Kamis, 27 Maret 2014

Retakan-Retakan Persahabatan

Saya pernah memberikan gambaran seberapa besar persahabatan yang saya lalui bersama teman-teman di sini. Tak akan pernah menyangka bertemu orang-orang hebat seperti mereka. Memiliki sejuta pengalaman seru bersamanya. Saling curhat-curhatan, mendengar apa yang mereka keluhkan, mereka mendengar apa yang saya keluhkan. Lengkaplah sudah. Di sini saya sebagai anak rantau, yang tidak mempunyai siapa-siapa. Karena mereka-lah saya betah berada di sini, tak merasa sendirian. Mereka adalah pengingat dikala futur. Penyemangat hati pabila sedang gundah galau gulana.

Pertanyaannya adalah, bisakah hal-hal itu abadi? Bisakah semua kegiatan yang kita lakukan ini bersifat membahagiakan? Ada nggak sih mudharatnya? Ada nggak sih cek-cok antar teman. Mari kita bahas tentang masalah ini.

Tidak dipungkiri, saya pernah beberapa kali marahan sama sahabat sendiri. Dari masalah sepele, yang sebenarnya aku pun tak tahu apa sebabnya, sampai kekhilafanku sendiri. Semua telah saya lewati dengan baik. Dengan diiringi sikap dan sifat baru yang membuat saya lebih baik dan lebih berhati-hati menghadapi teman-teman yang beragam sifatnya.

Sebenarnya saya selalu ingin punya teman seperti di sinetron/film. Mereka bersahabat dari kecil sampai dewasa bahkan sampai usia lanjut. Nah, persahabatan seperti ini yang sebenarnya saya inginkan. Namun, kenapa belum terwujud? Masalahnya adalah, yang pertama saya SD di sebuah desa nan indah di mana sebuah istana megah tinggal. Saya memiliki beberapa sahabat. Kala itu saya juga pernah marahan sama beberapa teman dengan alasan saya dijauhi adalah karena saya tidak mau memberikan dia contekan. zzzz... alay tenan.. Itulah masa kanak-kanak zaman dulu.

Nah, masuk SMP, aku harus berpisah dengan mereka, dikarenakan aku harus merantau ke kabupaten sebelah untuk melanjutkan sekolah. Dikarenakan ada beberapa hal yang nggak seru dan nggak asyik kalau saya masuk di SMP deket rumah. maka, sampailah saya disebuah sekolah berstandar nasional yang sekarang menjadi bertaraf internasional dan menjadi sekolah biasa. :D Espero tercinta. 
Masa-masa ini aku menemukan lagi beberapa sahabat kece nan cantik jelita. Sejenak melupakan teman-teman SD yang lama tak bersua kembali karena terpisah jarak.  Lagipula rumah saya jauh dari rumah sahabat-sahabat kala SD.

Di kerajaan espero, saya pernah sempat dijauhi dan marahan sama salah dua diantara mereka. Dengan keteguhan hati, saya mencoba memperbaiki semuanya. Hasilnya, kami baik-baik saja sampai sekarang. :) Hal yang paling aku benci adalah dijauhi teman, apalagi sahabat sendiri. Itu lebih menyiksa daripada cinta bertepuk sebelah tangan. Seriusan. Bisa membandingkan karena saya pernah mengalami sendiri. Cinta bertepuk sebelah tangan itu galaunya cuman sehari dua hari. Dijauhin teman itu galaunya setiap waktu, sampai akhirnya baikan lagi. Bener, nggak bohong. 

Kami baik-baik saja, merencanakan satu SMA bersama-sama. Merajut kembali asa yang telah kita usung bersama. Awalnya kita satu visi, pergi ke smansa yang ada di kota yang berslogan Bangkit ini. Belum ada perubahan setelah aku tahu ada pengalaman yang jauh lebih menantang di luar kota Bangkit ini. Aku menjadi galau. Masak harus pindah lagi? Masak harus pindah sahabat lagi? Dengan berbagai macam pertimbangan, akhirnya aku memutuskan untuk menjalani kehidupan baru. Meninggalkan semua sahabat-sahabat espero yang sudah menemaniku selama tiga tahun. Sedihnya adalah harus memulai dari awal lagi sebuah pertemanan yang akan saya jalani selama tiga tahun ke depan.

Masa-masa SMA, tidak seburuk seperti yang pernah saya bayangkan saat masih SMP. Justru saya bertemu sahabat-sahabat yang semakin beragam. Karakter mereka menjadi pelajaran yang sangat berharga. Sahabat-sahabat penari, grup terkeren dengan kerjasama yang solid. Saya mendapatkan sahabat yang mampu mewarnai hari-hari menjadi indah.

Beberapa dari mereka, sahabat SMA bahkan sampai sekarang masih berada di dekatku. Merajut impian di kota orang, bersama-sama. Memang dari teman SD sampai kuliah sekarang, kami masih sering ketemu, sms-an dan berkomunikasi lewat jejaring sosial lainnya.

Sekarang, saya menemukan lagi contoh keretakan persahabatan kembali. Namun, bukan dari saya kali ini. Ada seorang sahabat, yang sekarang sedang dekat dengan saya dan sahabat saya. Sebenarnya memang tidak masalah, kita dekat, kita main, kita makan dengan siapa saja. Yang tidak biasa dan menjadi masalah adalah, seorang sahabat ini seperti meninggalkan sahabatnya yang lain dan datang pada kami. 

Tidak salah memang, sahabat ini bercerita semua alasannya. Bagaimana di berada dalam komunitas di yang biasanya seperti apa. Kemudian kenapa sekarang dia lebih memilih bermain dengan kami. Sahabat ini bilang, ia sedang berada di dalam titik jenuh pertemanan.

Bermacam-macam suku budaya ada di kampus kami. Sifat beberapa manusia sangat bertolak belakang. Tergantung bagaimana kita menyikapi semua sikap dari mereka. Gunanya sahabat itu apa to? Jadi supir? Jadi bodyguard? Nggak kan. Mereka datang, diutus oleh Alloh untuk menemani kita, mendengarkan cerita kita, mengingatkan kita dari segala perbuatan buruk. Ia adalah kontrol sosial bagi kita.

Nah, bagaimana menyikapi apabila terjadi ketidaksamaan pendapat?
Jangan buru-buru membantah, pikirkan dulu, benar nggak sih apa yang dibicarakan oleh sahabat kita? kalau kalian tahu sahabat kalian itu keras kepala, jangan sekali-kali kalian bantah dengan penuh dan kalian patahkan begitu saja argumennya. Balas dengan perlahan, berikan penjelasan yang ilmiah kepadanya. Kita harus bisa mengimbangi dia.

Kalau kita merasa tidak dihargai dan merasa 'kenapa dia nggak mengerti aku' gimana?
Nah, ini yang sering dilakukan. Bagaimana kalian mau dimengerti, kalian nggak pernah bilang mau kalian apa. Seharusnya apabila sebuah persahabatan telah terjalin, saling terbuka dan mengemukakan pendapat adalah hal yang biasa dan wajib dilakukan. Katakan, jelaskan keinginan kalian kepada sahabat-sahabat kalian. Jangan merasa tertindas, selalu di kekang oleh sahabat kalian. Apa gunanya persahabatan kalau seperti itu. Yakinlah, sahabat kalian akan mengerti dan welcome terhadap permintaan kalian. 

Jangan ada gengsi-gengsian!
Sering-seringlah bilang minta maaf kalau salah, dan minta tolong kalau butuh bantuan. Hal ini akan menjadikan persahabatan kalian lebih indah. Sahabat kalian akan merasa dihargai dan dihormati. Apabila kalian merasa salah, langsung aja dekati dia, minta maaf ke dia, jangan sampai masalah terus berlarut-larut lama. Ini adalah masalah klasik perempuan. Suka melarut-larutkan masalah dan tidak bisa membuatnya menjadi simpel.



Yuk ! Hang Out bareng !
Sangat bermanfaat sekali obat ini. Dengan keluar dari persembunyian kalian, siapa tahu ada inspirasi segar yang masuk kemudian segala perasaan tidak enak itu akan hilang seketika. Jagalah waktu main bareng dengan sahabat. Pekalah terhadap  mood sahabat anda. Dia lagi enak hati diajakin keluar nggak sih? Tawarin aja dulu. Yakinkan kalau keluar bersama tidak akan membuat dirinya lebih kesepian dan lebih merana. Keluar bersama mingkatkan kualitas pertemuan dengan sahabat, sehingga kita bisa lebih mengenal bagaimana sebenarnya sahabat kita ini.

Mungkin ini sedikit pengalaman persahabatan saya dalam bab retakan-retakan persahabatan. Semoga bisa bermanfaat dan menjadikan persahabatan diseluruh dunia menjadi indah untuk dijalani dan dikenang. :) Bukankah marahan lebih dari tiga hari itu dilarang? :)




Rabu, 05 Februari 2014

Kisah Untuk Sang Putri episode 1 - another secret admirer story

Dia datang. Benar dia sudah datang. Tak biasanya dia datang jam segini. Biasanya sepuluh menit lebih lama dari pada ini. Ah untunglah aku sudah ada di sini sejak tadi. Jadi aku bisa bebas memperhatikannya. Dari jauh. Hanya ini yang bisa aku lakukan. Ya mau ngapain lagi, toh dia juga tidak mengenalku. Siapa aku. Aku hanya laki-laki biasa yang tidak ada apa-apanya dibandingkan sang putri.
Ia telah memasuki sanggar. Sudah beberapa minggu ini aku mengetahui bahwa dia setiap hari Rabu dan Jumat mengikuti unit kegiatan mahasiswa tari di kampus. Aku bisa tahu karena ada temanku -lumayan dekat dengannya- yang juga ikut UKM tari. Dia dengan senang hati memberiku kabar ini, jadi aku bisa melihatnya sebentar sebelum masuk ke kantor majalah kampus yang aku ikuti. Kebetulan di hari yang sama ada jadwal ngantor untuk mengumpulkan artikel ataupun rapat rutin di kantor.
Aku keluar dari persembunyian, menutup buku –biasa aku gunakan untuk pengalihan perhatian jika diketahui orang-. Kemudian berjalan menuju kantor yang berjarak satu koridor dari UKM tari. Dengan semangat pastinya. Sudah mendapat suplemen.
“Obiet!”  panggil seseorang sesampainya di pintu kantor.
“Hey Syad,” sapaku.
“Aku nungguin kamu, nggak datang-datang. Ini anak-anak sudah pada ngumpulin artikelnya ke aku. Tinggal tugasmu sebagai editor untuk bekerja. Ohya jangan lupa cerbungnya jangan panjang-panjang. Kemaren pimrednya marah, gara-gara kelebihan satu halaman. Kamu ini kalau bikin cerbung mbok ya jangan panjang-panjang,” jelas Irsyad panjang lebar.
“Hehe... maaf tadi ada urusan sebentar. Ohya? Kayaknya sudah cukup 700 kata deh. Kenapa bisa kelebihan?”
“Mana kutahu. Itu majalahnya masih di ruang komputer. belum didistribusikan. Kata si Agni besok aja dibagiin ke anak-anak.”
Aku mengangguk-angguk. “Oke.”
“Ohya, ini yang belum ngumpulin Bagas, Difa sama Rafli. Sms mereka. Biar majalah terbitnya nggak mundur kayak kemarin.”
“Siap bos!”
Setelah Irsyad pamit, aku segera ke ruang komputer dan mengambil satu majalah. Kucari cerbungku di sana. Wah, aku salah memasukkan cerbung rupanya. Memang yang ku buat bener 700 kata tapi malah yang aku kumpulkan yang belum aku edit, mana isinya kurang memuaskan. Tapi ya gimana sudah terlanjur cetak. Ya sudah lanjut aja episode 5nya.
source: google
Aku selalu senang melihat wajah lembutnya. Aku ingin memasuki dunianya. Dunia yang membuatnya nyaman. Namun, aku takut. Bilamana aku memasuki dunia itu, akankah dia bertambah nyaman atau dia akan berpindah ke zona yang lain. Aku sangat takut. Aku memang pengecut. Sampai kapan aku hanya bisa menjadi pengagum rahasia. Aku tidak tahu. Karena zona ini juga sudah nyaman buatku, aku merasa tidak perlu bergerak lebih jauh lagi.
Sudah cukup 700 kata yang mewakili sebagian dari perasaanku. Entah sang putri membaca kolom cerbung yang aku buat ini atau tidak. Aku tidak punya cukup mata-mata untuk ini. Biarlah. Toh aku tidak mengharapkannya secara berlabihan. Ada yang pernah bilang, jangan terlalu mencintai sesuatu. Kelak kamu tidak akan pernah tahu apa yang terjadi dengan perasaan itu. Biarlah rasa itu mengalir apa adanya seiring berjalannya waktu. Entah dia akan memudar atau akan tetap bertahan. Tunggu sampai saat yang tepat untuk memetiknya.
Kemudian aku tenggelam dalam lautan tulisan teman-teman yang harus segera kuedit.
***  
Kemarin aku baru saja diterima di sebuah mini market. Part time ini aku ambil karena aku ingin membeli gadget baru yang beberapa bulan ini nangkring di etalase toko sebelah kost. Seakan-akan dia berteriak memanggil-manggilku mesra. Ah, jaman sekarang semua serba canggih memang. Apa salahnya juga menambah pengalaman kerja part time, siapa tahu nanti lebihnya bisa ditabung untuk keperluan yang lain. Lagi pula aku sudah berjanji pada Ayah kalau pekerjaanku ini tak akan mengganggu kuliah. Kebetulan ada kekosongan pegawai untuk enam bulan ke depan. 

Hari ini ada training dulu dari senior-senior Mickey market –nama mini market tempat aku bekerja-. Aku mengerti dengan cepat apa-apa saja yang harus aku lakukan. Jam kerjaku jam 3 sore sampai jam 9 malam setiap hari Senin sampai Rabu. Semoga kali ini berkah.
Hari hari berikutnya terasa mudah dan sudah biasa. Hari ini banyak sekali pembeli. Ah iya benar, ini awal bulan. Ya pastilah rame, orang-orang pada belanja bulanan. Satu persatu pelanggan mengantri membayar. Mataku semakin ijo ngeliat duit banyak di depan mataku. Kemudian jari-jari lentik itu menyodorkan keranjang belanjaan. Siapa gerangan pemilik jemari cantik ini? Terdengar jelas lagu di sound sistem mini market sedang memutar ost Laskar Pelangi yang jari-jari cantik. Kenapa bisa pas begini. 
Profesional bro profesional, aku meneriaki mataku.
"Ada kartu pelang...gannya.." suaraku tersendat di tenggerokan. Lihat siapa yang ada di depanku.
Ia memberikanku sebuah kartu pelanggan Mickey Market sembari tersenyum. Gila, apakah ini takdir? A fate? Neila, sang putri cantik, tidak kurang 1 meter ada di depanku. Aduh, ini jantung mana bersisik banget pula. Dag dig dug nya sampai ke telinga. 
Profsional Biet, profesional. Aku kemudian menutup mulut sesegera mungkin, karena tadi hampis menganga beberapa detik. Kemudian menghitung semua belanjaan putri cantikku ini.
"Tiga puluh enam ribu tiga ratus rupiah mbak," oke aku berhasil menyembunyikan kegugupanku. 
Ia mengambil uang di dompet. Lama, lumayan lah, bisa sedikit curi curi pandang. Kemudian ia menyodorkan uang, pas sebesar apa yang aku bilang tadi. Aku menerimanya dengan senang hati.
"Ini mbak, belanjaannya, terima kasih sudah belanja," kataku kemudian sok manis.
"Mas.."
Dia ngomong sama aku, iya dia manggil aku. "Iya mbak," jawabku sambil tersenyum seganteng mungkin.
"Kartu pelanggannya bisa saya ambil?" tanyanya dengan polos.
Deg. Pyaarrr..... Ah, iya lupa, aduh padahal udah berusaha nggak grogo lho.
"Eh iya, ini," aku memberikan kartu pelanggannya.
"Mas baru ya di sini?"
"Eh, iya mbak. Maaf kalau tadi kelupaan, maklum pegawai baru." aku nge-les.
"Bukan masalah itu sih sebenernya, itu cara masang co-card nya salah." Ia mengambil belanjaan dan segera pergi sambil tersenyum.
Eh, aku reflek melihat co-card, emang sih aku nggak nanya cara masang co-card nya gimana. Aduh, bodoh. Eh, tapi dia segitu perhatiannya, sampe tau aku salah pasang co-card. Atau mungkin emang kesalahanku memasang co-card fatal sehingga bisa mudah diketahui. hhhh...
#bersambung

Senin, 16 Desember 2013

Film Soekarno, Kegalauan Politik dan Cinta



Film yang diawali dari masa remaja -diperankan oleh Emir Mahira- Soekarno ini menjadi banyak kontroversi dikalangan temen-temen yang habis nonton. Beberapa ada yang bilang "Jangan nonton film ini, iihh,,, Soekarno nyebelin, aku jadi nggak suka sama Soekarno setelah nonton film ini," begitulah kira-kira sebuah respon yang saya dengar.

Dari awal memang saya tertarik nonton film ini karena -disamping ada Lukman Sardi- juga dari trailernya keren. sutradaranya Hanung pula, telah diketahui banyak judul film garapan hanung yang keren dan disukai para penikmat film.

Kemudian banyak berita miring yang saya dengar seperti uraian di paragraf pertama, membuat ketertarikan saya akan film ini sedikit terguncang. Tak banyak juga yang sudah nonton dan memuji film ini. Saya melihat dari retweetnya om Lukman Sardi. Sebenarnya semakin penasaran. Yang disebelkan teman-temanku adalah saat kisah cinta beliau yang ditayangkan. Memang sih beliau itu berkharisma, tampan, pintar dan pandai memikat hati rakyat.

Tapi ternyata keteguhan untuk tetap menonton sangat kuat ditambah Lida, temen sebelah kamar juga ngajakin nonton. Ingin membuktikan sendiri juga sih, seberapa menyebalkan Soekarno di film ini. Siang ini, setelah menonton, dengan berbagai macam pemahaman, melihat dari sudut pandang berbeda, ada beberapa hal menurut saya yang bisa saya simpulkan. Saya menulis sebagai orang awam yang sebenarnya nggak suka dengan pelajaran sejarah. :D Jadi ini sepemahaman saya saja sih.

Pertama mengenai kisah cinta beliau, memang saya akui di film itu Soekarno memang terlihat playboy. Disamping dicintai para wanita, Soekarno juga lembut kepada wanita. Seperti beberapa info yang saya dapatkan, ada 9 istri dari Soekarno yang sempat tercatat -gak tau juga ini berita hoax apa enggak-. Taoi selain itu ada yang mengaku-ngaku menjadi istri beliau, tapi belum cukup memiliki bukti.

Tapi seenggaknya kita harus masih berpikiran positif, menikah lebih baik daripada berbuat zina kan? :D
Ini salah satu scene dimana Soekarno sedikit merayu Fatimah, kala itu masih beristri Inggit.
Siapa pula yang nggak sebal, melihat suaminya merayu gadis lain. Posisi Fatma sudah dianggap sebagai anak sendiri oleh Inggit. who knows kejadian sebenarnya seperti apa. seenggaknya Soekarno bertanggung jawab atas pernyataan cintanya. Beliau menikahi Fatma, tidak cuman PHP doang. :D
 More : http://indocropcircles.wordpress.com/2013/11/05/9-istri-presiden-sukarno/

Selanjutnya masalah Soekarno bekerjasama dengan Nippon, bukan karena Soekarno tunduk ke Nippon tapi untuk menyusun strategi gimana amannya Indonesia tanpa pertumpahan darah. Mungkin apabila kita berada di posisi Soekarno juga bakalan galau, apa yang harus kita lakukan? Beruntung Soekarno memiliki orang-orang hebat disekitarnya, selain Fatma, ada Hatta, Sjahrir, A. Soebardjo dll.
Tanpa adanya mereka, Soekarno bakalan galau sendirian. 

Sebenarnya banyak pesan-pesan yang disampaikan dalam film ini, yang bisa saya simpulkan, keinginan yang kuat tidaklah cukup untuk mendapatkan apa yang kita inginkan. Usaha terus menerus, berdoa juga sangat diperlukan. Tidak serta merta kita juga bisa instan mendapatkannya, dengan paksaan. Tapi dengan sedikit demi sedikit, meminimalkan resiko dan pertunpahan darah dengan memikirkan cara-cara lain yang setidaknya tidak banyak merugikan. Pastilah sebuah keputusan itu tidak semuanya disetujui, tapi bagaimana kita meyakinkan mereka keputusan yang telah disepakati -memiliki banyak manfaat tentunya- kepada semuanya. Kemudian bersama-sama membangun sebuah Indonesia yang satu. 

Suka pas Bung Hatta bingung dan bertanya kepada Soekarno, "apakah kita mampu? Seratus persen dapat mengelola negara yang penuh perbedaan budaya agama dan adat istiadat?" Dan Soekarno menjawab -kalau tidak salah, intinya adalah..- " Kemerdekaan bukan akhir, tapi adalah awal perjuangan. Saya memang tidak seratus persen yakin. tapi kita, sebagai pemula, pendiri harus berusaha sekuat tenaga. Nantinya kalaupun kita tidak bisa, masih ada anak-anak kita, masih ada orang lain......" kira-kira seperti itu. 
Jadi jangan takut sebagai pemula, toh nantinya tidak berhasil, kita tidak akan menyesal telah mencobanya, telah merasakan bagaimana itu kalah. Kita tidak selamanya menang, tapi kita akan tetap belajar. :)
orasi Soekarno menentang Belanda

Soekarno dan Inggit 

salah satu alasan aku nonton film ini : Lukman Sardi

persiapan pembacaan proklamasi

zya
16-12-13
foto :: google

Sabtu, 14 Desember 2013

Keraton Solo part 3

Apabila ada yang mau liburan ke Solo, pastilah Keraton tempat tujuan utamanya. Artistik, keren, tua, mistis itulah beberapa kata yang mencerminkan keraton. 

Hari ini ketiga kalinya aku masuk ke keraton Solo. Nggak bosen ya? Padahal isinya yo gur ngono kui tok. Entahlah, suka aja, mau aja kalo diajakin. Hehe... Tadi juga enggak sengaja.

Pertama kali pergi sama keluarga tentunya, sama Ayah, Ibu, adek, mbak Anik, mbah Keni. Aku terkagum-kagum waktu itu, ngerasa keren, pernah masuk keraton. Suasana waktu SMA dulu. 


Kedua, si Ninik yang belum pernah ke keraton selama setahun di Solo, betapa memalukannya , emm nggak juga sih. Tapi paling tidak perantau-perantau harus pernah ngintip dalemnya keraton dong. ^^ Karena si Daday nggak mau diajakin, dia toh nggak suka wisata yang seperti ini, sukanya dia ya ke mall, makan, yang berhubungan dengan beginian dia kurang suka.Sedangkan Ninik kebalikannya. Dia aktif, jiwa pelancong, suka bertualang. Ia ingin mencoba wisata budaya, ke Keraton lah ia mengajakku. Sepertinya aku fleksibel, diajak ke mall, monggo, di ajak wisata air, wisata budaya, monggo asal dapet ijin dari Bapak Ibu dan sesuatu itu tidak berbahaya.
ini beberapa oleh-olehnya





ini adalah wajah gadis yg ingin segera menikah :D

ini juga hahaha

al Quran dengan terjemahan bahasa Jawa

Yang ketiga adalah hari ini. Awalnya, aku dan Ama mau pergi ke Telkom, buat ngirim fax buat Ayahnya Ama. Pas lewat keraton Ama cerita kalau dia belum pernah ke Keraton selama ini. Haddeehh... kuper sekali dia,, udah 2 tahun di Solo.. wkwk.. Pieace Ma!

Kemudian ia memintaku untuk kesana. Oke ajalah, lagipula aku juga belum bosen ke Keraton. hehe... Setelah masuk, kesan pertama dari Ama adalah, "Mistis yo Riz." Aku mengangguk.
Kami berkeliling, mengambil beberapa gambar yang pas. Bisa minta guide kalo mau. Tapi ya bayar lagi. hehe... Cukup aku saja yang jadi guidenya Ama. Hahaha...

Saat masuk ke sebuah tempat yang aku tak tahu pastinya, pokoknya yang bersandal diharap melepaskan sendalnya, tapi yang pake sepatu boleh dipakai. Mungkin ini tempat rajanya tinggal. Suatu saat aku ingin melihat tari bedhaya ketawang dari sana. Aamiin. :)

Dan ini oleh-oleh dari keraton part 3.



silsilah dari kerajaan mataram

bisa keliling daerah keraton pake delman nihh

banyak yang jualan aksesoris dan cindera mata disepanjang jalan keraton

dapet nihh,,, pembatas buku dari kulit yang bergambar wayang


tiket masuk keraton





tembok pas keraton part 2
tembok yang sama pas keraton part 3
sudah di cat ^^
tapi nggak bisa di pake foto keren lagi, haha

Raisa - Mantan Terindah

.......
Andai ku bisa ingin aku memelukmu lagi
Oh di hati ini hanya engkau mantan terindah
Yang selalu kurindukan


Mau dikatakan apa lagi
Kita tak akan pernah satu
Engkau disana aku disini
Meski hatiku memilihmu

......




Begitulah kira-kira lirik dari lagu Mantan Terindah milik Raisa. Tapi kenapa aku membahas tentang lagu ini? Yang notabene penulis adalah seorang single yang belum pernah punya mantan #curhat. 

Jadi ceritanya begini, suatu malam di sebuah kost-kost an yang bisa di bilang menyeramkan. Dilihat dari posisi yang memiliki tempat paling pojok -dekat dengan agen galon air minum- jalan yang tidak beraspal dan kecil. Bahkan ada salah satu teman kost yang bilang bahwa temannya yang pernah datang kesini melihat sesuatu. Apa itu sesuatu? Entahlah, aku juga tidak tahu dan tidak mau tahu. Aku juga tidak bertanya, saat Maika mau menjelaskan pun aku pura-pura tidak dengar. Aku termasuk cemen.

Namun bukan masalah horornya sih yang ditekankan, eh horor nggak ya? Horor? Nggak Horor? Horor? #ngitung kancing. Oke, saya putuskan semi horor.

Di kamar seorang putri cantik -anggap saja aku, hhaaaa- berbincanglah kami para penghuni lantai bawah, sambil nonton the Heirs tentunya. Secara drama the most wanted in this year gitu, apalagi ada Minhyuk dan si Sunbae apalagi Kim wo bin oppa. Eh eh ini bukan sedang bahas korea. Lanjuut...

Nah kemudian, kita sangat menikmati drama ini -sambil ngemil friedfrench dari Maika-. Sebenarnya si bisa dibilang hanya aku dan Dita yang nonton. habisnya Maika sama Lida gojegan -guyonan/bercandaan- mulu. Kami -aku dan Dita- terlihat serius dan mencoba menerka-nerka apa yang sedang mereka bicarakan. E... kami nonton streaming dari website SBS, jadi bisa dipastikan tak ada subtittle yang menyertai. Sok-sok an aja mengartikan dengan modal bertahun-tahun nonton dramKor.

Di tengah aksi nonton, seperti biasa streamingannya ngadat, kurang signal mungkin. Daripada bengong aku yang minjem HPnya Dita segera memutar salah satu soundtrack dari The heirs. 
"Anggap saja ini soundtracknya teman-teman.. hehehe..." dengan PDnya aku bilang begitu. Kebayang lah ekspresinya mereka bilang , "Ini anak nggak jelas banget.."
Lida nyeletuk. 
"Eh Riz, kamu suka dengerin lagu Mantan Terindah ya?"
"He? Nggak."
"Lha aku suka dengerin lagu itu e pagi-pagi. Kirain kamu yang mutar lagu itu, lagunya siapa itu?"
Aku mengangkat bahu.
"Lagunya Raisa," jawab Dita
"Yang mana sih lagunya?" tanyaku.
Kemudian Dita mempersiapkan suara, dan menyanyi, yaa 9:15 lah sama Raisa. Eh maaf Dit. :D
"Owalah yang itu to.." aku akhirnya paham lagunya. Kemudian kita nyanyi bareng *enggak ding, lebay*
"Beneran kamu yang mutar lagu itu pagi-pagi biasanya?" tanya Lida.
"Nggak." aku menjawab dengan santai. "Aku nggak punya lagu itu di HP," kataku kemudian sambil menunjuk-nunjuk heboh Hp samsung cham kesayangan.
"Ibuk kost mungkin Lid," akhirnya suara Maika terdengar.
"Tapi biasanya Ibuk kost itu lagu-lagunya religi taukk.." ucap Lida.
"Atau mas wawan -anak ibi Kost- ?" kataku
"Mas wawan tuh biasanya musik-musik metaaaalll!" kata Dita sambil mengangkat tangan dan menekuk jari tengah dan jari manis.
"Iya siihh..." ucap Lida pasrah, sepertinya dia sedang memikirkan sesuatu. Setelah aku mencoba membaca pikirannya....
"Jangan-jangan....... Bukan kita semua Lid?" aku membuat kesimpulan sesuka hati.
"Lha teruuus?" tanya Lida.
"Hiiii... jangan-jangan......" tambah Dita.
"Ah, apaan sih, udah deh, positif thinking aja."
Pembicaraan kita berakhir tanpa kesimpulan. Biarlah kami berhayal masing-masing,apa yang sebenarnya terjadi.
@@@

Keesokan harinya, aku memutuskan untuk olahraga pagi. Mencuci. Gilaaakk... Banyak nian cucianku rek. Daripada borring, mending dengerin Prambos, ada Gina in the Morning yang bisa membuat suasana pagi menjadi cerah ceria apalagi ditemani kak Gilang. Huhuuuuuuuiiiiyy...

Beberapa lagu telah di putar. Aku memasukkan detergen ke dalam rendaman baju semalem. Siapa tahu tadi malem detergennya kurang, soalnya banyaaak bingit. Aku mencuci sambil mendedangkan lagu, enak sekali. Lagu berikutnya, ternyata lagu mantan terinda dari Raisa. Aku dengan santainya menyanyikan reffnya. Kemudian aku merasa ada yang aneh di lagu ini.

Apa ya? Ah iya, percakapan semalem. Aku tahu jawabannya. Siapa yang memutar lagu Mantan Terindah, bukan ibu kost, bukan mas wawan apalagi, sesuatu, tapiiii............. aku. Iya, aku. Lida tidak salah dengar. Aku juga nggak salah loh, aku kan emang nggak punya lagunya. Tapi aku muter prambos tiap hari, daan tau sendiri prambors itu tiap hari lagunya sama. Jadi kesalahan adalah padaa.... ingatanku, lagi-lagi ingatanku. :) Manusia itu memang suka lalai. 

Aku menceritakan jawabannya pada Lida dan ia tertawa.

zya
14-12-13

Minggu, 08 Desember 2013

The First Journey naik Kereta

Sepertinya judulnya memang nggak banget, perlu ya diabadikan? Pertama kali naik kereta? Atau bahkan ada yang menertawakan, haaa?? belum pernah naik kereta? Seriusan?? Ya, memang saya belum pernah naik kereta. Dan gimana perasaan saya? Lumayan deg-deg an. Hahaha... 

Hari ini, 8 Desember 2013, hari ahad, saya memiliki sebuah agenda. Ikut aksi 1000 koin untuk jilbab polwan. Nah dikarenakan nggak ada temen akhwat yang lain, aku nggak jadi ikut. Dan hari ini, Ama ngajakin aku ke JOgja. Ketemuan sama anak-anak PSMKGI yang kebetulan datang di acara seminar dan LKTI di  UGM. Setelah Ama bilang mau naik kereta, aku sangat exited, sangat tertarik. Secara aku belum pernah naik kereta sebelumnya. Daripada di kost an sendirian juga, soalnya yang lain pada naik gunung Lawu. Aku nggak boleh ikut sama Bapak Ibu, katanya sih hujan-hujan, bahaya, nggak usah aneh-aneh, nanti aku sakit,, bla bla bla...........

Kegalauan melanda, nggak tau mau berangkat kapan, aku udah stand by melek dari pagi, takutnya berangkat pagi. Pukul 9 aku memutuskan untuk mandi di sela-sela nonton film Sang Pencerah (untuk yang ketiga kalinya, sumpah Lukman Sardi keren bingit.. ^^). Ama sms, kita mau berangkat pukul 10, naik kereta Sriwedari Express AC. Ealah, aku udah siap mau berangkat jam setengah 10, dia malah baru nyetrika baju. Biasa Ama sama Wahyu itu waktu indonesia bagian ngaret. Hehee.. Peace! 

Sesampai di sana, ternyata kita berempat. Ada Sofie, temennya mereka di PESMA. Karena kita sampai pukul 11, maka kita beli tiket yang jam 11.17. Menunggu lah kita. Sambil membayangkan betapa serunya naik kereta. Udah kayak nunggu di peron 9 3/4 aja. Lumayan banyak penumpang yang mengantri. 

Waktunya kereta tiba. Kami bersiap-siap menunggu di bagian pinggir. Ah, sebentar lagi nih, pengalaman naik kereta. Hehehe.... Aku dapet tempat duduk yang lumayan pewe lah, sebelahku bapak-bapak depanku mas-mas yang lumayan kece. Haha... Jadi kan ada yang bisa dilihat selain layar hape dan pemandangan di luar jendela. Walaupun habis itu harus beristighfar banyak-banyak. Bukankah pandangan kedua itu bukan milik kita? :D
tiket kereta api pertama yang aku punya 

Ama duduk di seberang kanan. Entah kenapa aku sibuk memandangi tiket melulu. Hihihi... Mungkin karena aku terlalu 'ndeso' sehingga cuman kertas gitu aja diliatin melulu. Masih terbawa kesenangan naik kereta. Memandangi jendela sesekali dan ngepoin bapak sebelah yang punya HP 3 biji. Android, BB, sama samsung yg murah. Eh, ketemu si Ghani yang mau pulang kampung, jadi merasa bersalah tadi nggak jadi ikut aksi, dia yang ngajak sih. Ya habis gimana lagi, masak aku sendirian? afwan ya Ghan. ^^

Pas mbak-mbak dateng menawarkan makanan dan minuman menggunakan troli, berasa di film Harry Potter deh. Kemudian bapak pegawai kereta memeriksa tiket dengan melubangi tiket kami. Kalo ini seperti di film kartun qucky express atau apa gitu lupa...

Ibu-ibu di sebelah mas kece baik banget kayaknya, ramah gitu. Nawarin permen ke mas kece, trus bangunin mas kece saat ada petugas kereta api mau meriksa karcis. :) Semoga masih banyak orang-orang yang care sama orang sekitar.

Sesampainya di Jogja, kita kan melewati stasiun meguwo atau apa gitu, keretanya berhenti/transit, nah Ama ngira kita turun di sana. dia nanya ke Wahyu, "Loh kok stasiun ini?" Wahyu bilang, "Nanti kita turunnya, masih ke stasiun Tugu kok."
Ternyata bener, masih ada satu stasiun lagi, maklum aku ngikut aja, soalnya nggak mudeng Jogja.

Kemudian kita turun, ternyata langsung Malioboro -sebelumnya shalat dhuhur dulu dong, dan berpisah dengan Ghani yang melanjutkan perjalanan ke Purworejo-. wuihh... Belum lihat-lihat sih, nyari makan dulu di food court. Mahal rek, hehe... Iyalah namanya juga makan di mall. Nggak papa, sekali-kali. Setelah makan, kami nunggu temennya Ama, yang belakangan aku ketahui namanya mbak Risa, dari FKG univ di Aceh. Kemudian kami jadi semacam tour guidenya mbak Risa, nganterin mbak Risa belanja oleh-oleh di Malioboro. Dan..aku dapet gelang buat dedek tercinta.

gelang kece dari malioboro
Kami menuju halte Bus depan benteng Vredenburg (CMIIW pada ejaan), dan ternyata mbak Risa bawa temen, namanya mas Andi -belakangan aku tahu bahwa, masnya udah koas-. Perjalanan yang panjang menuju UGM, karena harus naik bus 2x, 3A dan 3B, ditambah sesaknya masyaalloh. Apa karena weekend, atau emang kesadaran masyarakat Jogja untuk menggunakan transportasi umum tinggi? Who knows. HUjan pula.. beuh,, lengkap.

Sampai UGM kami bertemu banyak kakak-kakak PSMKGI. Mbak Kiki, mbak Tiara, mas Bayu, mas Zaim, dan mas Fuad si sekjen PSMKGI. :) Terima kasih telah memberikanku kesempatan bertemu orang-orang hebat, dalam keorganisasian. Lama kita ngobrol, nggak terasa waktu menunjukkan pukul 5. Kereta mas Andi sama mbak Risa jam 18.00. Nah keretaku sama Ama (oh iya, Wahyu sama Sofie tertinggal di Malioboro) berangkat pukul 17.45. Aku sama mas Andi nunggu Ama sama mbak Risa ngambil barang yang lumayan lama. Setelah pesen taksi nggak dapet-dapet, akhirnya motoran. Aku boncengan sama Ama. Lumayan ngebut. Lumayan terkejar. Mungkin saat itu wajah Wahyu sama Sofi udah muram seperti langit Jogja tadi sore -efek nunggu kita kelamaan-. 

Pas, udah sampai di stasiun, ada kejadian tak terduga. Ada bapak-bapak mindahin ranting pohon ke atas pick up tapi nggak lihat-lihat. Alhasil kena kita dong. Gimana sih Bapak ini, nggak lihat-lihat. Mana kami jatuh nggak ada yang nolongin. huft... Untung mas-mas dan mbak Risa nggak liat. Wah malunya kami. 

Setelah parkir dan ngasih kunci motor ke mas Fuad, aku dan Ama langsung lari ke pintu masuk. Wahyu dan Sofi udah nungguin. Terdengar suara CS yang memanggil penumpang jurusan Solo. Eh Ama puter bailk mau pamitan sama mas Andi sama mbak Risa. Kami udah panik se panik paniknya. Saat ke bagian pintu masuk, bapaknya bilang kereta udah berangkat. Trus ada yang bilang belum berangkat. Akhirnya kami masuk, kemudian petugas yang di dalem nanya, dan ............... ternyata klereta udah berangkat. Tiket 20rebu pun hangus. Kereta Sriwedari express + tempat duduk +AC hilang. it was gone..

Wahyu langsung bad mood seketika, karena ia masih harus pesen konsumsi buat acaranya besok -entah acara apa, i'm not sure-. Ama sama Sofie beli tiket lagi. Aku menahan perihnya goresan di kaki karena jatuh dari motor tadi, sambil memperbesar hati Wahyu yang sedang badmood.

Kami dapet tiket 18.40. Lumayan lah nggak nunggu lama. Aku permisi ke toilet dengan menahan rasa perih di kaki. Kubersihkan luka dan segera beli air minum. Secara badanku masih gemeter. Roti tadi pagi pun juga langsung kulahap habis. Beberapa lama kemudian kereta datang. Ya nggak papa lah berdiri, yang penting selamat sampai tujuan. Solo i'm comming. 

Tak lama kami berdiri, satu persatu dapet tempat duduk. Aku dan Ama merefresh tindakan bodoh kami tadi, huuuhhft... Semoga tidak akan terulang kembali. And finally, aku nyampe Solo dengan selamat, walopun dengan kaki kiri lecet, kaki kanan memar. T.T.

ini sedikit koleksi dari liburan hari ini, nggak sempet mengabadikan banyak. 
stasiun tugu Jogjakarta

habis ketinggalan kereta, nunggu lamaa

air minum penyelamat deg-deg an habis jatoh

berdiri sambil nahan perih


tiket pulang dan pergi perdana

oleh-oleh tidak lupa buat temen tutorial :)


zya 
Ahad, 8 desember 2013, sejenak melupakan laporan praktikum

Jumat, 22 November 2013

Dokter/Dokter gigi juga manusia, pasien juga manusia :)

Sempetin nulis di sela-sela Ujian blok,
Sekarang lagi maraknya kasus dokter-dokter yang kurang beruntung dalam melaksanakan praktik. Menurut saya masing-masing pribadi harusnya memandang sesuatu jangan dari luarnya saja dan jangan hanya memandang sebuah profesi itu seperti pada umumnya, jangan hanya sibuk menerka, mematenkan pikiran bahwa dokter itu hidup mewah, nggak pernah susah, tinggal beli semua keperluan. Tidaklah semuanya serba hedon seperti itu. Banyak mahasiswa FK/FKg berasal dari keluarga biasa saja. Banyak dari mereka bener-bener BERNIAT mengabdikan diri untuk masyarakat. Banyak contoh di dekat saya. Beliau tetap bersahaja, ke kampus pakai motor, berpakaian sederhana, seperti layaknya manusia biasa. Memang beliau-beliau adalah manusia biasa yang menjalankan tugas dari Sang Pencipta.

Banyak mahasiswa yang datang ke kampus dengan sederhana, karena mereka datang untuk mencari ilmu, bukan untuk datang ke fashion show, apalagi datang untuk cari pacar. Get dentist/doctor adalah bonus nanti jika kita bisa melaksanakan tugas sebagai mahasiswa yang baik.

Memang tak bisa dipungkiri, tidak semua mahasiswa yang lulus dengan nilai baik nanti bisa berbaur dengan masyarakat. Ada seorang dokter yang pernah saya temui, senyum pada pasiennya pun tak pernah. Sempat saya berfikir, apa beliau nggak lulus OSCE anamnesis? atau dulu dapet nilai berapa anamnesisnya?

Nah, dari sedikit curhatan saya di atas yang harus dilakukan oleh seorang calon dokter/dokter adalah dengan memahami apa yang dipelajari BUKAN menghafal apa yang dipelajari. Tidak serta merta dapat nilai bagus trus praktiknya NOL, tidak ada ramah-ramahnya sama sekali. Bukankah senyum itu ibadah? Walaupun sedang dalam keadaan nggak mood/sebel/galau, tetep harus profesional. Belajar sepanjang hayat adalah hal juga tak boleh ditinggalkan *ini yang bikin pusing, haha*.  Kita di masyarakat MENGABDI, bukan cari untung/cari duit. Duit itu bonus dari Alloh untuk kita. Saya mulai menanamkan mindset seperti ini sejak pertama melangkahkan kaki ke dunia kesehatan ini. Mencoba hidup sederhana seperti beliau-beliau yang tetap hebat meskipun hidup sederhana.

Ini, yang perlu diperhatikan masyarakat awam adalah belajar memahami situasi, belajar memahami profesi lain. Kita tidak tahu apa yang ada dalam benak orang lain, siapa tahu orang lain itu berniat baik, membantu sesuai dengan apa yang telah ia pelajari. Jika tidak puas, bicarakan dengan baik, nanya dengan baik, saya rasa si dokter juga akan bersikap sama. Menghadapi suatu perkara dengan pikiran jernih/dingin lebih nyaman kan?

Ayo calon-calon pengabdi masyarakat, take action, belajar memahami, bukan menghafal, mari teman-teman fkg ums siap-siap berperang untuk besok pagi! Semangat J52!!!! :)

Kami juga mahasiswa biasa yang berusaha belajar menjadi dokter yang sempurna. :) Apalagi memilih jurusan dentistry yang notabene jarang dibutuhkan masyarakat karena tingkat kesadaran mansyarakat akan kesehatan gigi dan mulut kurang. Tapi kami akan tetap berusaha jadi yang terbaik. bermanfaat bagi masyarakat banyak. :)


pengmas baren BEM U UMS


belajar OSCE