah kalung bermendel lambang kedokteran. Indah sekali. Ular yang melilit pada tongkat itu terlihat gagah. Obiet mengambil kartu yang ada di dalamnya.
Selamat ulang tahun suara emas. Makasih ya udah jadi temen baikku selama ini. Aku berikan kalung itu supaya perjuangan kita tidak berakhir setelah lulus sekolah. Aku udah bilang ke Papa, Papa mau banget bayarin kamu sekolah kedokteran. Nanti aku harap kita bisa satu kampus. Aku nggak tahu kalo nggak ada kamu hidupku bakal seru atau nggak. Yang jelas beberapa tahun lagi kita harus bisa jadi dokter yang menjunjung tinggi kemanusiaan. Menghantarkan jasa selama-lamanya.
Obiet menghapus air matanya.
“Makasih banyak Ik. Aku akan menjaga amanah ini dengan baik.”
-TAMAT-



http://cdn.theatlanticwire.com/img/upload/2012/11/15/AP232392041816/
sumber: ainiamalia.blogspot.com

Selasa, 15 Desember 2015

Tempat Impian yang Sudah Masuk Album Foto (Part 1)

Sebelumnya aku pernah posting di blog ini tentang tempat-tempat mana saja yang ingin aku kunjungi dan sebagai objek foto tentunya. Dan kemudian satu persatu telah tercapai, ada dua sih yang sudah tercapai dan hanya ingin share pengalaman di sini.. karena lupa dulu nggak d post yang pertama, sekalian aja dua tempat yang aku perkenalkan...

Pertama adalah hutan pinus. Entah bagaimana ceritanya aku jatuh cinta dengan pemandangan yang ada di sekitar hutan pinus. Pinus merkusii (Pinus) adalah salah satu tanaman monokotil yang mempunyai ciri khas dengan daunnya yang memipih seperti jarum dan berkelompok atau berupa sisik. Strobilus jantan dan strobilus betina dalam satu pohon, mempunyai ukuran strobilus jantan lebih kecil dibandingkan dengan strobilus betina (berkayu), terletak aksilaris. Pohon berkayu (woods), strobilus bentuk conus. (http://devi-alvitasari.blogspot.co.id/2013/07/identifikasi-tanaman-pinus-merkusii.html). 

Satu-satunya tempat di Solo yang memamerkan keindahan pinus adalah di hutan sekitar Tawangmangu, Karanganyar, Jawa Tengah sekitar 1,5 jam ke timur Solo. Kebetulan beberapa kali (tak terhitung) bisa mengunjungi Tawanmangu. Mulai dari rekreasi hingga makrab. Memang TW (biasa kita menyingkatnya) menjadi tempat favorit untuk tempat makrab, LDK, latdas dan semacamnya bagi mahasiswa yang tinggal di Solo. Selain adem, asyik, pemandangan dan wisatanya banyak sekali. Kebun stroberry, kebun teh, kebun selada (favorit banget), kebun wortel dll... Grojogan sewu dan sederet grojogan yang lain.. Candi cetho yang eksotis.

Beberapa kali nemu hutan pinus, tp tidak begitu lebat.. Kemudian ada kesempatan lagi ke sana bersama sahabat-sahabat kece Fenni dan Dhani. Nemulah sepetak hutan pinus yang bagus buat foto. Ini foto jepret-jepret pake kameranya si fen-fen.. waktu jaman masih kurus, masih imut, masih jahiliyah :D



Walaupun tempatnya sederhana, tapi sudah cukup puas untuk mewujudkan salah satu list tempat yang ingin aku kunjungi. Masih pengen eksplore lagi tempat tempat yang kece, nanti bersama partner hidup. Biar ga sendirian, kan nggak boleh akhwat jalan-jalan sendirian tanpa ditemani mahramnya. 

dan kalo ke TW ska banget ngumpulin buah pinus, eh buah, bunga atau apa ya ini namanya



Untuk tempat yang kedua, sebenernya nggak terduga-duga. Mumpung ada kesempatan, menahan malu, digojloki anak-anak kampus. Ceritanya ada dies natalis FKG UMS yang ke-5. Nah, BEM ngadain lomba voli yang diadakan di lapangan voli pesma Mas Mansyur UMS. 

Nyampe sana malah salah fokus. Lapangan segede itu ternyata banyak d tumbuhi ilalang. Wahaha... mangsa nih buat hunting foto... Sedikit malu-malu ndeketin anak dokumentasi, minta tolong jadi fotografer haha... Sepik-sepik berhasil, dan aku serta Maika berhasil mengambil beberapa foto yang lumayan lah... Foto saat sudah berisi makmur, :D



















next list >>> taman bunga krisan (entah dimana), bunga sakura, Ka'bah di Mecca!!!

Senin, 28 September 2015

Zuhada Malam



Uhuyy kembali lagi bersama penulis abal-abal disini, masih di zyaFM wkkk... Ide cerita ini berawal dari percakapan santai saat makan siang bersama sejawat. Terinspirasi dari film dan video clip tentang cinta positif yang sedang tenar di dunia maya, penulis nggak mau kalah dong, hhihihi.. semoga menghibur hati yang gundah gulana. Saran aja sih, pas baca dengerin lagu-lagunya Teladan Cinta , ( atau langsung klik lagu yg ada di samping kanan blog ini ) dijamin tambah baper hihi :P
Monggo dinikmati


Teriknya matahari sudah semakin menyengat! Dunia ini semakin panas. Entah berapa lama lagi musim kemarau ini bertahan. Setetes hujan sedang dinanti oleh manusia. Baik itu penikmat hujan sejati maupun yang benci hujan sekalipun. Adin -termasuk salah satu pembenci hujan- sedang mengutuki matahari. Sedari tadi ia tak berhenti mengomel. Dan untuk pertama kalinya ia berharap hujan segera turun. 
"Ataghfirullah... berapa lama lagi kita harus mondar-mandir kepanasan ya Ko? Panas banget," keluh Adin.
"Sampai ini beres lah Din. Kita harus segera acc-in nih pasien PSA," jawab Koko.
"Lagian, kenapa dosennya nggak stay di sini aja sih, kita harus bolak-balik manggil beliau ke gedung B. Ditambah lagi harus bolak-balik rontgen karena pengisian guta-nya nggak hermetis."
Si pasien hanya duduk diam pasrah dikursi rontgen.
"Yaudah sih, sabar aja, lha gimana lagi, ini juga salah kita nih, gagal mulu dari tadi. Kamu jangan ngeluh terus, lebih baik berdoa sana sama Allah, bukannya ngeluh terus. Nih cepetan pejet remotenya udah aku pasang," kata Koko sambil membenarkan posisi pasien yang akan di rontgen.
Adin segera mengambil remote rontgen sambil ngedumel, "Ya Allah, semoga hujan segera turun, walaupun hambamu ini nggak suka hujan, tapi untuk kali ini hamba memohon untuk segera datangkan musim hujan ya Allah."
"Hoeh, berdoa itu dimushola jangan di..." 
Belum sempat Koko meneruskan, seseorang membuka pintu ruang rontgen.
"Kalian udah selesai? Nanti aku mau pinjem ruangannya ya?" suaranya yang lembut terdengar merdu ditelinga. 
"Oh, bentar lagi Rin, ini tinggal punya Adin doang," jawab Koko.
"Oke, kabarin ya!"
"Sip!" Koko beralih ke Adin. "Udah kamu pencet belum tombolnya?"
Si Adin malah asik melihat ke arah pintu, masih sambil senyum-senyum.
"Wooy! Adin!"
"Eh eh.. kok tiba-tiba langsung adem gitu ya Ko? Apa hujan udah turun?"
"Tjh.. kau ini, iya hujan meteor nanti menyerbu kita kalo ini nggak segera selesai!"
"Hehehe... iya ini aku pencet."
Mereka menyelesaikan pekerjaan dengan segera, sedari tadi muka si pasien sudah kucel kumel diajak mondar-mandir ke ruang rontgen.
Diperjalanan menuju gedung B, Adin masih tidak fokus. 
"Ko, sepertinya aku jatuh cinta sama Rinda."
"He? Hahaha... Kamu? Seorang ustadz Adin jatuh cinta?"
"Ustadz? Aamiin lah. Kau ini. Aku juga manusia biasa kali Ko."
"Ya kamu pasti paham lah, kalo lagi suka sama sesorang, dekati pemilik dan penciptanya. Biar direstui. Di doain tiap malem. Jangan dipacarin!"

----
Adin masih terngiang-ngiang kata-kata dari Koko. 
"Dekati penciptanya, doain tiap malem. Oke siap, bismillah..." gumamnya saat terbangun di sepertiga malam.

https://adewinano.files.wordpress.com/2013/04/
source: adewinano.wordpress.com
Air di malam ini sangat menyejukkan. Suara-suara ayam mulai berkotek terdengar sayup dikejauhan. Pertanda malaikat-malaikat turun kebumi untuk menyapa manusia dari jarak dekat. Waktu sepertiga malam adalah waktu yang pas untuk memanjatkan doa-doa yang kita inginkan. Doa-doa itu akan melesat seperti busur panah tepat ke sasaran. 
---
Beberapa minggu berlalu, pikiran Adin sudah mulai terlalihkan ke kesibukan-kesibukan koas. Walaupun terkadang masih sering curi-curi pandang ke Rinda. Sesekali ia terhasut bujuk rayu setan untuk mengajak Rinda chatingan. Kokolah yang selalu mengingatkan kekhilafan Adin.
"Inget Din, setan ada dimana-mana. Dia itu pinter. Walaupun kamu menganggap obrolan santai itu biasa aja, tapi beda Din. Obrolan santai dengan orang yang kita sukai nantinya akan semakin menguatkan nafsu kita untuk memilikinya. Ya kalo kita udah siap Din, kan kita masih berjuang begini, belum punya penghasilan juga, masih minta sama orang tua," nasihat Koko disuatu sore.
"Bagaimana kalo rasa rindu itu tak bisa dibendung Ko? Semakin dalam."
"Puasa Din. Ya kalo sudah siap, saat si rindu datang segera hubungi penghulu! Hahaha...."

Doa-doanya untuk Rinda tak pernah berhenti terpanjatkan. Ia sangat berusaha menjaga hati. Menyibukkan diri dengan hal-hal yang bermanfaat. Diwaktu luangnya menunggu pasien, dibukalah Al-Quran yang selalu menemani. Diwaktu liburnya ia sibuk menjadi volunteer di sebuah organisasi sosial. Ia tak ingin rasa cintanya kepada Rinda membuyarkan konsentrasinya disemua hal. Dengan dukungan penuh dari Koko ia terus bersemangat memperbaiki diri untuk Rinda. Ia percaya Sang Pengendali Hati akan segera mengabulkan doanya. Apalagi hari ujian akhir semakin dekat. Ia harus ekstra berusaha membagi pikiran. 

Restu orang tua untuk mengerjakan ujian kompetensi sudah dikantongi. Adin, Koko serta sejawat yang lain siap untuk berperang dengan ratusan soal yang akan ia hadapi. Selesai ujian ini masih ada ujian-ujian lain yang juga menunggu mereka untuk meraih gelar istimewa itu. Dokter gigi. Doa Adin tak pernah berubah di sepertiga malam. Lulus dan Rinda. Sampai saat pengumuman itu tiba.

"Gimana Ko? Kita lulus nggak?" tanya Adin yang hanya bisa melihat kepala-kepala sejawatnya berebutan melihat papan pengumuman.
Koko keluar dari kerumunan dengan susah payah. "Huft... Sesak nafas nih aku."
"Gimana? Gimana?"
"Mmmm... Alhamduilillah.. LOLOOOOS DIIIN!!!" teriak Koko.
Mereka berdua berpelukan dan sujud syukur. Usaha mereka tidak sia-sia. Selama 6 tahun berjuang bersama di dunia pendidikan ini, hasilnya memuaskan. Doa-doa yang dipanjatkan Adin sepanjang sepertiga malam terkabulkan. Kekuatan busur panah itu sesuai sasaran. Wusssh.... 

Saat mereka sedang asik ngobrol, Rinda datang menemui.
"Hai Din, Ko, gimana haislnya? Kalo dilihat dari ekspresi kalian sih pasti lulus ya?" tanya Rinda.
Adin dan Koko saling pandang. Koko memberi isyarat kepada Adin untuk menjawab pertanyaan dari Rinda. 
"E.. Alhamdulillah kami lulus Rin. Kamu?" terdengar sedikit bergetar suara yang keluar dari mulut Adin.
"Alhamdulillah, oh iya ini ada sesuatu buat kalian," Rinda mengeluarkan dua buah amplop berwarna cokelat dan memberikannya kepada mereka berdua.
"Apa ini Rin?" tanya Koko.
Adin yang sudah semangat membuka, ekspresinya berubah seketika. 
"Apa sih Din?" Koko ikut-ikutan membuka amplop cokelat itu. "Loh Rinda?"
Rinda menjawab dengan senyum manis, "Iya, dua minggu lagi akad nikahnya, doain ya Ko, Din. Jangan lupa dateng bareng-bareng teman-teman ke rumah."
Koko tersenyum paksa sambil mengangguk. Kemudian ia melirik Adin yang masih membeku membaca isi amplop. "Din! Din!" Koko menyenggol Adin.
"Eh... ee.. selamat ya Rin!" kata Adin dengan mulut bergetar.
"Makasih ya Din. Jangan lupa lho dicatat di agenda kalian. Semangat-semangat buat internshipnya bulan depan!" Rinda meninggalkan dua cowok ini dengan gembira. Sedangkan yang ditinggalkan sudah mirip kambing yang mau dikurbankan. Pucat.
"Din, sabar ya Din..." Koko pelan memeluk Adin.

Mereka masih disofa depan papan pengumuman. Kaki Adin terlalu lemas untuk beranjak. Ia masih sibuk mengembalikan kesadarannya ke tempat semula.

"Ko, aku tahu, kebahagiaan diciptakan beriringan dengan kesedihan. Tapi kenapa harus seperti ini Ko. Aku udah seneng-seneng bersyukur, salah satu doaku di sepertiga malam selama ini dikabulkan, dan ada titik pencerahan untuk doa yang satunya lagi. Dan jawabannya lain Ko."
"Mmm... Begini Din, kau juga pasti sudah paham betul, tidak semua doa yang kita panjatkan, keinginan yang kita usahakan itu baik di mata Allah. Mungkin memang Rinda bukan berjodoh denganmu."
"Tapi Ko, aku udah berusah berdoa selama ini. Bangun tiap sepertiga malam, menyebut namanya disetiap sujudku. Aku udah berusaha tidak mengikuti hawa nafsuku untuk mendekatinya sebelum halal. Aku sudah melakukan semuanya Ko."
"Iya aku tahu Din, aku adalah saksi hidupmu untuk perjuanganmu. Coba untuk menerimanya ya, mungkin dia bukan jodohmu. Dan mungkin kuatnya doa jodohmu yang lain disana entah dimana itu kuat banget, lebih kuat daripada doamu kepada Rinda, dan mungkin ia lebih baik daripada Rinda. Tenang-tenang, jangan putus asa. Dan satu lagi, setidaknya penantianmu untuk menunggu kesiapanmu melamar Rinda nggak sia-sia. Dalam penantian ini kamu sibuk belajar, mengerjakan pasien, jadi volunteer di organisasi sosial, mengisi kajian di kampus, dan seabrek kegiatanmu yang lain."
Adin masih diam terlarut dalam kesedihan.
"Gini nih Din, pencapaianmu ini, lulus ujian yang sulitnya subhanallah itu, keren banget! Usahamu selama ini tak perlu disesali. Biarlah masalah atau bisa dibilang ujian hidup ini berlalu. Jangan sedih berlarut-larut. Nggak baik bagi psikologismu. Masih ada noh internship yang harus dihadapi. Masih ada dunia kerja yang harus dicari keberadaanya. Oke? Semangat dong calon penghuni surga! Yuk berdiri! Tatap hari esok dengan semangat baru!"
Koko menarik tangan Adin dan memeluknya. "Oke Zuhadaku, mari tetap taklukkan sepertiga malam yang indah itu!"
---
Hari ini hari ke 125 setelah kejadian patah hatinya Adin. Ia memutuskan untk melupakan apa yang ia alami beberapa bulan yang lalu. Sekarang ia sibuk membantu kebutuhan kesehatan gigi dan mulut disalah satu puskesmas. Satu bulan sekali ia pulang ke rumah, beruntung ia mendapatkan jatah internship di Jawa, jadi tidak terlalu jauh dari rumah. Hari ini adalah jadwal dia pulang.

Perjalanan menuju rumah sangat memakan tenaga dan waktu. Ia harus tiga kali berganti kendaraan umum untuk sampai ke rumah. Bus-nya telah berhenti di tempat transitnya yang kedua. Sayangnya mendung sedari tadi pagi benar-benar mengisyaratkan langit untuk menurunkan hujan. Saat Adin turun dari bus, saat itu juga ribuan air hujan jatuh membasahi jalanan. Adin yang sejak dulu memang tidak menyukai hujan, memilih segera mencari tempat berteduh. Emperan toko yang sudah tutup menjadi tujuannya.

Ada satu tempat duduk di situ yang kosong, saat ia hendak mengambil kursi plastik itu, ada tangan lain yang juga ingin mengambilnya. Adin menoleh ke empunya tangan. Setelah ia melihat seorang gadis berkerudung biru langit itu terlihat kelelahan ia mempersilahkan kursi itu diambilnya.
"Silahkan mbak dipakai saja."
"Beneran mas ndak papa?"
"Iya ndak papa."
"Makasih mas."
Mereka kemudian berbincang-bincang ringan diiringi alunan musik alami dari tetesan hujan.
Sebuah bus datang dari arah timur. Gadis berkerundung biru itu beranjak pamit.
"Eh tapi masih hujan deras itu mbak!" kata Adin.
"Ndak papa mas, daripada ketinggalan bus saya. Lagian hujan itu berkah dari langit lho mas, jadi dinikmati saja."
Gadis itu tersenyum meninggalkan Adin yang masih galau enggan beranjak menerjang hujan. Bus yang akan ditumpangi gadis itu juga bus tujuan akhir Adin.
"Masak iya aku kalah dengan gadis itu, lagipula hujan adalah berkah dari Allah," akhirnya Adin memutuskan untuk mengejar bus tujuan akhirnya.
"Mbak! Tunggu! Kita pergi sama sama!!!!!"
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjPnWE5QPYitQYDLAYfvAW7Bjvp12eypOfCb3ovqT6hUAF5TIEw4zpzy48dOS6hVMweIxCrb5hcrp-2aw7nIYYtEMdemo3QjrjZFMZSmkLhN1nfROEsq6bKugDEUO-C1zVmIEOzajaDHIY/s1600/
suber: arjoena.com
---------------------------------------------------------
TamaT

Ciye baper ciyee.... Hihihi... Ada kata kata yang susah untuk dicerna? Ini nih kamus mininya:
PSA= Perawatan Saluran Akar, perawatan buat gigi yang sudah mati ataupun yang hampir mati nih gengs, biar giginya bisa berfungsi dengan normal lagi maka dilakukan perawatan ini
Hermetis= salah satu sitilah di dalam perawatan PSA nih, jadi pengisian yang hermetis itu pengisian saluran akar dengan menggunakan bahan hingga padat dan kedap udara gengs, fungsinya supaya si kuman-kuman nakal tidak bisa masuk, mengganggu gigi yang telah dirawat.
Internship= nah kalo yang ini tuh bagi seorang dokter/dokter gigi harus melalui yang namanya intership dulu, pengabdian ke tempat terpencil yang masih minim tenaga kesehatan.




Selasa, 23 Juni 2015

Balada Makanan Ikan

Dia berlari sekencang-kencangnya. Mengabaikan semua panggilan yang terus menerus bergema ditelinga. Dia lelah. Melihat dirinya sendiri saja malas. Lingkaran hitam disekitar mata yang mulai melebar. Style pakaian yang sudah tak beraturan semakin membuatnya seperti anak terlantar yang tak terurus.
     Lembut sentuhan pasir menari-nari di kakinya. Ia memperbaiki kerudung yang terus saja terbang dibawa angin.  Setengah jam bertahan dalam kesendirian. Memandang lautan lepas. Merasakan cipratan air yang dengan sengaja meluncur kearahnya. Namun, angin kembali mengeringkanya. Cipratain air itu datang lagi, kemudian angin kembali datang menghapus. Begitu seterusnya. Sampai ada yang datang dan berkata.
"Kau bilang tidak akan pergi sendirian?" Seorang laki-laki datang dengan memasang wajah prihatin.
"Begini lebih baik Mas," jawabnya sambil terus memandangi karang yang tetap tegar dihantam gelombang laut.
Lelaki yang dipanggil Mas itu duduk disampingnya sambil menghela nafas.
“Mau ngapain disini? Mau jadi ikan asin ya?” tanyanya dengan nada mengejek.
Dia diam sejenak, mengaduk-aduk pasir. “Sepertinya jadi makanan ikan lebih baik.”
Setelah mendengar jawaban itu, Mas berdiri dan menyeretnya menuju ke laut.
“Apa yang Mas lakukan?” Ia terheran-heran melihat tingkah laku Mas.
Mas tak menghiraukan dia yang memberontak. Dengan sekuat tenaga Mas melemparkan anak itu ke laut dengan harapan, apa yang menjadi tujuan anak tersebut tercapai dengan baik.
BYUUURRR
“Semoga menjadi makanan yang baik. SEMANGAAT!!!” katanya kemudian sambil melambaikan tangan.
     Anak itu mencoba berenang kembali ke pantai.
“Kenapa diceburin Mas? Aku kan cuman bercanda... Nggak ditolongin malah dilihatin doang.” Ia tergopoh-gopoh menghampiri Mas yang masih berdiri di tepi pantai.
“Loh? Masih hidup? Huh... Tujuan gagal anak muda...” kata Mas kecewa.
Masih terengah-engah dan disertai batuk-batuk anak itu menjawab. “Uhuk.. Uhuk.. Masih lah. Gak pengen jadi makanan ikan ah, serem kayaknya. Hii...”
“Lalu sebenarnya apa yang sedang kau lakukan di pinggir batu karang tadi? Bosan hidup ya?” tanya Mas yang masih bingung dengan apa tujuan sebenarnya anak yang sekarang sedang menggigil kedinginan itu disini.
Anak itu kembali menatap karang yang masih dengan posisi yang sama, tak terkikis sedikit pun. “Hanya... menikmati kesendirian. Menghindar dari kebisingan kota dan setumpuk tugas-tugas. Rasanya lebih tenang aja.”
Mas terlihat berfikir sejenak lalu berkata, "Itu sih lari dari kenyataan, dalam hidup pasti ada masalah, tapi masalah tersebut lah yang membuat kita hidup. Karena pada dasarnya hidup nggak seru kalau nggak ada cobaannya. Dan hal yang perlu diyakini Ketika kita mengeluh : ‘Berat banget yah, gak sanggup rasanya...’
Allah menjawab : ‘AKU tidak membebani seseorang, melainkan sesuai kesanggupan.’ (QS. Al-Baqarah : 286)
Ketika kita mengeluh : ‘Stressss nih...Panik...’
Allah menjawab : ‘Hanya dengan mengingatku hati akan menjadi tenang’. (QS. Ar-Ro’d :28)
Ketika kita mengeluh : ‘Yaaaahh... ini mah semua bakal sia-sia..’
Allah menjawab : ‘Siapa yang mengerjakan kebaikan sebesar biji dzarah sekalipun, niscaya ia akan melihat balasannya’. (QS. Al-Zalzalah :7)

            Nah dari pada bengong di karang, mending kita bengong sambil mancing jadi bengongnya bermanfaat,” Lalu Mas mengambil tas dan mengeluarkan alat pancing . Kemudia ia memberikannya ke anak tersebut.
Anak itu mengangguk angguk. "Ya, aku mengerti sekarang. Mengerjakan hal-hal yang bermanfaat akan mengurangi beban fikiran. Trima kasih atas nasehatnya." Dia mengambil salah satu alat pancing dari tangan Mas.
            "Tunggu, umpanya mana? eee. , Mas mau jadi umpanya? eh.." katanya kemudian.
Mas mulai melirik licik kearahnya, "Katanya tadi mau jadi makanan ikan...?" Tersadar akan ucapan yang tadi, Ia terdiam dan langsung kabur secepat kilat, Mas tersebut mengejarnya denagan SEMANGAT! Sambil berteriak                    "DIBUTUHKAN UMPAN YANG BESAR UNTUK IKAN YANG BESAR! Dan AKU INGIN IKAN BESAR!!"
“CARI SAJA SENDIRIII!!” Anak itu berteriak sambil terus berlari.


*sebuah karya kolaborasi dg mas Arifurrahman

Rabu, 01 April 2015

SEMINAR KEDOKTERAN GIGI APRIL 2015 FKG UMS

FKG UMS presents
Seminar : Pediatric in Dental Practice
Topik :
1. Drg.Lasmi Dewi, Sp.KGA (Manajemen perawatan pada kedokteran gigi anak)
2. Prof.drg.Iwa Sutardjo Rus Sudarso S.U., Sp.KGA (perawatan interseptif ortodonsi dgn mempertimbangkan biomekanikal ortodonsi pada anak masa tumbuh kembang)
3. Dr.drg.Henry Setyawan Susanto, M.Sc (the importance of choosing the right material for pediatric patients)
4. Dr.drg.Mochamad Fahlevi Rizal, Sp.KGA(K) (Treatment update for pediatric in dental practice)
Hands On
1.Dr.drg. Mochamad Fahlevi Rizal, Sp.KGA(K) --> Perawatan endodontik dan pasca endodonti dengan restorasi adhesive pd anak
2. Dr.drg.Henry Setyawan Susanto, M.Sc --> Aplikasi GlC pada restorasi gigi anak
Sabtu, 18 April 2015 pukul 7.30
Emerald Ballroom Solo Paragon Hotel
Pre Sale (maret-8 april)
Mahasiswa 240k
Dokter/Dokter Spesialis 300k
On the spot
Mahasiswa 260k
Dokter/Dokter Spesialis 350k
Seminar + HO mahasiswa 575k
Seminar + HO dokter/Sp 625k
BER-SKP!!!
Pembayaran
BRI 051101029551502 an/ Tanti Nisa Aulia
MANDIRI 9000018297094 an/mandira dhaksi
CP:
Avi 082221979765
Dhaksi 082325591324

Minggu, 15 Maret 2015

Girls Day Out !!!

Ahaa!!! Akhirnya setelah setahun  rencana ini kami lontarkan, terwujud juga, kemarin Minggu, 8 Maret 2015. Destinasi pertama: Prambanan. Aku, Maika, dan Ama sudah berteman sejak awal pertama masuk kuliah, ya kurang lebih tiga tahun lah ya kita bareng-bareng. Karena kesibukan masing-masing personil, ada yang sibuk skripsi, sibuk kuliah, dan kami semua sibuk di organisasi, nggak pernah dapet waktu yang pas untuk vacation bareng-bareng. 

Nggak pake lama, tanggal ditentukan. Pokoknya harus jadi hari minggu itu! Titik! Jangan sampai rencana ini menjadi wacana kemudian. Sempet dapet ujian sih, posisi aku disuruh pulang sama Ayah, gara-gara ada sodara yang lagi sakit. Namun akhirnya ya aku gak jadi pulang, titip salam aja buat yang lagi sakit ke orang tua. Rencananya juga mas Fachmi, Sekjen PSMKGI ngajakin Ama ketemu di Jogja. Duh tambah masalah lagi kan. Untungnya nggak jadi, diganti lain hari karena suatu hal. Oke alhamdulillah kita jadi pergi! Wacana? Bye!


Kereta sriwedari ekspres mengantarkan kita menuju ke Prambanan. Ah iya cerita lucu sebelumnya adalah. *flashback
Pagi. Setelah shalat subuh aku nggak tidur, sengaja biar bisa bangun tepat waktu untuk beli tiket. Soalnya kalo nggak segera beli, nanti nggak kebagian tempat duduk. Berangkatlah aku dan Maik jam 06.00 pagi buat pesen tiket. Setelah tiket di tangan, kita siap-siap dan baru berangkat dari kost jam 06.50 WIB. Padahal, kereta kita berangkat pukul 07.02 WIB. Wkkkkk.... nekat sangat. Sampai parkiran Ama sudah melambai-lambai bilang keretanya mau berangkat. Untungnya pas kita sampai loket masuk, keretanya baru memarkirkan gerbongnya di stasiun. Alhamdulillah. Segera kita mencari tempat duduk yang tertera di tiket. Perjalanan dimulai. Jug ijag ijug ijag suara sepatu kuda #eh suara kereta api. 

Bahagia banget rasanya, excited banget. Habis lari-lari pula. Dalam perjalanan tidak begitu menarik. Seperti biasa merasa bangga gitu lewat di jalan bebas hambatan, menangan, seneng banget kalau lihat kendaraan berhenti karena  kereta yang aku tumpangi lewat. Huehehehe... *senyum devil

Sesampainya di stasiun Meguwo, kita turun dan menunggu trans Jogja jurusan Prambanan nomor 1B. Kemudian kita turun di sebuah terminal kecil dekat candi Prambanan. Waktu turun dari bus, banyak tukang becak dan kusir delman menawarkan jasa untuk ke depan gerbang Prambanan. Karena kita olahragawan -sebenernya juga pengen irit- jadi kita memutuskan jalan kaki menuju gerbang Prambanan. Lumayan juga, capeknya. 

Pas masuk masih sepi parkirannya. Loket masuk juga cuman beberapa orang. Kami ditawari paket untuk sekalian ke candi Ratu Boko. Kalau tanpa ke candi Ratu Boko haraga tiket masuk candi Prambanan all day 30.000 rupiah. Apabila ditambah ke candi Ratu Boko kita cukup membayar 45.000 rupiah free transportasi ke sana. Soalnya jauh. Kami memutuskan untuk ambil tiket terusan. Destinasi pertama adalah candi Ratu Boko, kami menunggu pemberangkatan elf yang akan mengantar kita. 

Yuhuuuu.... sampai deh ke Ratu Boko, mata kita dimanjakan dengan pemandangan perbukitan di jalan menuju ke sana. 
Pintu masuk candi Ratu Boko #abaikan modelnya

Pas kita mau foto, ternyata kan si hape encik Mai nggak bisa di pake timer. Sedangkan hanya hp dia yang punya kamera depan. Jadi dia harus mengunduh aplikasi kamera yang memiliki timer. Encik khawatir kalau di atas nanti sinyalnya buruk, di tengah tangga sinyal menjadi E. Maka dari itu kita harus menunggu encik selesai mengunduh. Jadinya kita -aku dan Ama- foto-foto dulu deh.
see, encik lagi nyari sinyal buat ngunduh, itu lihat ngga? Kecil kayak upil? wkkk

narsisme LOL
Saat kita sedang asyik berfoto, ada bule Jepang yang minta foto bareng kita. Hihi... disangka artis kali ya. Bodohnya langsung membiarkan mereka -cewek dan cowok bule Jepang- pergi tanpa mengajak foto di kamera HP kita. Yaudah deh ga apa-apa. Toh mereka juga bukan artis. :D

Setelah encik Mai selesai mengunduh, kita siap mengeluarkan senjata pamungkas: TONGSIS si tongkat narsis. Hahaha... 
Beberapa view dari candi Ratu Boko yang bisa kita abadikan.

we felt free






bule Jepang yg ketemu di depan, trus minta foto lagi deh sama mereka. Arigatou! :) mereka baik banget.

Capek ternyata muter-muter candi ini. Lanjuutt ke prambanan naik elf yang seperti tadi. Tenaga kita terkuras abis di Ratu Boko. Jadi di Prambanan cuman jalan sebentar foto-foto trus istirahat. Beberapa oleh-oleh dari Prambanan.
panasnya subhanallah sesuatu
Dzuhur. Kita memutuskan shalat di luar prambanan, Di masjid depan. Mampir bentar di penjual es dawet, kemudian memutuskan makan di Sup Ayam Pak Min deket situ. Perjalanan kita ke pemberhentian bus trans masih jauh di sana, sedangkan matahari nggak mau meredupkan cahanya. Ah, hari itu benar-benar cerah sekali. 
Alhamdulillah kita langsung dapet bus 1B yang mengarah ke stasiun Tugu. Ngantuknya, deket AC sih ya, ditambah capek jalan-jalan dari pagi. Kenyang habis makan siang. Wkkk... Sempurna, dipake buat tidur. 
Di stasiun Tugu kami mengantri panjang untuk beli tiket pulang ke Solo. Adanya tiket jam 16.15 WIB. Waktu itu kita antri jam 14.00 WIB. Jadi deh nunggu dua jam di stasiun. Karena bosan, Ama membeli koran untuk dibaca-baca, aku sibuk mendengarkan lagu dari Hp, encik Mai merebahkan kepalanya ke meja. Hingga pukul 15.00 WIB kita memasuki kereta yang akan kita tumpangi. Gerimis datang tiba-tiba tak diundang. Untungnya kita sudah sampai stasiun. 

Kereta berjalan dengan normal, situasi masih agak kurang nyaman gara-gara pengapnya bukan main. Kami memutuskan untuk mengisi teka teki silang yang ada di koran yang dibeli Ama. Sampai sebuah teriakan menggemparkan seluruh gerbong. Semua berkerumun di sumber suara. Ternyata ada seorang anak kecil yang tangannya kejepit pintu. Kereta kami berhenti di stasiun Klaten. Nah nggak tau gimana kronologi ceritanya, si adhek tiba-tiba kejepit pintu yang sedang membuka. Kasihan... T.T Akhirnya mereka diturunkan di stasiun Klaten untuk diobati. Semoga si adhek baik-baik aja. Kereta berjalan kembali, kami sibuk kembali dengan TTS yang membuat kita heboh sendiri di gerbong itu. hehe... maaf ya para penumpang.
Sekian pengalaman liburan singkat kami menjelajah wisata budaya dan sejarah di Jogja. Semoga bermanfaat, eh apanya juga yang bermanfaat. Semoga menghibur para pembaca deh. Kalau bukan kita yang  mengapresiasi warisan budaya lokal, siapa lagi? Tunggu vacation kami selanjutnya! :)