Senin, 26 Januari 2015

Bagaimana Hukum Belajar ke Negeri Kafir?


Tentang masalah safar ke negeri kafir, aku berpendapat tidak diperbolehkan, kecuali dengan beberapa syarat :

Fatwa Syaikh 'Ustaimin rahimahullah Bagi yang Ingin Thalabul 'Ilmi di Negeri Kafir.
بعض الشباب يريدون أن يتعلموا الطب وبعض العلوم الأخرى ولكن هناك عوائق مثل الاختلاط والسفر إلى بلاد الخارج فما الحل؟ وما نصيحتكم لهؤلاء الشباب ؟
“Sebagian pemuda ingin belajar ilmu kedokteran dan ilmu-ilmu yang lain, akan tetapi di situ terdapat beberapa hambatan misalnya ikhtilaath dan safar ke luar negeri. Bagaimana solusinya ? Dan apa nasihat Anda pada para pemuda itu ?”.
Jawab :
نصيحتي لهؤلاء أن يتعلموا الطب لأننا في بلادنا في حاجة شديدة إليه، وأما مسألة الاختلاط فإنه هنا في بلادنا والحمد لله يمكن أن يتقي الإنسان ذلك بقدر الاستطاعة.
وأما السفر إلى بلاد الكفار فلا أرى جواز السف إلا بشروط :
الأول: أن يكون عند الإنسان علم يدفع به الشبهات ؛ لأن هناك في لبلاد الكفار يوردون على أبناء المسلمين الشبهات حتى يردوهم عن دينهم.
الثاني: أن يكون عند الإنسان دين يدفع به الشهوات، فلا يذهب إلى هناك وهو ضعيف الدين ، فتغلبه الشهوات فتدفع به إلى الهلاك.
الثالث: أن يكون محتاجاً إلى السفر بحيث لا يوجد هذا التخصص في بلاد الإسلام.
فهذه الشروط الثلاثة إذا تحققت فليذهب، فإن تخلف واحد منها فلا يسافر،لأن المحافظة على الدين أهم من المحافظة على غيره
“Nasihatku kepada para pemuda itu agar mereka tetap mempelajari ilmu kedokteran, karena negeri kita sangat membutuhkannya. Adapun masalah ikhtilaath, maka di negeri kita – alhamdulillah – memungkinkan bagi seseorang untuk menghindarinya sesuai kadar kesanggupannya.

Pertama, hendaknya seseorang mempunyai bekal ilmu (syar’iy) yang akan melindunginya dari berbagai macam syubhat, karena di negeri kafir, mereka (orang-orang kafir) menghembuskan berbagai macam syubhat kepada anak-anak kaum muslimin hingga mengeluarkannya dari agama mereka (Islam).

Kedua, hendaknya seseorang mempunyai bekal agama yang akan melindunginya dari berbagai macam syahwat. Maka, bagi orang yang lemah agamanya tidak boleh pergi ke sana, karena syahwat akan menguasai dirinya sehingga menyeretnya ke lembah kebinasaan.

Ketiga, hendaknya orang tersebut benar-benar mempunyai keperluan yang mengharuskannya untuk safar, dimana spesialisasi ilmu itu tidak didapatkan di negeri kaum muslimin.

Apabila ketiga syarat di atas terpenuhi, silakan ia pergi. Namun apabila salah satu syarat tidak terpenuhi, ia tidak boleh pergi, karena menjaga agama lebih penting daripada menjaga hal-hal selainnya”.


Sabtu, 03 Januari 2015

Bolehkah Aku Mengkhawatirkanmu?

Asap mengepul di atas segelas kopi hitam pekat yang ada di sudut meja. Kontras dengan kertas putih yang berserakan di sekitarnya. Sesekali kertas-kertas itu bergerak tertiup angin dari jendela. Seseorang duduk sambil memperhatikan laptopnya. Ia sudah berada di posisi itu sejak setengah jam yang lalu. Hanya menggerakkan tangan untuk mengusap dagu. Ia tampak berpikir keras.

"Kau akan membiarkan kopi itu dingin Dean?" Seseorang sudah duduk di seberang mejanya.
"Heemm..." hanya itu jawaban yang keluar dari mulutnya. Dean masih sibuk memandangi layar monitor.
"Apa yang sedang kau kerjakan? Bukankah semua tugasmu sudah kau selesaikan?"
"Tck... Masih ada projek yang harus aku kerjakan."
"Baiklah, aku tak akan mengganggu," Ia pergi menuju meja kerja miliknya. 
"Sedang apa dia Rin?" tanya kawan yang duduk di sebelahnya. 
Rin mengangkat bahu, namun di matanya tersirat kekhawatiran. Ia memandang Dean beberapa lama. Kenapa aku harus mengkhawatirkannya? Rin kembali bekerja. 

Rin berlari menuju halte. Ini sudah hampir pukul tiga sore, bus yang ia tumpangi segera lewat. Ia tak mau tertinggal lagi. Ia sudah ada janji mengantar neneknya berobat. 

Sesampainya di halte, ia melihat Dean sedang melamun duduk di  kursi. Seperti banyak sekali beban yang mengantri masuk ke dalam kepalanya.
"Dean," sapa Rin.
Dean menoleh, "Rin," ia tersenyum.
"Kenapa kau akhir-akhir ini? Nggak enak badan?"
"Enggak kok, banyak pekerjaan aja. Bus kamu sudah datang tuh," Dean menunjuk bus yang akan Rin tumpangi. Rin menoleh.
"Ya sudah, aku pulang dulu ya, bye!" 
Dean mencoba tersenyum dengan hangat. Rin dengan berat hati meninggalkannya dan memasuki bus.
"Aku yakin ada yang tidak beres dengannya. Tak biasanya ia mendiamkanku seperti tadi," Rin memikirkan Dean sepanjang jalan.

Rin menghidupkan lampu kamar. Ini hari ketiga ia melihat Dean murung. Dan ia belum mendapatkan jawaban dari masalah apa yang dihadapi Dean. Tiga hari ini Dean selalu muncul dikepalanya. Entah apa perasaan itu, Rin tak tahu. Ia beberapa kali menganggap bahwa ini hanya simpati. Ia merasakan kesedihan bila melihat wajah pria berkacamata itu murung. Sebelum Rin menutup mata, mengakhiri hari yang melelahkan ini, Dean masih menempel diingatannya.

"Dean nggak masuk?" tanya Rin.
Salah satu teman kantornya mengangguk. "Aku kemarin melihat Dean kena omel sama manager, mungkin dia membuat kesalahan."
Rin merasa ada yang tidak beres, ia memutuskan untuk menelfon Dean.
"Kau dimana?" tanyanya setelah terdengar suara Dean mengangkat telfon.
Dean diam sejenak.
"Dean? Kau masih di sana kan?" tanya Rin.
"A...Aku di rumah sakit."
"Rumah sakit? Kau sakit? Sakit apa?" Rin menghujani pertanyaan.
"Bukan.." jawab Dean lirih.
"Lalu siapa yang sakit?"
"Ayahku."
Tanpa pikir panjang, Rin pergi ke rumah sakit tempat ayah Dean dirawat. 

Rin berlari menyusuri koridor, ia terlihat khawatir. Dean mengatakan bahwa ayahnya sedang menjalani operasi. Ia mencemaskan Dean.

Ia menemukan Dean berdiri mondar-mandir di depan ruang operasi. Rin mempercepat langkah. Wajah yang ingin ia temui, wajah yang ingin ia hibur, sudah ada di depan mata.

"Dean."
"Airin..."
"Bagaimana? Belum selesai?" tanya Rin.
Dean menggeleng.
"Bagaimana bisa terjadi, bukankah ayahmu sangat sehat?"
"Dia.. diaa... merahasiakan penyakitnya dariku. Dia, menganggap aku masih anak kecil yang tak tahu apa-apa," mata Dean berkaca-kaca. "Ia bilang tak ingin membuatku sedih, tapi apa akibatnya, hal ini lebih membuatku sedih," Dean telah mengeluarkan air matanya.
"Dean...." panggil Rin lirih. Ia ingin sekali memeluk Dean saat ini. Mungkin pelukan akan sedikit membantu menghangatkan perasaannya kali ini. Tapi apa daya, Rin bukan siapa-siapa yang berhak menyentuh tubuh Dean seenaknya. Keyakinannya memiliki batasan. 
Rin menjulurkan sapu tangan untuk Dean. Rin tak menyukai pria cengeng, namun kali ini, ia telah di buat sedih oleh Dean. Ia ingat perkataan teman sekantornya yang menceritakan bahwa Dean kena marah oleh manager. Betapa terluka hatinya saat ini. Hal ini semakin membuat Rin sesak.

Rin kembali membawa dua teh panas menuju ruang tunggu operasi. 
"Ini minum dulu Dean. Tenangkan harimu."
Dean yang sedari tadi duduk melamun menerima minuman yang Rin berikan.
"Terima kasih."
"Kau tahu, aku pernah mengalami hal yang sama denganmu," Rin memulai percakapan setelah hening beberpa saat.
Dean berhenti meminum tehnya.
"Saat itu, aku sedang sibuk dengan skripsiku. Aku menghiraukan semua sms, yang masuk. Aku punya target. Aku harus segera lulus dan menyelesaikan skripsiku. Sering aku mneghiraukan telepon dari Ibuku. Aku pikir, nanti saja nanti saja, tanggung belum selesai. Dan aku melewatkan semuanya. Suatu hari aku sempat mengangkat telepon dari Ibu, namun kabar buruk yang aku terima. Ibu masuk UGD. Kau tahu rasanya seperti tertimpa batu besar di kepalamu. Ternyata ibuku sudah sakit sejak lama. Aku tak mempedulikannya."
Rin diam sejenak, mengumpulkan tenaga. 
"Hal yang paling kusesali di dunia ini adalah tidak menghiraukan panggilan ibuku. Aku hanya bisa bersamanya di saat-saat terakhirnya saja. Kau beruntung, tidak pernah jauh dari orang tua.Jadi jangan beranggapan kau adalah makhluk paling merana di dunia ini. Terus berdoa untuk kesehatan Ayahmu. Allah pasti memberikan kembuhan baginya." Rin melebarkan senyuman di akhir kalimatnya.
Dean membalas senyuman hangat itu.
Dokter dan perawat keluar dari ruang operasi. Dean segera menghampiri dan memberikan pertanyaan bertubi-tubi kepada dokter yang merawat.
Rin masih duduk memperhatikan. Dokter menjelaskan bahwa ayah Dean sudah melewati masa kritis. Ah, leganya. Ia meninggalkan ruang tunggu operasi. Tugasnya sudah selesai. Ia sudah melihat Dean tersenyum bahagia. Sudah cukup untuknya. 
Selesai berbicara dengan dokter Dean menyadari bahwa Rin sudah tidak ada di tempat.
"Bodoh, kau meninggalkanku seperti ini? By the way, terima kasih untuk semangatnya Rin." 
***   
Ayah Dean semakin membaik. Dean bisa bekerja kembali. Belakangan Rin tahu alasan kenapa manager memarahi Dean. Ia tidak konsentrasi dalam membuat artikel tentang berita yang ia tulis. Sehingga ada kesalahpahaman yang mengakibatkan beberapa pelanggan yang komplain. 
Hari ini Dean ditugaskan untuk meliput jatuhnya pesawat Air Asia beberapa waktu yang lalu. Pimred memutuskan menjadikan berita ini sebagai headline news majalah tempat Dean dan Rin bekerja. 
Beberapa staff juga ikut pergi dengan Dean. Manager berharap Dean melakukan tugas ini dengan baik untuk menebus kesalahannya yang lalu.
"Ini..." Rin menyerahkan tas kertas kecil kepada Dean yang sedang memasukkan peralatan menulisnya ke dalam tas.
"Apa ini?" tanyanya.
"Snack, bekal perjalanan untukmu. Siapa tahu di sana kau kelaparan." 
Dean menerima pemberian Rin. "Makasih ya."
"Sama-sama. Hati-hati di jalan."
Rin kembali menuju meja kerjanya.
Anak itu semakin aneh. Kenapa juga ia harus memberikan snack ini kepadaku? Hanya kepadaku? Mungkinkah? Dean menggumam.
Tidak bolehkah aku mengkhawatirkanmu? Rin berbicara di dalam hati.
source: google
***
Beberapa hari sangat menyiksa Rin. Perasaan itu bukan semakin menghilang tapi semakin kuat. Rin tak pernah memintanya. Hanya mengalir begitu saja menempati lekukan-lekukan otaknya. Sesak. Jika kau merindukan seseorang yang tak akan pernah menoleh padamu. Sesak. Mengkhawatirkan seseorang yang tak akan pernah mengkhawatirkanmu. Beberapa kali ia membuka hp hendak menanyakan kabar. Tapi apa haknya? Kenapa harus tahu kabarnya? Rin bukan siapa-siapanya Dean. Mereka hanya partner kerja. Tak lebih. Jadi apa Rin berhak merindukan bahkan mengkhawatirkan Dean?


Rindu ini semakin memuncak. Rin harus menahan perasaannya sekuat tenaga. Melakukan hal-hal yang membuatnya sibuk. Untuk apa ia menghabiskan waktunya untuk memikirkan seseorang yang bukan siapa-siapa untuknya. Benar bahwa Rin memiliki perasaan yang lebih dari sekedar partner kerja. Kebaikan Dean, ketegasan Dean, dia yang memiliki kasih sayang besar ke orang tuanya, dan banyak hal dari Dean yang membuat Rin jatuh. Benar sekali kata pepatah yang bilang kita akan tahu apakah kita menyayangi seseorang bila seseorang itu meninggalkan kita.

Beberapa kali Rin mencoba untuk mendaftar keburukan-keburukan Dean, untuk menghilangkan rasa suka yang ia miliki. Rin tak boleh menyukai Dean.

Tepat dua minggu kepergian Dean, dengan usaha keras yang Rin miliki, ia berhasil untuk tidak menghubungi Dean. Ia sedikit bisa meredam perasaannya yang beberapa hari lalu berapi-api. Hanya tinggal menunggu waktu. Karena waktu yang akan mengobati segalanya.

Hari ini Dean kembali ke kantor. Ia menyapa Rin yang sedang duduk santai di lobi. tentu saja Rin sudah menyiapkan hatinya untuk tidak jatuh terlalu dalam. Karena sesungguhnya teramat mencintai itu tidak baik. terlalu banyak bumbu akan membuat suatu masakan menjadi eneg.

"Hai Rin, apa kabar? Ditinggal dua minggu udah makin gendut aja. Hahaha..." tanya Dean.
"Ih, enak aja tambah gendut. Ini sehat namanya. Kamu sendiri gimana?"
"Haha.. Aku baik. Ini oleh-oleh untukmu. Anggap saja pengganti snack yang kau kasih," Dean menyerahkan tas kertas yang ia dapat dari Rin dua minggu yang lalu.
"Wah.. makasih ya.."
"Dan ini," Dean menyerahkan sebuah amplop berwarna hijau muda.
"Apa ini?" tanya Rin sambil membuka amplop.
UNDANGAN PERNIKAHAN
Rin hampir menjatuhkan oleh-oleh yang ia dapatkan. Undangan pernikahan. Tertera nama Dean dan tunangannya, yang sebentar lagi menjadi istrinya. Inilah alasan Rin tak boleh menyukai Dean. Dean sudah memiliki perempuan. Mereka berdua bertunangan sejak lima bulan yang lalu.
"Rin... Airin?"
"Eh... iya..." Rin tersadar dari lamunannya.
"Datang kan? Acaranya tiga minggu lagi," Dean memberikan senyuman.
"E..I..Iiyaaa lah pasti. Selamat ya. Semoga langgeng." Rin membalas senyuman Dean dengan berat.
"Oke sipp. Aku ke atas dulu ya. Mau bagi-bagi undangan buat yang lain. Bye!"
Rin mengangguk dan tersenyum. Senyum itu berubah menjadi kesedihan setelah ia melihat punggung Dean semakin menjauh. Ia sudah tak punya kesempatan lagi. It's over. Dean sempurna milik orang lain. Air mata Rin jatuh tepa di undangan yang ia bawa. Mungkin hidup ini tidak adil, kenapa cinta bertepuk sebelah tangan itu ada. Namun Rin mengerti, kita tak boleh rakus dalam meminta. Menunggu datangnya doa yang dikabulkan dengan melakukan hal-hal yang bermanfaat. Seperti menahan kerinduan akan kehadiran Dean dengan tetap mengerjakan pekerjaan kantornya. Ia menunggu dengan sukses. Walaupun yang dinanti ternyata membawa berita buruk, setidaknya penantiannya tidak sia-sia. Ia masih harus tetap hidup dengan baik.

Tiba-tiba seseorang menjulurkan sapu tangan di depan wajahnya. Rin menoleh. Seorang laki-laki berambut cepak berdiri menatapnya sambil menjulurkan sapu tangan. Rin mengambil sapu tangan dengan ragu-ragu dan menghapus air matanya.

"Terima kasih, akan saya cuci dulu. Saya bisa mengembalikannya dimana nanti?" tanya Rin.
laki-laki itu tersenyum menyebabkan lesung di pipi kirinya terlihat jelas. "Kapan saja, restoran saya ada di sebelah gedung ini."
Rin mengangguk.
"Ngomong-ngomong ruang manajer sebelah mana ya? Beliau memesan beberapa makanan," kata lelaki itu sambil menunjuk kardus makanan yang ada di sebelah kakinya.
"Ada di atas, mari saya antar."
----TamaT----







Jumat, 19 Desember 2014

Payung Biru Brokoli

source: google
Hujan ini tak berhenti di sini saja rupanya. Sudah lima belas menit aku menunggu di koridor sekolah. Berharap dia datang kemudian berbagi payung denganku. Ah, beberapa hari ini dia selalu menghindariku. Tak pernah sekalipun membalas sms ataupun sapaanku. Ada apa denganmu? Biarlah dulu, mungkin dia butuh waktu untuk sendiri tanpa diganggu siapapun.
“Flo...”
Seseorang memanggilku. Reno, berdiri di sampingku sambil mengulurkan sebuah payung. Dan sepertinya aku kenal pemiliknya.
“Surya nitipin ini buat kamu,” katanya.
Aku menerima payung biru bertuliskan nama sebuah bank –ketahuan banget kalau dapetnya gratisan-. “Mana teman sebangkumu itu?”
“Udah pulang duluan. Kalian kenapa sih? Aku lihat akhir-akhir ini kalian renggang. Biasanya kan tuh bocah pulang bareng kamu.”
Aku mengangkat bahu. “Tanya aja sendiri. Makasih ya, aku pulang dulu!”
Aku meninggalkan Reno yang sedang bingung. Tuh kan, orang lain aja merasa kalau aku dan Surya si brokoli itu sedang renggang.
Aku memilah-milah jalan mana yang harus aku lewati, hujan lima belas menit ini telah berdampak buruk buat lingkungan sekitar. Genangan air di mana-mana. Mungkin juga penataan selokan yang buruk menambah parah situasi ini. Jadi inget, dulu saat kami –aku dan Surya- masih baluta alias bawah sepuluh tahun suka sekali main hujan. Walaupun di tangan kami ada payung, tidak kami gunakan. Ibu selalu marah-marah jika aku pulang bareng Surya diwaktu hujan. Ibu pasti tahu, malamnya aku akan bersin-bersin sampai membuat Ayah dan Ibuku tidak bisa tidur.
Aku dan Surya sudah berteman bahkan bisa dibilang bersahabat sejak kecil. Aku tak punya saudara di rumah. Surya hanya punya nenek yang yaah bisa dibilang sakit-sakitan (penyakit tua). Dan saat kami menginjak 12 tahun nenek Surya meninggalkannya untuk kembali ke Sang Pencipta. Ia sempurna tidak memiliki siapapun di dunia ini. Aku menjadi semakin sayang kepadanya. Untungnya Ibu bersedia membagi kasih sayangnya untuk Surya. Namun ia tak mau meninggalkan rumah tercintanya itu. Ini salah satu-satunya peninggalan neneknya.
Tapi, apa balasannya akhir-akhir ini. Huuh... Dia malah menjauh dariku. Padahal untuk saat ini aku sangat membutuhkannya. Aku mengikuti sebuah lomba karya ilmiah. Brokoli jenius ini sangat mengerti tentang tema yang dilombakan. Tanaman. Tentu saja aku sangat butuh bantuannya. Rumahnya saja sudah seperti hutan. Ia pantas dijuluki sebagai brokoli jenius penyelamat hutan.
Perjalanan pulang aku penuhi dengan mengutuki Surya. Awas saja kalau aku ketemu dengannya. Akan kulempar dia ke negeri pohon sana. Astaga bahkan aku tidak bisa tidur sekarang karena masih memikirkannya. Beberapa kali aku mencoba memejamkan mata dan beberapa kali juga berpindah posisi dari miring, posisi janin, tengkurap dan yang lainnya. Bahkan sempat mau coba tidur dengan kepala di bawah. Apapun itu aku coba untuk tetap bisa tidur.
Surya benar-benar membuat aku gila kali ini. Aku mencoba mengirim sms yang mungkin tidak akan dibalesnya juga.
Heeyyy brokoliii....
Terkirim. Nggak berharap juga di bales. Beberapa detik kemudian ada sms masuk. Astaga... Dibales... Aku segera membukanya dan ternyata sebuah sms penipuan minta transfer uang. Oh, ya ampun apa pula manfaatnya kirim sms beginian mengganggu orang saja. Tanpa pikir panjang aku matikan saja handphoneku. Aku sudah terlanjur sebel.
Aku mencari buku diariku di laci. Sudah lama aku tidak menulisinya. Mencurahkan semua perasaanku. Kubuka lembar demi lembar dan sedikit tertawa karena dulu ternyata aku alay banget menaggapi sesuatu. Namun tanganku terhenti membalikkan kertas. Tulisan tangan Surya. Aku ingat dia dulu maksa meminjam buku diariku. Padahalkan ini sangat vital bagi perempuan. Karena dia sudah aku anggap sebagai saudaraku sendiri jadi aku memperbolehkannya. Kemudian ia menuliskan janji-janji. Bahkan janji-janji ini aku ragu dia akan menepatinya lagi.
Kau tahu Flo, aku beruntung mempunyai sahabat sepertimu. Kau selalu memberikan warna dihidupku. Entah bagaimana caranya aku berterima kasih. Tapi aku benar-benar berterima kasih atas semuanya. Kau tempatku bersandar. Kau tempatku belajar arti keceriaan, kau tempatku belajar arti ketulusan. Kau tempatku belajar semuanya.
Ijinkanlah aku juga menjadi tempat yang nyaman untukmu. Aku akan selalu ada jika kau butuh. Aku akan selalu berhenti dari kesibukanku untuk mendengarkanmu. Aku berjanji akan lakukan itu Flo.
Air mataku jatuh tepat di bawah kalimat terakhir.
“Apa kau tak ingat ini Brokoli? Apa kau sudah melupakan janji-janjimu ini?”
Kemudian aku tertidur sambil memeluk buku diari kecilku. Aku terlalu lelah.
***  
Lagi-lagi aku berangkat sendirian. Aku melewati rumah Brokoli. Terlihat sepi. Kelihatannya dia sudah berangkat.
“Sampai kapan kau akan menghindariku brokoli???”
Aku selalu suka memanggilnya seperti itu. Rambutnya yang keriting seperti brokoli serta kesukaanya terhadap tumbuh-tumbuhan semakin membuat dia mirip dengan brokoli. Ah, aku rindu memanggilnya dengan itu secara langsung.
Saat istirahat aku memutuskan untuk pergi ke taman sebelah perpustakaan. Tempat di mana aku dan Brokoli itu menghabiskan sisa istirahat. Saling mengejek atau belajar bersama. Kami memang tidak satu kelas, makanya berbagi dengan siswa kelas lain tentang pelajaran itu selalu menyenangkan.
Apa aku tak salah lihat? Surya sedang duduk membelakangiku di bangku yang jaraknya sudah hanya beberapa meter dariku. Apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus melabraknya sekarang? Tidakkah ini kesempatan yang bagus? Aku memberanikan diri mendekatinya, tinggal dua langkah lagi, tiba-tiba Surya berdiri dan berbalik. Kami saling tatap terkejut, kemudian Surya membuang pandangannya.
Aku harus menyelesaikan masalah ini. Dia tak bisa seenaknya memperlakukanku seperti ini. Aku juga punya perasaan. Ia hendak berbalik dan berjalan menjauhiku.
“Hei brokoli!!! Diam di sana!! Ini permintaan!!! Tidakkah kau merindukanku??”
Surya tak bergeming dari tempatnya berdiri.
“Heii!!! Mana janjimu kau selalu ada untukku, berhenti sejenak dari kesibukanmu dan mendengarkan keluh kesahku. Mana? Aku menagihnya sekarang. Bukankah janji adalah hutang?”
Sekali lagi ia tak bergerak sesentipun.
“Apa salahku? Bilang saja, aku akan dengan lapang dada menerimanya. Surya... Aku mohon...”
Sesak sudah, air mataku seenaknya jatuh. Dan kubiarkan ia mengalir sesukanya. Agar Surya mengerti, agar ia tahu aku benar-benar tulus memintanya kembali.
Surya mendengar isakanku, kemudian ia berbalik menatapku.
“Kau mau tahu jawabannya?” tanya Surya yang akhirnya membuka mulutnya.
Aku mengangguk sambil menyeka air mata.
“Karena kau telah mencuri hatiku...”
Aku langsung menatapnya tajam.
“Yaa, akhir-akhir ini aku menyadarinya. Sebenarnya apa yang aku rasakan padamu. Aku melihatmu bersama Ray dua minggu lalu. Kalian semakin dekat karena hal itu, aku semakin tak bisa tidur memikirkanmu Flo. Ya, aku cemburu. Sangat cemburu.”
“Mungkin kamu hanya cemburu sebagai sahabat Sur. Maafkan aku.”
“Tidak Flo. Aku sudah memastikannya berulang-ulang. Aku takut kehilanganmu. Rasanya beda saat kau dulu dekat dengan Weni. Sampai dulu bahkan kau melupakan janjimu main bersamaku. Dan kau main bersama Weni. Tidak, seratus persen beda. Kau hanya tak mengerti Flo.”
“Tapi kau tahu kan aku tak akan mengencani sahabatku sendiri. Rasanya akan berbeda. Dan aku menyayangimu selamanya sebagai sahabat Sur.”
“Iya aku tahu, sangat tahu. Maafkan aku telah mencintaimu Flo...”
Kami diam beberapa menit. Hanya berdiri, menatap jauh kemanapun, asal tidak menatap lawan bicara.
“Lalu, kenapa kau malah menjauhiku?”
“Karena aku tahu, kau tidak akan menyukainya. Jika bersamamu terus, rasa cinta itu akan tetap ada Flo. Maka sebentar saja aku berusaha menjauhimu untuk melupakan perasaan liar yang muncul dari hatiku kepadamu.”
“Tau kah kau jika hal itu malah menyakitiku Sur?”
“Maafkan aku. Aku juga tahu, aku semakin tak bisa berkonsentrasi dengan pelajaran dan hal apapun karena ini.”
“Tetaplah ada disampingku, tidakkah kau mencoba untuk berdamai dengan perasaanmu? Tidak bisakah aku hanya menjadi sahabatmu dan adikmu?”
Surya diam. Ia menatapku lamat-lamat.
“Surya... Kali ini aku memohon padamu.”
Ia menghela nafas panjang. Kemudian pergi meninggalkanku. Percakapan ini berakhir tanpa kesimpulan. Aku mengerti, mungkin ia butuh memikirkannya sendiri. Maafkan aku Brokoli. Kamu tahu sendiri alasan mengapa aku tak akan menjadikan sahabatku menjadi seorang kekasih.
Satu tahun yang lalu, aku juga mempunyai teman. Emma. Ia mempunyai sahabat kecil, Danuh. Namun, pada akhirnya mereka berdua jadian. Apa masalahnya? Bukankah hal itu baik? Bukankah mereka sudah memahami tabiat masing-masing?
Suatu hari entah karena apa mereka bertengkar hebat. Aku tak tahu persis asal muasalnya, karena memang aku tak suka menggosip. Aku hanya mendengarnya dari Emma bahwa ia putus dengan Danuh, saat aku tahu ada yang aneh dengan mereka berdua. Sampai sekarang, mereka tidak pernah akur lagi. Saling sapa pun tidak. Mereka menjadi musuh.
Aku tak tahu jika aku membiarkan Brokoli menyukaiku akhirnya akan seperti apa. Tapi aku takut, sangat takut jika Brokoli meninggalkanku bahkan membenciku.
### 
Pelajaran berakhir, tapi hujan juga nggak mau berakhir. Untung aku masih membawa payung milik Brokoli. Aku menunggunya di depan kelas. Sampai sepi sekali, ia tak muncul. Bagaimana dia pulang? Bahkan payungnya aku bawa. Setahuku dia tak punya payung lain selain payung biru hadiah doorprise milik neneknya ini. Ah, bodo amat, dia kan laki-laki, sudah 17 tahun, ia bisa mengurus dirinya sendiri.
Aku menyusuri halaman sekolah dengan masih memikirkan percakapan tak berujung dengan Brokoli tadi pagi.
“Boleh aku numpang pulang? Ini kan payungku!” Tiba-tiba seseorang sudah berada disampingku menarik-narik payung ke tubuhnya.
Aku berhenti berjalan dan memandangnya.
“Kenapa? Kau mulai menyukaiku?” Ia menyelidik.
Aku melotot.
“Sini aku yang pegang payungnya tuan putri. Ini sebagai permintaan maaf dariku. Maukah kau menjadi sahabatku selamanya sampai ke akhirat?”
Aku tersenyum dan mengangguk semangat.
Kami berjalan pulang dengan banyak bergurau sambil sesekali bermain air. Brokoli yang lebih tinggi dariku sengaja meninggikan payungnya agar aku basah kena air hujan.
“Brokolii!!! Aku basaaah, nanti kalau semalaman aku bersin-bersin Ibu dan Ayah nggak bisa tidur lagi.
Ia malah tertawa terbahak-bahak sengaja betul memainkan payung biru kesana-kemari.
“Hei Flo, selama ini aku belum memberikan julukan padamu kan. Kau seenaknya saja memanggilku brokoli. Sekarang kau kupanggil Miss Bersin. Hahahahaha...”
“Nggak mau, jelek tauukk...”
Aku memukulinya.

Sekarang Ia malah kabur membawa pergi payungnya dan meninggalkanku kebasahan. Tapi, aku lega, akhirnya kami akan tetap menjadi sahabat. Selamanya.
source: google

Kamis, 04 Desember 2014

Tari in Love

source: google
Ketika jantungmu berdebar-debar, ketika kau tak mampu berkata-kata, ketika tubuhmu mengeluarkan keringat dingin, kapan hal itu terjadi? Bertemu hantu? Menghadapi UAS? Bukan hal itu. Tapi melihatnya. Setiap kali aku melihatnya, semua gejala-gejala seperti yang aku tulis di atas menyerangku. Seperti sekarang. Dia sedang asik ngobrol dengan teman-temannya. Badannya yang tinggi besar, senyumnya yang menawan. Semuanya. Terlebih lagi sifat kesetiakawanan yang dia miliki. Aku mendapat cerita dari Shinta, temen satu kelasku bahwa dia sangat menyayangi teman-temannya.
“Kinaaan!”
Aku menoleh.
“Ada apa?” aku kembali menatap mas Ang.
“Apa sih yang kau lihat?” Rinda mengikuti arah mataku. “Oooohh... Mas Anggoro to? Kebiasaan ya, kalo suka mbok yo bilang.”
“Ssst...berisik tauk. Ngganggu konsentrasi.”
“Apa? Masak ngeliatin orang butuh konsentrasi? Ayo masuk, Bu Vizta udah nunggu. Bentar lagi kan festival, kita harus giat latihan!”
Rinda menarik paksa aku yang masih memandangi Mas Anggoro. Bener sih, aku harus segera latihan, banyak gerakan yang masih belum seragam. Satu minggu lagi kampus kami mau ikut festival tari yang diadakan oleh pak walikota.  Aku sangat menyukai kesenian yang satu ini.
Sesampainya di sanggar kami segera melakukan pemanasan.
“Minta perhatiannya sebentar anak-anak,” suara bu Vizta membuat kami terdiam. “Saya mendapatkan ide, ada tambahan pada adegan terakhir, setelah perang selesai, nanti Srikandi menari dengan Arjuna. Biar ada kesan love storynya.”
“Maaf  bu, terlambat. Tadi pas mau ke sini di panggil pak Rudi.”
Aku menoleh ke sumber suara. Mas Anggoro. Alasan paling utama aku sangat menyukainya adalah, walaupun dia laki-laki, dia tidak malu untuk ikut melestarikan warisan nenek moyang Indonesia. Ya, dia juga sangat menyukai tari tradisional. Dan pada sendra tari yang akan kami pentaskan, mas Ang menjadi sang Arjuna. Ahh,,, pas banget. Andai Srikandinya itu aku. Aku pasti menjadi peserta paling beruntung.
“Oh, iya Ang. Silahkan masuk. Baru pemanasan kok,” jawab Bu Vizta membuyarkan lamunanku.
*** 
Aku menyeka keringat. Kata Bu Vizta, kalau latihan nggak keringetan itu belum sungguh-sungguh. Jadi, ya tak apa. Yang penting aku bisa menampilakan yang terbaik. Tinggal tiga hari lagi festival dimulai. Mas Ang selalu menjadi penyemangatku untuk menjadi yang terbaik. Dia bisa, kenapa aku nggak? Mas Ang sekarang menjabat duta tari tradisional di kota kami. Aku harus bisa menyusulnya. Berlatih tari, memperkenalkan tari ke anak-anak, menjadikan tari sebagai kebanggaan Indonesia. That’s my dream.
Kurebahkan badanku di kursi sambil mengambil modul mata kuliah. Besok ada praktikum.
“Bu dokteeeeeeeerrrrrrrrr gigiii!!!”
Aku menoleh ke sumber suara.
“Calon ya, belum jadi dokter beneran. Lagipula masih semester dua. Ada apa?” tanyaku pada Rinda yang masih terlihat ngos-ngosan.
“Mbak Hapsari...Mbak Hapsari kecelakaan..!”
“Apa? Gimana keadaannya? Parah nggak? Dia masih bisa ikutan festival kan?”
Rinda menggeleng.
Aku menghela nafas. “Srikandi kami, Mbak Hapsari. Kenapa jadi begini? Bu Vizta sudah tahu?”
“Sudah,” Rinda melihat jam dinding. Sebentar lagi teman-teman pasti kesini. Bu Vizta tadi menyuruhku memberitahu kalian semua.”
Beberapa saat kemudian, anak-anak datang disusul kemudian bu Vizta. Mas Ang juga sudah ada di barisan depan. Ah, setelan kemeja dan celananya selalu pas.
“Kalian pasti sudah tahu kan berita tentang Hapsari?”
Anak-anak saling berbisik.
“Nah, apa boleh buat, karena kaki Hapsari terluka, kita harus segera mencari penggantinya. Siapa yang mau? Tiga hari harus bisa menguasai.”
Kami saling pandang. Kemudian rasanya semua mata tertuju kearahku.
“Kenapa?” kataku. Jangan... jangann... “Aku?” kuarahkan jari telunjuk ke arah tubuhku. Mereka mengangguk. Rinda malah semakin semangat mengangguk.
“Kamu kan Kin yang selama ini cepat menangkap apa yang selalu diajarkan bu Vizta.”
Aku mencari si sumber suara. Dan, yang barusan bicara menyampaikan argumen adalah mas Ang. Oh Tuhan, betapa senangnya hatiku.
Berlatih, berlatih dan berlatih. Sehabis kuliah, aku harus segera berlatih, memadatkan jadwal selama 3 hari penuh. Dan yang lebih membuat deg-deg an. Saat adegan terakhir yang mempertemukan Srikandi dan Arjuna itu lho. Membuat aku nggak bisa konsentrasi. Memandangi wajahnya. Tak hanya sekedar diam-diam. Tapi kali ini kurang dari 50cm. Bayangkan pemirsa!
Latihan yang terakhir tanpa masalah. Sepertinya sudah terbiasa dengan pemandangan aneh ini. Walopun ada beberapa yang suka salah.
Festival dimulai. Semua orang sibuk mempersiapkan diri. Semoga hari ini lancar. Aku mencari-cari mas Ang. Ah itu dia, dengan kostumnya, ia menjadi semakin menawan.
Tiba giliran kampus kami. Saat aku akan maju, ada yang menggoyang-goyangkan bahuku.
“Kinaan, Kinaan!”
Aku membuka mata. dan menoleh ke sumber suara.
“Mbak Hapsari?”
“Bangun, ayo latihan, tinggal tiga hari lagi lho!”
-TamaT-


Jumat, 05 September 2014

Rekam Medis IPM

Ini saya simpen di sini supaya nggak ilang. Semoga bermanfaat lah bagi yang mampir. Ini adalah daftar pertanyaan-pertanyaan yang harus ditanyakan dokter gigi kepada pasiennya. Menurut sumber terpercaya, dosen pembimbing tercinta drg Aryani Faizah, beberapa hal yang harus diperhatikan saat menganamnesis pasien yang memiliki kelainan pada rongga mulutnya adalah sebagai berikut:
Pemeriksaan Subyektif
1. CC ( Keluhan Utama)

  • ada yang bisa saya bantu?
  • keluhannya apa ya buk/pak/om/tante/mbah/budhe/pakdhe/beb #eh ?
  • bagian mana yang kurang nyaman?
  • jangan menanyakan 'yang sakit mana?' karena tidak semua pasien yang datang merasakan sakit. Keluhan utama pasien tidak selalu rasa sakit. Bisa tambalannya lepas, mau bikin gigi tiruan, dll.
2. PI (Keadaan Sakit Sekarang)

  • kapan mulai dirasakan keluhan?
  • apakah mengganggu kenyamanan menelan/berbicara/mengunyah?
  • bagaimana perkembangan ( lesi membesar tidak, bengkaknya membesar tidak, ukurannya semakin besar tidak?)
  • perhatikan letak lesi
  • dalam sisi yang simetris atau tidak?
  • apakah ada tanda lain? (bernanah, berdarah,nyeri)
  • sudah pernah diperiksakan? Kemana? diberi obat apa? bagaimana hasilnya? apa diagnosis dokter sebelumnya?
  • pernah muncul hal/keluhan/lesi yang sama sebelumnya?
3. PDH (Riwayat Penyakit Gigi selain yang dikeluhkan)
  • apakah pernah dilakukan tindakan pencabutan?
  • apakah pernah dilakukan tindakan penambalan?
  • pernah scalling?
  • apakah pernah ada komplikasi selama perawatan? --> bisa dipakai untuk menentukan rencana perawatan
4. PMH (Riwayat Penyakit Umum)
  • mohon maaf bapak/ibu/tante apakah pernah menderita penyakit sistemik? seperti hipertensi, dm, jantung? dalam waktu?
  • apakah pernah dirawat di RS?
  • adakah obat yang diminum dalam jangka waktu yang panjang?
  • apakah ada alergi obat/makanan tertentu?
  • apakah pernah menerima transfusi darah?
  • Biasanya kadar gula dalam darah ibuk berapa? sudah pernah diperiksakan?
  • bagi penderita yg dicurigai DM dan tidak mengakui/tidak tahu, bisa ditanyakan: maaf biasanya sewaktu malam pergi ke kamar mandi berapa kali? sering tiba tiba haus/lapar?. Ciri ciri DM ada tripoli (polifagi,poliuri,polidipsi)
  • selalu gunakan bahasa yang sopan, baik dan benar.
5. FH (Riwayat kesehatan keluarga)
  • bagaimana kesehatan gigi dan mulut ayah/ibu? pernah sakit sistemik? ex DM, hipertensi
  • bagaimana kesehatan umum ayah/ibu? pernah sakit sistemik?
  • dilarang/forbidden menanyakan Bapak/tante/mbak ada penyakit keturunan? it should be ban.. haha
6. SH (Lingkungan)
  • bagaimana kondisi tempat tinggalnya? dekat dengan TPA? Pabrik? bantaran sungai?
  • memiliki kebiasaan merokok/alkohol?
  • apakah penggunaan sikat gigi bersama-sama?
Pemeriksaan Ekstra Oral
  • pipi : simetris tidak
  • muka : simetris tidak
  • bibir : bengkak/lesi?
  • pinggir rahang : bengkak?
  • kelenjar limfatik : teraba sakit/bengkak?
Pemeriksaan OHI-S
Penetapan DD (diferential diagnosis)
Treatment Planning
Prognosis

Senin, 16 Juni 2014

PENDAFTARAN PPA FKG UMS 2014

PENDAFTARAN PPA FKG 2014 TELAH DIBUKA
MULAI 17 JUNI-24 JULI 2014

Waktu            : 08.00-14.00
Tempat           : Kampus FKG UMS.
                        Jl. Kebangkitan Nasional No. 101. Penumping. Surakarta (Belakang Solo Grand Mall)
Syarat Pendaftaran
1. Memakai pakaian rapi dan syar'i.
    Laki-laki: kemeja, celana kain, bersepatu.
    Perempuan: kemeja, rok panjang, berjilbab, tidak transparan, bersepatu.
2. Membawa foto copy KTM Sementara 2 lembar.
3. Membawa foto copy KTP 2 lembar.
4. Membawa foto 4x6 sebanyak 5 lembar.
    Laki-laki : background warna merah.
    Perempuan: backgroun warna biru (berjilbab)
5. Membawa alat tulis.

BEM FKG UMS
CP:  (089680373163) / (085722204090)
   @BEMFKGUMS

               BEM FKG UMS

Kamis, 10 April 2014

Kami Mengabdi, Kami Berbagi, Senyumku Sehatku

Assalamualaikum Wr. Wb.

Kesehatan gigi dan mulut dimasyarakat Indonesia dewasa ini, masih tergolong rendah. Kesadaran mereka untuk sekedar memeriksakan ke dokter gigi selama enam bulan sekali masih belum dilaksanakan. Tidak hanya itu, jadwal sikat gigi teratur setelah sarapan dan sebelum tidur pun belum terlaksana secara sempurna, wlaupun banyak sekali iklan produk pasta maupun sikat gigi yang mempersentasikannya.

Nah, kami mahasiswa FKG UMS berusaha untuk memberikan pengetahuan yang berharga bagi masyarakat tentang arti pentingnya menjaga kesehatan gigi dan mulut. Bagiamana cara mencegah berbagai macam penyakit yang menyerang gigi dan mulut,apa saja makanan dan minuman yang boleh dikonsumsi, cara menyikat gigi yang baik dan benar dan beberapa pengetahuan tentang menjaga kesehatan gigi dan mulut. Dengan cara mengadakan penyuluhan kesehatan gigi dan mulut, mulai dari anak-anak usia dini (PAUD/TK) sampai kepada masyarakat sekitar.

Beberapa pengalaman yang telah kami dapat adalah,
1. memberikan penyuluhan di sebuah TK di Boyolali




2. Tiga SD di Laweyan

3. Di sebuah desa di Boyolali
4. bakti Sosial di Sambung Macan Sragen


Serta masih banyak lagi kegiatan-kegiatan yang kami lakukan. Apabila teman-teman ingin memberikan hal yang serupa kami BEM FKG UMS siap membantu dalam pelaksanannya. Karena kami mengabdi, kami berbagi demi senyum sehat Indonesia. :)
Alamat:
BEM FKG UMS
Jl. Kebangkitan Nasional no 101
Penumping, Laweyan, Surakarta
fb: HMP KG UMS
twitter :  BEMFKGUMS
website: HMP KG UMS