Rabu, 27 Maret 2013

Ardhy Dwiki Pulaaaang


Hadduhuhuhuhuhuhu... Sedih coy Ardhy pulang dari IMB3. Tapi ya mau gimana lagi, saingannya Sandrina. Emang kerenan Sandrina, coba kalau saingannya kak Vina, hehe... piss!!! pendukungnya kak VIna maaf yaaa.. Andai semuanya nggak pulang. Wkkkk... Ya nggak mungkin lah emang stasiun TiVi nenek moyang gue. :D

Beruntung banget pas perform terakhir Ardhy, aku ada di rumah dan bisa lihat sepuaasnya. Soalnya di kosan nggak ada tivi. #miskin. :D
Kasihan juga Ardhy, udah merasa dia akan pulang hari itu (17/3). Sedihh banget. Awalnya nggak mau nangis tauk... eh ekspresinya itu lho, kasihan banget. Ditambah tante Shoimah mewek pas memberikan kata-kata semangat buat Ardhy, huhu... Ibuk ku juga sampai netesin air mata. Adhek aku apalagi. Huaaaa.... Ardhy, kapan bisa ketemu kamu????

Semangat yaa... tetep lanjutkan lyrical dance nya. Lanjutkan jadi coach di Riddie Dance School. Kami para fans mu setia mendukungmu! Jangan lupa belajar tari tradisional juga yaa??? Selamat berjuang Ardhy!!

sumber foto:: google

Selasa, 08 Januari 2013

Bencana --> pengingat syukur

banjiirrr.... banjiiiirrr..... banjirrr....
Apa yang ada dibenak anda saat ada kata ini? Air, kottor, sumbatan sampah, hutan gundul, tanggu bocor.. dsb..
         Januari memang sering disebut sebut sebagai huJan sehAri-hAri. Memang betul. Setelah hujan deras siang (4/1) sampai hujan rintik-rintik pagi (5/1) akhirnya Sungai Bengawan Solo meluap. Tanggul yang berada di beberapa desa tak bisa menahan air yang melebihi tinggi tanggul. Warga Kampung Sewu dan losari diantaranya yang terendam air paling tinggi, karena lokasinya yang memang dekat dengan tanggul.
         Hal ini mengakibatkan banyak rumah penduduk yang terendam air dan lumpur, kesulitan memasak, dan menderita penyakit diantaranya gatal-gatal. 
Hari Minggu malam tepatnya, tanggul mulai terlewati air sungai. PMI pun segera siap siaga dalam melakukan pertolongan. Dikarenakan saya pulang kampung, sebenernya sih pengen banget ikutan. Tapi ya mau gimana lagi, udah ada di rumah sejak sabtu sore. Pagi (6/1) bu Tutik menyuruh saya dan teman-teman untuk datang membantu. Namun hanya 5 orang saja yang bisa hadir. 
sumber:solopos
         Ada 6 orang lansia yang dibawa ke PMI untuk diberi pengobatan dan tindakan lebih lanjut. Sore (7/1). Saya dan beberapa teman, stand by di PMI siapa tahu bisa membantu di sana. Kami menyibini lansia yang masih tersisa, 4 orang waktu itu. 
Kemudian, pak Indro selaku satgana memberi perintah untuk memulangkan lansia, karena banjir sudah surut. Beberapa teman ikut ke lokasi, saya stay di PMI.
yg ada lingkaran ijo itu mbah Warini
         Namun ada satu orang mbah Warini namanya, nggak bisa pulang. Selain keadaan rumah yang masih berlumpur, beliau tidak mempunyai sanak famili. Satu-satunya yang ia punya , adik keponakan, tapi beliaunya juga sakit stroke. Jadi walhasil, mbah Warini dikembalikan ke PMI lagi.
Kasihan, beliau jadi sendirian di tenda pengungsian. Kemudian saya dan teman saya di suruh menunggui beliau sampai pagi ini. 
         Malamnya, mbah Warini nggak mau ditinggal, beliau takut. Beliau sepertinya terserang polio, soalnya kedua kakinya kecil dan kaku, tak bisa digerakkan. Beliau juga mengalami hipersalivasi dan susah bicara. Jadi saya harus berfikir ekstra untuk menterjemahkan bahasanya ke dalam bahasa jawa yang baik dan benar, hehe. Kami duduk-duduk di depan tenda sambil menunggui simbah makan. Beliau nggak mau disuapin, makan sendiri loh, Padahal kondisi tangannya juga sudah kaku. Namun yang kiri masih bisa untuk menggenggam benda. Bubur ayamnya pun disikat habisss..
        Kata mbak Yaya, perawat di poli PMI bilang, tadi malamjam satu-an, simbah juga teriak-teriak. Mungkin takut. Padahal aku sama Wulan nggak denger apa-apa *wah kebo banget ya tidurku. T.T
Pagi-pagi jam setengah lima mbak Yaya mbangunin aku dan Wulan, kami menyibin dan mengganti pampersnya. Banyak-banyak bersyukur deh yang masih mempunyai ortu sehat walafiat. Saya kasihan sama simbah. Udah lumpuh, tua, susah ngomong, nggak ada sanak famili pula. Saya, mbak Yaya dan Wulan harus berperang melawan bau yang dihasilkan dari pampers tersebut. Ya Allah, berilah kesehatan pada simbahnya, Ayah, Ibu, mbah UTi, mbah Keni, dan keluarga yang lain. Banyak-banyaklah bersyukur. Relawan tuh nggak bisa diukur dengan apapun, harus siap dengan segala macam halangan rintangan dan yang paling nggak enak adalah menghadapi bau-bauan yang tidak seperti minyak wangi di kamarku. Walaupun kami memakai masker, huft, tetep aja baunya itu lho kemana-mana. Tapi nggak papa, demi kemanusiaan, apapun bisa dilakukan. Fighting!!!!

*sumber solopos.com
*pmi Surakarta

Minggu, 30 Desember 2012

Ardhy Dwiki Oppa ^^

Hai hai... siapa nih yang suka nonton IMB sob?
Anda juga?
kece badai nih mas Ardhy
Wah saya penggemarnya banget. Apalagi ada kak Ananda Omes yang imut banget itu. Menambah semangat saya setiap hari sabtu dan minggu mantengin transTV.
Nah peserta IMB3 yang saya sukai adalah kak Ardhy Dwiki nih sob. Karena apa? Sumpeh, selain bakatnya ngedance keren banget, dia tuh imut banget, lesung pipinya itu lho, sama kayak saya sob. hehe.. ditampah lagi sixpack banget gitu. Mantep dah pokoknya.
Oppaku ini berasal dari Genteng, Banyuwangi, Jawa Timur. Sekarang lagi kuliah di UnJem sob. Dan dia merupakan coach di RIDIE DANCE CLASSES.
 Semangat buat mas Ardhy Dwiki. Doaku menyertaimu!
tidur aja masih kece lho.. ini mas Ardhy

Sabtu, 29 Desember 2012

Lirik Nidji - Di Atas Awan Kita kan Menang

Cinta satukan hati
kuatkan jiwa
hadapi dunia
segala cinta dan duka
kuatkan semua persahabatan

reff
kita penantang impian diatas awan
kita kan menang
kita penakluk dunia diatas awan
kita kan menang, menang

bila merasa sedih
ingatlah bahwa kau tak sendiri
tanpamu tak akan sama
tanpamu semua berbeda
kisahmu juga kisahku
selalu bersama

back to reff

melangkah
dibawah mentari yang sama
mencari tempat kita dimasa depan
berjanji kita tak akan putus asa
walaupun semua takkan mudah

back to reff

Rabu, 26 Desember 2012

Tragedi roti basi

Cerita ini saya dapet dari temen gila gilaan saya. Emang paling gila dia. Haha...
Dipagi hari yang cerah, dia nggak sempet sarapan nih sob pas mau berangkat kuliah. Dia sempet makan secuil sama temen saya yang satunya. Nah sampe di kampus, --kebetulan lagi istirahat-- roti itu dibuka lagi.
"Eh, aku punya roti..." kata Daday, nama temen saya pada temen2 kampusnya.
"Paling juga roti basi, hahaha..." jawab temennya.
"Ih, enggak tauukk," tanpa pikir panjang Daday reflek melihat tanda exp-nya. Taraaa... Ternyata kedaluarsa beneran sob, gilak. haha... 
Daday langsung bermuka kecut cut kayak jeruk nipis. Dia nggak bilang ke temennya lah, tengsin atuh. 
Waktu tuh roti mau dimasukin, tiba-tiba mak bedunduk ada temen cowok yang langsung ngerebut tuh roti basi. Tanpa ba bi bu langsung melahap abis rotinya.
Walhasil Daday memperhatikan tuh cowok sepanjang jam perkuliahan, takutnya tuh bocah men***t gara-gara roti basi miliknya.

Jumat, 21 Desember 2012

Mbah Kung's Story


                Pada suatu malam, entah awalnya ngomongin apa lupa, Ibu bercerita tentang sepenggal kisah mbah Kung dulu. Begini ceritanya.
Hari itu mbah Kung –sekarang sebut saja Sugeng kecil, bertengkar hebat dengan Ayahnya. Kenapa? Karena Sugeng kecil tak diperbolehkan melanjutkan sekolah setelah sekolah dasar. Ayahnya menginginkan dia cukup menjadi polotikus lokal, atau istilah sederhananya perangkat desa saja seperti Ayahnya yang seorang kepala desa. Otomatis anak laki-laki yang haus akan pengetahuan ini ingin mencicip dunia luar. Naluri lelakinya keluar. Ingin berpetualang, ingin mencari sesuatu di luar sana, mencari segudang ilmu yang menantinya di sana. Diluar desa di atas gunung, yang dikelilingi hutan lebat, bahkan kalau mau ke jalan besar harus jalan kaki jauh sekali, lebih dari lima kilometer.
Wajar kan, kalau Sugeng kecil ingin mencoba hal baru? Pertengkaran itu berakhir dengan kepergian Sugeng kecil dari rumah. Ya, dia lari dari rumah, minggat. Entah kemana ia pun tak tahu. Sampai pada akhirnya ia bertemu sebuah rombongan sirkus, bukan lebih tepatnya rombongan penari reog yang sering mengadakan pentas keliling. Karena tak tahu mau kemana lagi, Sugeng kecil memberanikan diri untuk bergabung dengan mereka.
Naas, walaupun ia diterima, namun ia tak diperlakukan sepantasnya pemain lain. Memang ia diberi makan, tapi tak se sen pun diberi gaji. Betapa kelelahannya ia pergi ke sana kemari, menari dengan semangat namun hasilnya nol besar. Mau gimana lagi, ia tak mungkin kan pulang kerumah. Bukankah ia sedang kabur? Ia tak pernah tahu Ayahnya sangat mengkhawatirkan anaknya ketiganya itu.
Suatu hari rombongan berhenti di Mantingan, daerah dekat rumahnya. Tepatnya di bawah gunung tempat dimana ia tinggal. Setelah melakukan pertunjukan, Sugeng kecil tertidur di bawah pohon dengan nyenyaknya. Lagi-lagi ia tak beruntung, rombongan reog itu pun meninggalkannya yang sedang tertidur pulas. Entahlah disengaja atau memang pemimpinnya nggak tahu. yang jelas sore itu sugeng kecil sendirian di bawah pohon. Beruntunglah ada seorang penjaga kolam renang dekat situ menemukannya.
Sugeng meminta pekerjaan kepada bapak penjaga yang baik hati itu.
“Kau bisa bersih-bersih?” tanyanya.
Sugeng kecil mengangguk dengan semangat. Keesokan harinya, ia mulai bertugas menyapu dan merapikan halaman sekitar kolam renang. Sampai pada suatu hari datanglah seorang petinggi perhuani yang melakukan pemeriksaan rutin apakah kolam renang milik perhutani ini terjaga dengan baik. Beliau herang melihat halaman sekitar kolam renang bersih. Kerja Sugeng kecil memang bagus. Kemudian Sugeng ditawari bekerja di rumah Mandor itu. Membantu menjaga hutan gitu.
Beberapa hari kemudian sang Mandor mempunyai tamu. Nah, tamu itu kenal dengan Sugeng kecil.
“Sugeng? Anaknya pak Soleman?”
Sugeng dengan gigihnya menolak  mentah-mentah. Beberapa kali adu mulut Sugeng tetap menolak pernyataan itu. Sang Mandor bertanya kemudian, Sugeng juga tidak mengakuinya.
Hari berikutnya tamu sang Mandor membawa Ayah Soleman. Sugeng juga menolak mentah-mentah ajakan pulang Ayah. Ia tetap akan tinggal di rumah Mandor dan membantu Mandor menjaga hutan. Ayah Soleman tak bisa berkutik atas keras kepala yang dimiliki Sugeng.
Sugeng tinggal beberapa bulan di rumah sang Mandor, kemudian pulang ke rumah setelah ayahnya membebaskan dia mau menjadi apa. Menjadi Mandor penjaga hutan merupakan pekerjaan menarik yang ia pilih dan dilakoni sampai akhir hayatnya. Menjaga hutan dari serangan maling-maling kayu ilegal dan bahaya lainnya.
Minggu,  2012-12-09

Sabtu, 03 November 2012

First Love

Ah, ngeblog lagi deh,, bukannya apa apa, karena modem lagi ringsek jadi dah jarang ngunjungin rumah curhatku deh,, Ini untung modem punya emak saya masih ada isinya. Hahaa...

Bahasan kali ini adalah first love (baca: cinta pertama) atao cinta monyet gitu. Anda pernah?? Saya pastinya pernah, lha ini kan mau di ceritain, :P
Gimana rasanya sobat?  So sweet ? Hurt? Atau masih awet sempe sekarang? Jangan-jangan bertepuk sebelah tangan? hehe...

Kalau saya beruntung sobat, walaupun saya baru tahu beberapa bulan yag lalu, ternyata first love saya tak bertepuk sebelah tagan sob!

Siapa dia? Wah, rahasia juga sih sebenernya sob, :) Yang jelas dia yang pertama kusebut cowok ganteng, sebenernya aku lupa pernah nyebutin kalo dia ganteng apa enggak. Ini sih cerita mbakku. Pas TK dulu, aku suka nyeritain dia, aku bilang dia tuh ganteng. Haha... Ajaib, kebanyakan nonton sinetron ya saya. Masih TK udah ngerti mana cowok ganteng mana cowok jelek. Ah tak ape, yang penting kan wajar, saya berarti normal. Ahihihi...
Dilanjut kita pisah di SD, sebenernya deketan. Karna nama kita tuh mirip, jadi sejak itu di jodoh2in lah kita. Udah sesama jadi ketua kelas, nama miripan, ckckc... lengkaplah sudah..
Then, in the 4th class, SD kita dijadiin satu, karna kurang murid gitu. Jadinya satu kelas sob! Makin gencar lah itu dijodoh2in.

Namun, karena ada satu murid baru yg cantik, perjodoh2an ini semakin mereda. Hehe... Muncul lagi, setelah kelas 6 itu diadakan Kemah Bakti. Kita sama2 jadi ketua, sama2 dapet juara pertama. Ajib kan? Haha... Di situ juga aku pertama kali ngomong sama dia, dia pengen dibuatin tali tongkat biar bisa di panggul. Aku mah oke oke aja, hehe...

Kemudian tahun demi tahun berlalu, saya kan sekolah di luar, maksudnya jauh dari rumah, di Espero rembang, my beloved JHS. Suatu hari, sepupuku ngasih aku gelang, katanya sih dari si Doi, tauk, bener apa nggak. Masih ada tuh di laci.^^

Tahun demi tahun berlalu kembali, setahun yang lalu, he found my FB. Ah, disirulah kedekatan kami bermula. Mulai dari minta nomo HP dan an confession. Dia ngaku suka sama aku dulu, dan masih sampai sekarang. Gyaahhaa... Merinding disko bener atuh,, Seenggaknya nggak bertepuk sebelah tangan walaupun nggak ada pengakuan dari saya. :) Karena saya mash tetap menjunjung tinggi No Pacaran until Married. ^^

Saya harap dia menemukan tambatan hatinya yang lebih baik dari saya, itu doaku. Aamiin. Nah ini first love saya, seperti apa first love mu sobat???